JAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Untuk ketiga kalinya pelukis wanita Lully Tutus (46 th) menggelar pameran tunggal sejak 22 september sd 03 oktober 2026, di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum Jakarta dengan menampilkan sejumlah karya visual hasil penjelajahan kreativitasnya,
Dalam rangkaian pameran tunggal bagi pelukis bernama lengkap Lully Tutus Pinandita ini juga diadakan acara khusus talkshow bersama kurator, Mikke Susanto yang dilaksanakan Rabu 23 September 2026.
Menurut Mikke Susanto kepada Semangatnews.com Minggu, (20/09/2026) ; ada waktu yang tidak pernah benar-benar diberikan kepada seniman. Karena, waktu kadang harus ditemukan, disisihkan, bahkan “dicuri”.

Dalam perspektif formal, waktu sering terasa begitu linear, terstruktur, sehingga dapat dikatakan produktif. Namun, dalam kehidupan seorang seniman, terutama ketika praktik berkarya berlangsung di tengah kehidupan keluarga, waktu tidak selalu dapat diperlakukan sedemikian ketat.
Tidak ada –waktu yang dialokasikan secara formal–melainkan claimed time atau waktu yang harus diambil dan diperjuangkan. Karena itu, ia cair, mengalir, mengikuti irama tubuh, pekerjaan, hubungan sosial, suasana hati, lingkungan, dan berbagai peristiwa yang hadir sehari-hari.

Bagi Lully Tutus, waktu untuk melukis muncul di antara serangkaian kegiatan keluarga. etika sedang atau selesai melakukan tugasnya: setelah anak-anak disiapkan dan diantar ke sekolah, setelah belanja keperluan dapur dan kebutuhan rumah tangga terurus, setelah perhatian diberikan kepada suami dan keluarga.
Waktu untuk berkarya mungkin pendek, terputus-putus, dan sering kali harus menunggu kesempatan. Namun, justru di tengah keterbatasan itulah tumbuh ketekunan untuk terus bekerja dan mempertahankan keberadaannya sebagai seorang seniman.
Menurut Mikke Susanto ; “Mencuri waktu” dalam konteks ini bukanlah tindakan melawan keluarga. Inilah cara Lully menjaga ruang bagi dirinya sendiri di tengah kehidupan yang menuntut kehadirannya hampir sepanjang hari.
Seharian penuh, ia berada di tengah riuh. Seharian pula “memeras” waktu, meski hanya menghasilkan sepotong garis, selembar sketsa, sepenggal objek atau sepotong warna pada kanvas yang digelar di studionya. Sampai-sampai Lully menganggap bahwa keriuhan itu adalah musik baginya.
Dalam karya “My Orchestra” Lully Tutus mengurai narasi karyanya, ia menemukan musik di tempat yang tidak selalu dianggap musikal. Tangisan anak, tawa yang tiba-tiba pecah, kegaduhan rumah tangga, keriuhan tukang kala membenahi rumah, itu semuanya bagi saya adalah bagian dari sebuah “orkestra kehidupan”. Di sanalah saya belajar tentang makna menjadi seorang ibu : sebuah pengalaman yang penuh keindahan, tetapi juga penuh tantangan. Orkestra ini tidak selalu harmonis, tetapi justru dari ketidakteraturan itulah lahir irama yang paling jujur, ungkap Lully.
Di titik inilah pengalaman Lully Tutus menemukan resonansinya dengan sosok ibu dalam puisi Chairil Anwar. Dalam “Ibu”, Chairil menghadirkan ibu bukan semata sebagai figur biologis, tetapi sebagai sosok yang dekat dengan pengorbanan, kasih, ingatan, dan perjalanan hidup anak. Ibu menjadi figur yang waktunya seolah selalu tersedia bagi orang lain. Sementara keberadaan dirinya sendiri sering larut dalam perjalanan waktu tersebut. Lully berada dalam situasi yang serupa, tetapi dengan satu tambahan penting: di tengah waktu yang terus mengalir untuk keluarga, ia berusaha mencuri waktu untuk menjadi dirinya sendiri, sebagai seniman.
