Pemerintah Gerak Cepat Audit Bangunan Pesantren, Pagar Nusa Doakan Korban Al Khoziny

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Kebijakan darurat segera diambil pemerintah pusat pasca-runtuhnya bagian mushala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang menewaskan dan melukai santri. Dalam pertemuan koordinasi, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) bersama Menko Polhukam menyepakati dua langkah segera untuk mencegah insiden serupa.

Langkah pertama adalah audit struktural semua bangunan pesantren terutama yang berpotensi risiko tinggi terhadap gempa bumi dan cuaca ekstrem. Pemerintah daerah dan Kementerian Agama diperintahkan untuk segera menginventarisasi kondisi bangunan pesantren di wilayahnya. Langkah kedua berupa penyusunan standar teknis minimal bangunan pesantren, termasuk persyaratan pondasi, kualitas material, dan penilaian rutin oleh tim ahli konstruksi.

Sementara itu, di wilayah Jawa Timur, Polda Jatim mengambil langkah penting demi percepatan identifikasi korban. Kepolisian menyampaikan bahwa mereka telah mengambil sampel DNA dari keluarga santri Al Khoziny agar proses identifikasi jenazah dapat lebih cepat dan akurat. Langkah ini dinilai krusial ketika kondisi tubuh korban sudah sulit dikenali secara visual.

Aksi solidaritas datang dari organisasi Pagar Nusa, aspek komunitas yang juga terkait erat dengan dunia pesantren. Pimpinan Pusat Pagar Nusa menginstruksikan seluruh jajarannya untuk menggelar salat ghaib dan tahlil secara serentak di seluruh Indonesia sebagai bentuk empati dan dukungan spiritual terhadap korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Instruksi tersebut disampaikan melalui surat resmi bernomor 703/PP-IV/A-1/A-I/X/2025, tertanggal 2 Oktober 2025, kepada seluruh tingkat organisasi Pagar Nusa — dari wilayah sampai ranting. Kegiatan doa bersama ini diharapkan dapat memperkuat ikatan emosional antara keluarga besar Pagar Nusa dengan pesantren yang terdampak.

Ketua Umum Pagar Nusa, Muchamad Nabil Haroen, menyatakan bahwa pesantren adalah pusat keilmuan dan ruhani umat, sehingga ketika tragedi terjadi, dampaknya bukan hanya lokal tapi menyentuh seluruh jaringan. Menurutnya, Al Khoziny bukan sekadar pondok pesantren biasa, melainkan menjadi tempat lahirnya kader-kader tangguh yang berpegang pada akhlak dan ilmu.

Dalam pernyataannya, Gus Nabil menekankan bahwa doa bersama tidak sekadar ritual simbolis. Ia berharap kegiatan spiritual ini menjadi wujud nyata dari solidaritas moral dan dukungan batin bagi santri, keluarga, dan masyarakat yang ikut merasakan duka. Kegiatan doa ghaib, tahlil, dan pengajian diproyeksikan akan melibatkan santri, pendekar, masyarakat di sekitar pesantren, hingga komunitas relawan.

Para pengurus wilayah dan cabang Pagar Nusa sudah menyatakan kesiapannya untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut segera. Waktu dan tempat masih dikonsolidasikan agar semua kader bisa mengambil bagian.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan mempercepat audit bangunan pesantren agar standar keamanan bangunan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar diterapkan. Langkah audit harus melibatkan profesional teknik sipil, lembaga konstruksi nasional, dan pengawasan dari lembaga independen.

Kisah duka Al Khoziny ini mendorong pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Dari aspek regulasi bangunan hingga respon tanggap darurat dan dukungan moral, semua pihak memiliki peran penting. Semoga tragedi ini membuka kesadaran bersama untuk memperkuat keamanan fisik dan ikatan spiritual di lingkungan pesantren — agar ke depan, insiden serupa dapat dicegah dan tak ada lagi jiwa muda yang kehilangan harapan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.