Pekan Budaya Tionghoa Sebagai Ruang Negosiasi Identitas Tionghoa–Jawa

by -
Pekan Budaya Tionghoa Sebagai Ruang Negosiasi Identitas Tionghoa–Jawa
Foto Seremonial Pekan Budaya Identitas Tionghoa - Jawa

Oleh : Serevina Rikel Carroland Ginting
Mahasiswa Pascasarjana Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) merupakan festival tahunan yang digelar untuk merayakan dan merepresentasikan kekayaan antara budaya Tionghoa dan Jawa dengan menunjukkan harmoninya. 

Acara ini digelar di Kampung Ketandan, Kawasan pecinan bersejarah yang terletak hanya beberapa Langkah dari pusat wisata Yogyakarta, yaitu Malioboro.

Serevina RC. Ginting (2026)
Serevina RC. Ginting (2026)

Awal mula PBTY ini digelar pada tahun 2005/2006, yang bermula muncul dari ide salah seorang profesor UGM saat meneliti resep masakan Tionghoa di Yogyakarta, kemudian memantik gagasan untuk mengadakan pekan budaya sebagai wadah apresiasi lebih luas.

Acara ini kemudian digagas dan diselenggarakan oleh komunitas Tionghoa di Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta yang rutin diadakan setiap tahun dalam rangkaian menyambut dan merayakan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, selama satu pekan.

Agenda Pekan Budaya Identutas Tionghoa - Jawa sepekan
Agenda Pekan Budaya Identutas Tionghoa – Jawa sepekan

Di tahun 2026 ini, momen Imlek dan Ramadhan bertepatan sehingga bisa menjadi peluang untuk mempererat toleransi antar umat beragama sehingga panitia dapat mengemas acara sedemikian rupa agar pengunjung yang berpuasa tetap bisa menikmati suasana PBTY sambil menunggu berbuka puasa dengan mengusung tema “Warisan Budaya Memperkuat Persatuan Bangsa”.

Kampung Ketadan dipilih sebagai lokasi dikarenakan jantung dari Kawasan Pecinan di Yogyakarta. Lebih dari 200 tahun, karena daerah ini telah menjadi tempat tinggal dan usaha bagi masyarakat Tionghoa.

Keunikan dari arsitektur rumah toko (ruko) khas Tionghoa kuno di Ketandan menjadi saksi bisu akulturasi yang sudah berlangsung lama. Selama festival ini berlangsung, Kawasan ini berubah menjadi pusat keramaian yang dihiasi lampion merah dan oernamen khas Imlek.

PBTY menawarkan berbagai macam atraksi yang menarik bagi semua kalangan seperti pertunjukan seni, pameran dan museum, kuliner, karnaval, dan UMKM.

Pertunjukan seni yang digelar seperti Barongsai dan Naga (Liong), serta pertunjukan Wayang Potehi, tarian tradisional dan musik. Pengunjung juga bisa melihat pameran sejarah Tionghoa di Indonesia, mulai dari alat musik tradisional, hingga mengunjungi rumah-rumah bersejarah seperti Rumah Kapiten Tan Jin Sing yang dijadikan museum selama PBTY berlangsung.

Berbagai macam jajanan khas imlek dan kuliner Tionghoa lainnya dapat ditemukan di sepanjang festival sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman rasa yang autentik. Pada bagian kuliner ini terdapat halal section dan pork section.

Sehingga pengunjung dapat memilih makanan yang ingin mereka konsumsi dengan mudah. Salah satu puncak acara adalah Malioboro Imlek Carnival, parade budaya yang memadukan unsur Tionghoa dan kearifan lokal Yogyakarta.

Kemudian terdapat ratusan gerai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang meramaikan seperti menjual berbagai produk mulai dari kuliner, kerajinan, hingga fesyen yang dapat menggerakkan ekonomi warga sekitar.

Tahapan Pekan Budaya Tionghoa sebagai ruang negosiasi identitas Tionghoa–Jawa ini yang pertama, mengacu pada Pengakuan Simbolik dan Pelembagaan (Ruang Fisik dan Seremonial), yang merupakan fondasi di mana identitas Tionghoa secara resmi “ditempatkan” dan diakui dalam peta budaya Yogyakarta melalui simbol-simbol fisik dan seremoni yang melibatkan otoritas tertinggi budaya jawa, yaitu Keraton dan Pemerintah Kota.

Peresmian Identitas Kawasan pada PBTY terjadi pada tahun 2013 oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang meresmikan gapura permanen di gerbang barat Kampung Ketandan sebagai “Chinatown mini” Yogyakarta.

Momen penting inilah yang menjadikan identitas Tionghoa tidak lagi tersembunyi dengan diberikan ruang dan legitimasi dalam lanskap kota.

