Pengalaman Budaya Yang Memikat Hati “Attayang Sunset” Makasar Pada HUT ke 81 RI, 17 Agustus 2026 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta

by
Pengalaman Budaya Yang Memikat Hati Attayang Sunset Makasar Pada HUT ke 81 RI, 17 Agustus 2026 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta
Pertunjukan Seni dari Kota Makassar di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Senin Sore 17 Agustus 2026.

Laporan : Andi Muhammad Alief

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Di balik riuhnya perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, ada satu sudut yang menawarkan pengalaman budaya yang memikat hati. Yakni “Attayang Sunset” hadir sore hari, Senin 17 Agustus 2026 yang memadukan pesona jingga senja Ibu Kota dengan kekayaan seni pertunjukan khas Makassar.

“Attayang Sunset” artinya menunggu matahari terbenam, dihadirkan sebagai terobosan untuk menarik simpati masyarakat terhadap kekayaan budaya Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan.
Beberapa sanggar binaan Dinas Pariwisata Kota Makassar seperti ; sanggar seni patonro, makassar art group, sanggar sejati, sanggar datuk museng sanggar persera payung sabbea turut serta menampilkan karya-karyanya berupa ; tari karaeng galesong, tari pangngadakkang, tari 4 etnis dan tari paraga. Pagelaran ini lebih dari sekadar hiburan visual perhelatan semata, tetapi juga menjadi cermin betapa seni tradisi mampu bernapas lega dan menyatu harmonis dengan ruang publik modern.

Penulis Andi Muhammad Alief
Penulis Andi Muhammad Alief

Seiring mentari perlahan turun di ufuk barat TMII, alunan musik seperti gandrang mangkasara’ na pui-pui (alat musik tradisi Makasar) dan gerak tari khas Sulawesi Selatan mulai menyapa para pengunjung.

Attayang Sunset dibawa naungan pemerintah Dinas Pariwisata Kota Makassar pernah mengatakan bahwa perayaan kemerdekaan RI semestinya tidak bersifat absolut diisi dengan seremonial yang kaku. Maka “Attayang Sunset” dengan memadukan pesona jingga senja Ibu Kota melalui kekayaan seni pertunjukan khas Makassar, merupakan salah satu solusinya.

Istilah Attayang bermakna menunggu, dalam hal ini menunggu sesuatu yang pasti menemukan bentuk puncaknya saat penonton diajak merayakan waktu transisi sore menuju malam melalui keindahan narasi budaya. Komposisi pertunjukan seni tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menghidupkan kembali roh kebudayaan Makassar yang tegas, anggun, sekaligus hangat.

Ada beberapa alasan mengapa gelaran seni ini terasa begitu istimewa bagi para penikmat seni seperti atmosfer sore hari di TMII memberikan latar alami yang syahdu serta pantulan cahaya keemasan senja memperkuat estetika visual kostum dan tarian di atas panggung.

Menampilkan kesenian khas Makassar di pusat keramaian ibu kota Jakarta membuktikan bahwa warisan daerah memiliki daya pikat universal yang mampu melintasi batas geografis sehingga penonton tidak sekadar duduk menyaksikan pertunjukan, melainkan menikmati momen relaksasi, meresapi irama gendang, pui-pui, kacaping dan merasakan hangatnya kebersamaan di hari kemerdekaan.

Melalui perpaduan antara keindahan alam, derap langkah tari, dan alunan nada daerah, kita diajak merenungkan identitas bangsa yang kaya. Senja di Jakarta sore itu tidak hanya meninggalkan kesan visual yang indah, tetapi juga jejak kebanggaan akan warisan budaya Nusantara yang terus hidup dan beradaptasi dengan zaman. (***)

Catatan Redaksi
Andi Muhammad Alief ; Komposer, Praktisi dan Peneliti dan Mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Program Penciptaan Seni Musik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.