Oleh Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – “Tak ada rotan, akar pun jadi” peribahasa ini cukup melekat dalam perjalanan karier pelukis wanita Indonesia Kana Fuddy Prakoso (49 th) untuk melahirkan karya-karya lukis hasil penjelajahan kreativitasnya selama hampir tiga dekade belakangan.
Ia mungkin satu diantara sedikit pelukis wanita Indonesia yang tidak hanya kreatif dan produktif melahirkan karya-karya terbaik, tetapi juga kerap mengekplorasi berbagai kemungkinan bahan lukis melukis dalam menyiasati berbagai dinamika medan sosial di kanvasnya tanpa kehilangan greget artistik dan estetik sebagai karya seni.
Satu diantara banyak karya yang terbilang unik dan menarik itu baru saja di gelar melalui pameran bertajuk “Indonesian Dream” diantara belasan seniman yang berpameran di Menara Astra, Galeri Astra Lantai 5 Jalan Jenderal Sudirman Kav.5-6, Jakarta Pusat sejak 2 hingga 6 Nopember 2023 mendatang.

Karya unik dan menarik itu ia beri judul “Simbol Kebersamaan”, 150x100x200 cm, variabel dimension, tinta cina, acrylic diatas kardus, 2023 yang bertutur tentang diri sendiri, menyadari kemampuan sendiri mengajak untuk kembali ke rumah, ke rumah, Indonesia yang sangat beragam, bahwa kita luar biasa dengan percaya kemampuan kita sendiri.
Jika didiskripsikan pada negara ini di tengah-tengah gonjang ganjing sosial politik yang kini tengah terjadi, ternyata kita masih mampu bertahan meski berbagai problematika dan tantangan kedepan semakin keras untuk dihadapi.
Hal yang menarik bagi pelukis cantik kelahiran Kudus, Jawa Tengah 9 Desember 1973 ini sebagaimana disampaikannya pada semangatnews.com, kamis malam (2/11/23) ketika ia beperdian ke suatu tempat atau jalan-jalan, ia lupa membawa kertas bahkan tidak membawa kuas untuk melukis, ia tak segan-segan untuk menggunakan bahan kardus bekas kemudian menjadikan ranting kayu sebagai kuasnya.

Yang lahir kemudian terselip di dalam karya yang dihasilkannya ide luar biasa tanpa kehilangan nilai gregetnya. Tak heran jika Kana demikian panggilan akrabnya menemukan sesuatu yang tak diduganya dengan nemanfaatkan bahan apa adanya dihadapan kita seperti memanfaatkan kardus bekas sebagau bahan melukis. Praktis pekerjaan seni yang diolahnya bermanfaat terhadap lingkungan.
Melalui kardus-kardus bekas seperti mie siap sajo, kardus rokok dan lainnya yang semula bakal menjadi limbah sampah tak berguna. Justru melalui imajinasinya ternyata bisa menjadi karya yang syarat makna berisikan seperangkat nilai-nilai sebagaimana dapat kita amati dan ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam.
Dalam catatan kita, pelukis multitalenta lulusan ISI Yogyakarta dan kini bermukim di Gandaria IV Nomor 2 Kramat pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu sangat kreatif menjalankan pikirannya terlebih dalam kondisi terdesak hingga memunculkan imej pikiran solusi alternatif dalam keadaan terdesak dan mendadak sebagaimana peribahasa tidak ada rotan, akarpun jadi tanpa kehilangan fungsi dan nilai yang dimunculkan.
Sehingga cukup beralasan jika sejumlah media menyebut Kana Fuddy Prakoso merupakan sosok pelukis wanita multitalenta dikarenakan dedikasinya menciptakan karya-karya inspiratif melalui berbagai media, termasuk kardus sebagai salah satu cirinya hingga karya-karya yang lahir hasil penjelajahan kreativitas tersebut mampu menghipnotis mata publik, dan tak lupa mencari idiom idiom baru cara baru.
Catatan lain yang dapat kita telusuri pada pelukis Kana Fuddy Prakoso yang telah puluhan kali berpamaran secara kolektif dan tunggal ini ternyata juga merupakan pendiri dan pengelola ruang seni di kediamannya sebagai tempat berbagi, belajar, dan berkolaborasi bagi para seniman guna mendorong pertukaran ide, wawasan, dan teknik guna memajukan seni budaya kemudian berbagi pengetahuan dan pengalamannya dengan generasi muda, anak-anak dan remaja, untuk menanamkan nilai-nilai kreativitas dan apresiasi seni sejak dini sebagaimana tersirat melalui karya-karyanya berisikan cerminan semangat, kreativitas, dan nilai-nilai budaya di dalamnya. (*)
Catatan Redaksi :
Muharyadi, Seniman dan Jurnalis tinggal di Padang