Pembukaan PBTY ini konsisten dilakukan oleh pemimpin tertinggi yaitu oleh Gubernur DIY dan Wali Kota Yogyakarta yang di mana ini sebagai bentuk negoisasi tertinggi.

Bahkan pada PBTY tahun 2026 ini Sultan menegaskan sebagai “momentum perjumpaan kesadaran kolektif’ yang di mana mengangkat negoisasi ini ke ranah filosofis dan kebangsaan.

Dialog artistik dan pertunjukan (ruang ekspresi) yang menjadi tahapan paling dinamis, dimana identitas Tionghoa dan Jawa bertemu dan bernegoisasi melalui simbol-simbol seni dan pertunjukan yang secara aktif ditampilkan dan dirayakan. Sebagai contoh, atraksi khas Tionghoa seperti barongsai Liong (naga) dan wayang Potehi yang dikreasikan dengan motif batik, yang secara visual menyatukan kekuatan budaya Tionghoa (naga) dengan warisan agung budaya Jawa (batik).

Tahapan interaksi sosial dan ekonomi yang di mana melibatkan publik secara langsung dengan menciptakan negosisasi identitas melalui praktik sosial dan ekonomi sehari-hari yang paling nyata, terutama melalui kuliner dan pasar.

Kuliner budaya sebagai perekat budaya yang di mana identitas Tionghoa menegoisasikan melalui selera seperti makanan bakwan, siomai, bakmi, dan bakso yang sudah lama terakulturasi dalam lidah Nusantara. PBTY juga membuka ruang bagi ratusan gerai UMKM, tidak hanya dari komunitas Tionghoa, tetapi juga masyarakat sekitar Ketandan.

Pekan Budaya ini juga sebagai simbol Koeksistensi, yang di mana pada tahun-tahun tertentu PBTY bertepatan pada bulan Ramadhan, dijadikan sebagai kawasan “ngabuburit” dan mencari takjil bagi masyarakat Muslim, maka terjadilah koeksistensi yang paling nyata bagi identitas Tionghoa (Pecinan) sebagai ruang yang nyaman bagi praktik keagamaan Jawa untuk menunggu buka puasa.

Tahapan selanjutnya menjadi refleksi akademis dan dokumentasi sejarah (ruang narasi) yang membangun narasi sejarah yang inklusif dan memberikan legitimasi intelektual pada proses akulturasi yang telah berlangsung lama. PBTY mengungkap narasi sejarah yang menjadi pemicu untuk menggali dan mendokumentasikannya.

Seperti keberadaan tokoh Kapten Tan Jin Sing dari era Hamengku Buwono III di Kampung Ketandan yang menjadi narasi sejarah, yang memperkuat klaim bahwa akulturasi ini bukan hal yang baru, tetapi sudah berlangsung selama berabad-abad. Kemudian dengan adanya seminar dan pameran yang berkegiatan sebagai sarasehan batik peranakan atau pameran sejarah budaya sebagai ruang negoisasi di ranah wacana.

Pada tahap ini identitas Tionghoa tidak hanya ditampilkan tetapi juga dianalisis, dikaji, dan ditempatkan secara proporsional dalam narasi besar sejarah dan budaya Yogyakarta. Kegiatan ini membantu membangun pemahaman publik yang lebih mendalam, menggeser presepsi dari “asing” menjadi “bagian dari kita”.

Secara singkat, PBTY bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah proses negoisasi berlapis. Melalui pengakuan simbolik, dialog artistik, interaksi ekonomi-sosial, hingga berdialog, dan menemukan bentuk koeksistensi yang harmonis dan dinamis di Yogyakarta.

Strategi berbasis Kawasan dan regulasi pada pendekatan kebudayaan Tionghoa-Jawa ini berfokus pada pelestarian melalui penetapan kawasan dan penetapan aturan yang melindungi aset budaya. Pemerintah Yogyakarta secara resmi telah menetapkan Kampung Ketandan sebagai kawasan cagar budaya Pecinan yang memberikan payung hukum untuk melindungi kawasan tersebut dari perubahan yang dapat menghilangkan nilai sejarah dan budayanya.

Sebagai bagian dari strategi di kawasan cagar budaya, renovasi bangunan tua diwajibkan untuk mempertahankan arsitektur khas Tionghoa, dan bangunan baru juga diusulkan untuk mengikuti gaya arsitektur yang sama untuk menjaga identitas visual kawasan. Hal ini untuk memastikan bahwa akulturasi yang terwujud dalam bentuk fisik tetap terjaga.

Dalam tingkat yang lebih luas, pemerintah DIY juga secara aktif menetapkan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Gubernur DIY menegaskan bahwa pelestarian WBTB memerlukan kebijakan afirmatif yang melindungi Hak Kekayaan Intelektual Komunal, memberikan pembinaan, dan insentif ekonomi kepada pelaku budaya. Hal ini menciptakan ekosistem perlindungan yang komprehensif dari level komunitas hingga internasional.