Barangkali inilah pelajaran yang dapat dibawa pulang dari pameran ini : kehidupan tidak selalu perlu dibuat sunyi agar menjadi indah. Tidak semua waktu harus dikosongkan agar kreativitas dapat tumbuh. Tidak semua kesibukan adalah gangguan. Terkadang justru dari waktu yang sempit, pekerjaan yang berulang, percakapan yang terputus, tangisan anak, aroma masakan, suara langkah, kemarahan suami, glidik bandelnya anak-anak, dan berbagai keriuhan lain di dalam rumah, seseorang menemukan sesuatu yang paling dekat dengan dirinya: kenangan.
Lully Tutus menunjukkan bahwa karya seni lahir karena rasa ikhlas dan kesediaanya tinggal di dalamnya, menghayatinya, dan menemukan makna di antara kerumitan itu. Maka, ketika kita melihat karya-karya Lully, mungkin yang sesungguhnya sedang kita lihat bukan hanya lukisan tentang keluarga atau rumah, tetapi sebuah cara untuk memahami bahwa rumah adalah tempat waktu menjadi pengalaman, keriuhan menjadi kenangan, dan kehidupan menemukan keindahannya. Selamat datang di “keriuhan” rumah,” jelas Mikke Susanto.
Sementara penulis Heti Palestina Yunani menyebut ; di balik daster lusuh itu, Lully-lah yang justru menjelma sebagai prewangan untuk dirinya sendiri. Lully yang harus membantu agar dapat menghasilkan karya. Orang lain memang boleh membantunya, tapi semua berpulang ke tangan Lully sepenuhnya sebagai penanggung jawab utama. Tapi diakuinya, membantu diri sendiri itulah yang tersulit. Salah satunya, mencuri waktu di tengah riuh.
Tapi tolok ukur Lully Tutus satu : karya-karyanya. Itulah salah satu kelayakan menyebut Lully sebagai pencuri waktu paling ulung. Tanpa melipat jarak atau menghentikan jam dinding, dia sedemikian rupa berusaha merebut sebuah ruang kreativitas di antara riuh domestik. Bukan cuma dengan bekerja lebih keras, melainkan meraih sebanyak mungkin celah secara cerdas dengan waktu.
Pameran ini berbicara bahwa waktu melukis itu sepadan dengan aktivitas lainnya. Pameran ini juga mengajak kita melihat kembali hubungan antara kerja domestik, keintiman, dan produksi seni. Aspek sosiologi seni menjadi cara untuk melihat realita dan fenomena kekaryaan kreatif.
Kehidupan keluarga Lully Tutus sangat dekat dengan berbagai aktivitas sehari-hari yang menghasilkan bentuk-bentuk kerja yang seringkali tidak tercatat sebagai “produksi”. Memasak, menyiapkan sarapan, mengurus rumah, mengantar anak, berbelanja, hingga menemani suami mungkin tampak sebagai rutinitas biasa. Namun, semua itu sesungguhnya merupakan kerja yang membuat kehidupan sebuah keluarga dapat berjalan.
Di dalamnya terdapat pengelolaan waktu, perhatian, emosi, spirit dan relasi antarmanusia. “Mencuri Waktu” juga memperlihatkan bahwa riuhnya aktivitas domestik tidak selalu berarti kebisingan atau kesibukan semata. Di baliknya terdapat keintiman, percakapan, kebersamaan, konflik, perhatian, dan berbagai pengalaman kecil yang membentuk kehidupan keluarga. Dari sanalah kisah-kisah tumbuh. Lully menangkap pengalaman tersebut dan membawanya ke dalam lukisan,” jelas Heti Palestina Yunani. (muharyadi)

