Pesangrahan “Ngarai Sianok” Penuh Misteri di Mata Pelukis Herisman Tojes

by -
Pesangrahan “Ngarai Sianok” Penuh Misteri di Mata Pelukis Herisman Tojes
Satu diantara ratusan lukisan Herisman Tojes berjudul, Pesangrahan, , 110x130cm,2006 – Foto : Muharyadi –

Oleh : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Hampir sembilan belas tahun silam (2006) di studio lukis SSRI/SMSR/SMKN 4 Padang, Cangkeh, Lubuk Begalung, Herisman Tojes (alm) sambil duduk saat rehat mengajar berdiskusi dengan saya perihal salah satu karyanya berjudul Pesangrahan, akrilik, 110 x 130cm,2006 yang menarik untuk dibicarakan lebih jauh dan lebih dalam.

Baca Juga : In Memoriam Herisman Tojes Pelukis Senandung Aransemen Petualang “Garis dan Warna” Itu Kini Telah Tiada

Lukisan Pesangrahan bagi Tojes, demikian panggilan akrabnya berisikan obyek “Ngarai Sianok” memiliki keindahan dan tak pernah habis habisnya untuk digali dan disiasati.

Herisman Tojes dan penulis di studio lukis SSRI-SMSR-SMKN 4 Padang suatu hari beberapa tahun silam – Foto dok : Muharyadi --
Herisman Tojes dan penulis di studio lukis SSRI-SMSR-SMKN 4 Padang suatu hari beberapa tahun silam – Foto dok : Muharyadi —

Bahkan sejumlah pelukis Indonesia menjadikan obyek Ngarai Sianok tak pernah luput dari pengamatannya untuk direfresentasikan kepermukaan sebagai obyek utama karya. Sebutlah sederetan pelukis punya nama besar di tanah air seperti Wakidi, Basoeki Abdullah, Dullah, Soewardja dan sedereyan pelukis lainnya yang mengangkat obyek ini.

Bagi tojes yang lama bermukim dan bertempat tinggal bersama kedua orang tuanya di Bukittinggi menyebut bahwa, pemberian judul karya lukis yang digarapnya selama hampir dua bulan tersebut dengan istilah “pesanggrahan” dalam bingkai artistik, dapat dimaknai sebagai “tanda” atau “penanda” sebagai orang yang lama bermukim dan bertempat tinggal di kota wisata ini sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di seni rupa, FPBS, IKIP Padang.

Di Ngarai Sianok ini pula menjadi tempat merenung dan beristirahat Tojes di sela sela waktu luangnya yang ditatapnya berulangkali seraya menatap pesona keindahan alamnya yang mampu menghipnotis mata untuk dijadikan obyek karya. Meski tidak dalam kerangka naturalisme sebagaimana yang banyak diolah pelukis lain selama ini.

Hal Ini pulalah melatar belakangi lahirnya lukisan “Pesanggrahan” berukuran terbilang besar yang digarapnya secara rinci, jelimet dalam kerangka warna minimalis dalam ranah surealis simbolik. Lihat Tojes membebaskan imajinasinya saat berkreasi mengolah karya dan tidak terpaku pada interpretasi tunggal, namun membiarkan lukisannya membangkitkan emosi dan sensasi yang kuat.

Karya yang dibalut dengan frame artistik diisi berbagai simbol di dalamnya terlihat seperti mengungkap dunia bawah sadarnya yang penuh dengan misteri, fantasi,  irasional, absurd, dan penuh simbolisme, yang turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan seni dan budaya di ranah Minang.

Meskipun awalnya terasa membingungkan publik untuk mengamatinya lebih jauh dan lebih dalam, namun melalui pendekatan yang tepat, karya Tojes tersebut bisa menjadi pengalaman untuk membuka wawasan baru tentang dunia internal dan eksternal dalam mengeksplorasi salah satu obyek alam di Minang yang begitu menawan. Apalagi lukisan ini jangan hanya dipahami secara intelektual, tapi juga secara emosional.

Dalam catatan kita dari beberapa dekade silam, banyak pelukis Indonesia yang sangat akrab dengan obyek Ngarai Sianok. Salah satunya sang maestro Wakidi yang melukisnya obyek yang sama berulangkali dengan maksud ingin mencari kepuasan yang tak pernah henti disana.

Mengapa itu bisa terjadi, karena ada fenomena menarik di dalamnya sesuai bentuk dan struktur obyek yang selama ini diidolakan banyak pelukis.

Tojes mencoba untuk masuk ke dalamnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, meski karya ini mungkin sedikit dari ratusan lukisan yang pernah lahir dari wilayah kreatiivitasnya dengan mengambil obyek nyata di hadapan yang diolah secara imajinatif.

Dalam sapuan kuasnya yang lembut dan penuh ritme pada karya Pesanggrahan memuat Ngarai Sianok terlihat benar benar indah sekalipun tidak berada dalam kerangka naturalisme murni sebagaimana yang banyak dilukis pelukis pelukis lainnya selama ini. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.