Strategi festival dan ruang ekspresi ini menggunakan event budaya sebagai ruang pertemuan dan dialog yang hidup antara kedua budaya. PBTY menjadi ujung tombak strategi pengembangan budaya yang diselenggarakan oleh Pemkot Yogyakarta bersama komunitas Tionghoa se-Jogja yang memiliki tujuan untuk mempertahankan identitas Kampung Ketandan sebagai Pecinan dan menambah keragaman budaya Yogyakarta sebagai “ruang perenungan nilai” dan “momentum perjumpaan kesadaran kolektif” dalam merawat keberagamaan.

Akulturasi dalam pertunjukan PBTY tidak hanya terjadi secara pasif, tetapi juga secara aktif ditampilkan. Pengemasan budaya yang inklusif ini sebagai keberhasilan festival budaya, seperti yang dicontohkan oleh George Town Festival di Malaysia, yang terletak pada kemampuannya dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Hal ini diadaptasi di Yogyakarta dengan memastikan festival PBTY ini dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk ketika bertepatan dengan bulan Ramadhan, di mana kegiatan berbagi takjil dan tausiah menjadi bagian dari rangkaian acara.

Strategi revitalisasi dan inovasi seni berfokus pada upaya aktif untuk mengidupkan kembali artefak dan seni budaya yang mungkin mulai ditinggalkan dengan cara menghidupkan kembali Wayang Cina-Jawa (Wacinwa), yang awalnya hanya menjadi koleksi museum, kini di hidupkan kembali melalui pagelaran rutin yang didanai oleh Dana Keistimewaan.

Keterlibatan generasi muda dalam hal ini melibatkan dalang muda seperti Ki Rifki Adi Wijaya, yang dibimbing oleh seniman senior. Strategi ini untuk memastikan keberlanjutan seni tradisi dengan menarik minat generasi muda dan memberi mereka ruang untuk belajar dan berkreasi.

Upaya inovasi tanpa kehilangan esensi ini sejalan dengan arahan Gubernur DIY agar pelestarian WBTB mengedepankan pendekatan berbasis komunitas, khususnya generasi muda, sehingga mereka merasa terhubung dengan tradisi sebagai sumber identitas yang dapat mereka sumbangkan.

Strategi ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat memastikan bahwa pelestarian budaya juga membawa manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat dengan menekankan konsep “urip” (hidup dan menghidupi), artinya tidak hanya dihidupkan, tetapi juga menghidupi masyarakat agar produktif dan memberikan manfaat ekonomi. Pemberdayaan UMKM menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) dan dukungan dari masyarakat lokal terhadap pelestarian budaya.

Sinergi ekonomi dan pariwisata mendorong pariwisata dan ekonomi lokal menjadi keberhasilan pengelolaan kota warisan dunia, seperti George Town yang menunjukkan pentingnya membangun keunikan cerita (story telling) yang tidak dimiliki tempat lain dengan fokus kepada manusia, budaya, situs, dan sejarah.

Strategi tata kelola dan perencanaan memastikan agar semua upaya berjalan dalam kerangka yang baik dan berkelanjutan, dengan menuntut perencanaan yang integratif dan kolaboratif dalam pengelolaan antar instansi pemerintahan, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri untuk menyelaraskan kepentingan pelestarian dengan pembangunan kota.

DIY menetapkan Heritage Impact Assessment (HIA) sebagai tindak lanjut dari pengakuan Sumbu Filosofis sebagai Warisan Dunia UNESCO. Membantu mengelola risiko agar pembangunan tidak merusak nilai penting cagar budaya. Para ahli menekankan pentingnya peran aktif komunitas sebagai modal sosial dalam pelestarian yang menjadi kekuatan dalam menjaga kawasan warisan sekaligus mengembangkan ekonomi lokal yang menjadi hal yang krusial.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) tidak sekadar festival tahunan untuk merayakan Tahun Baru Imlek, tetapi menjadi sebuah ruang negoisasi identitas yang hidup, dinamis, dan multidimensional antara kebudayaan Tionghoa dan Jawa, di ruang inilah identitas kedua budaya tidak hanya bertemu, tetapi juga berdialog, bertransformasi dan menemukan bentuk koeksistensi yang harmonis di Yogyakarta.

Ia bukan hanya bukti bahwa toleransi itu ada, tetapi juga demonstrasi bahwa keberagaman dapat dikelola secara produktif yang menjadi sebagai sumber kekuatan, kekayaan budaya, dan perekat sosial yang memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota yang menjunjung tinggi harmoni dalam perbedaan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.