PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Saya tak menduga kota Padang, ternyata sangat indah dan menakjubkan masyarakatnya pun ramah ramah. Karena selama ini saya baru mendengar. Apalagi menatap Matahari terbenam di pantai saat terakhir di Padang. Saya mengamati seorang ibu menunjukkan kasih sayangnya kepada anaknya.
Senior saya, Profesor Morioka, memberi tahu saya bahwa kata bahasa Indonesia yang indah “pandangan” berarti “tatapan, sudut pandang, penglihatan, tatapan…” menurut kamus. Indah, bukan? Terima kasih, Padang. Tumbuhlah, anak-anak!

Begitu kesan pematung Masahito Iwano (Jepang) berkomentar kepada semangatnews.com di Galeri Taman Budaya Sumbar, Jalan Diponegoro Padang, Senin, (23/6/25).
Pameran ini sukses besar dengan banyaknya pengunjung yang datang dari berbagai tempat. Seniman lokal seperti Yulhendri mengumumkan penutupan pameran bicaranya bersahaja. Maka saya mengcapkan terima kasih karena telah mengizinkan saya ikut menjadi anggota yang sangat penting, kata Masahito jelang keberangkatan kembali ke Kyoto, Selasa (24/6/25).

Orang Padang memberi saya ruang dan waktu untuk berkarya, karena jujur saya akui mengikuti pameran 95 tahun Arby Samah saya tak membawa karya secara langsung dari negara saya Nepal, ujar Laxman Bhujel mengawali pembicaraan.
Teman teman membantu saya menyediakan tempat dan alat memahat batu yang saya buat sebagai karya patung pada pameran ini. Siang malam saya kerjakan dua patung yang diberi diantaranya Aayam, 85x26x15m Batu, 2025. Bahkan menjelang pembukaan pameran saya masih bekerja,” ujar pematung, Laxman Bhujel dari Nepal di hari penutupan pameran.
Laxman Bhujel yang murah senyum dan suka bergaul ini, meski terbata bata dalam berbahasa Inggeris menyebut, penduduk kota Padang, terkenal akan kebaikannya dan suka berteman. Saya mengakui itu semua. Mudah mudahan suatu saat saya bisa berpameran lagi disini.
“Saya senang sekali berada di Padang dan ikut serta berpameran bersama seniman seniman hebat dari beberapa negara dan Indonesia yang karya karyanya sangat bagus untuk ukuran internasional, ujar Laxman Bhujel tersenyum.
Sementara pematung Internasional, Jorg Van Daele dari Belgia dengan karyanya berjudul “Drop Of Peace”, 40x35x10m Trapertina Blue Store, selama beberapa hari di Padang tetap merasa enjoy dan gembira.
“Saya bahagia bersama teman teman dari sejumlah negara peserta pameran termasuk dari Indonesia. Padang memang luar biasa mampu menyelenggarakan pameran seni patung dengan label internasional,” kata Jorg Van Daele.
Bila teman – teman menari di sela sela waktu pameran, saya lebih dahulu ikut serta menari. Karena bagi saya menari dan menyanyi selain mematung bisa menjadi solusi, agar lebih fresh lagi,” ujar Jorg Van Daele.tersenyum lebar.
Rosli Zakaria (Malaysia) memberikan penilaianya bahwa ; pameran ini merupakan sebuah usaha kerja keras yang amat baik terutama inisiatif dilakukan oleh anak-anak Arby Samah dan merupakan salah satu tindakan bijak agar legasi Arby Samah tetap diingat sepanjang masa termasuk dorongan dari Dinas Kebudayaan dan UPTD Taman Budayanya khususnya pemerintah provinsi Sumatera Barat memberi kesan yang baik.
Di acara pembukaan pameran oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasco Ruseimy yang sangat penting adalah adanya kurator resmi yang dapat memandu wakil gaubernur beserra rombongan untuk melihat satu persatu patung dan meminta pematungnya berbicara. Hal ini penting dilakuan kerana setiap pematung yang mempamerkan karyanya harus mampu berbicara tentang karyanya.
Soal acara Wokshop, diskusi panel dan gelaran kesenian lain hingga penginapan sampai masakannya selama kegiatan berlangsung. Semua bagus bagus, kulinernya enak apalagi rendangnya yang rasanya aduhai, ujar Rosli Zakaria doktor dan pendidik ini menguraikan.
Di Padang ada Pameran Berskala Internasional, Pemerintah Daerah Harus Berbenah
Yulhendri, seniman urang awak asal Padangpanjang yang telah 4 dekade berkarya dan berdomisili di Yogyakarta menilai ; ini pameran yang luar biasa, baik pesertanya maupun animo masyatakat untuk menyaksikan karya karya terbaik selama pameran berlangsung.
“Apalagi pameran ini melibatkan lima negara (Nepal, Belgia, Filipina, Jepang dan Malaysia) juga dari Indonesia (Yogyakarta dan Sumatera Barat) dengan karya karya terbaiknya,” ujar Yulhendri.
Saat panitia menghubungi saya dan teman teman yang ada di Yogyakarta, kami berpikiran, sekaitan pameran Internasional 95 th Arby Samah yang melibatkan peserta selain lokal juga ada beberapa nama seniman Internasional yang turut serta berpameran menduga tidak sedahsyat dan seseru ini.
Rupanya luar biasa kegiatan pameran patung internasional ini ternyata mendapat apresiasi tinggi dari publik seni tanah air dan banyak negara peserta.
Dari segi pelaksanaan pameran yang terbilang wah ini tanpa mengecilkan arti Pemerintah Daerah Sumatera Barat, sebaiknya panitia dan pihak pihak yang turut berpartisipasi seyogyanya dibantu, baik ide, pemikiran bahkan finansial, mengingat iven ini berskala internasional dan bukan pameran pribadi keluarga Arby Samah semata yang pada giliranya berpengaruh terhadap Sumatera Barat,” ujar Yulhendri yang mengaku turut membantu sedikit finansial pameran ini.
Dan yang tak kalah pentingnya Gubernur diharapkan dapat berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung, mengajak dan mengundang Kepala daerah Wali Kota, Bupati dan stack holdernya yang ada di Sumbar untuk menghadiri, menyaksikan, dan mengapresiasi karya karya seniman internasional yang berpameran. Karena ini penting demi marwah Sumbar sebagai salah satu etalase peta seni rupa nasional.
Bagaimana pun pameran besar berskala internasional ini akan berpengaruh langsung terhadap pembangunan sektor kebudayaan yang kaya nilai nilai, sektor pariwisata dengan kunjungan wisatawan domestik dan macanegara ke Sumatera Barat,” ujar Yulhendri pematung, desainer dan handicraft Indonesia. (mh)
