Prof. Farida Mayar, Guru Besar UNP Menekuni Seni Lukis di Sela sela Kesibukannya

by -
Prof. Farida Mayar, Guru Besar UNP Menekuni Seni Lukis di Sela sela Kesibukannya
Prof. Farida Mayar melukis di area Taman Budaya Sumbar

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Meski berstatus sebagai guru besar Prof. Dr. Dra. Farida Mayar, M.Pd mengaku tetap ingin eksis untuk terus melukis selain mengajar di almamaternya. Bahkan malah pengen menggelar pameran bersama dengan teman teman seniman Sumatera Barat di berbagai iven yang akan digelar bersama.

Baca Juga : Prof. Farida Mayar : Perlu Perhatian Serius Merancang dan Melaksanakan Pembelajaran Seni Rupa Untuk Perkembangan Kreativitas Anak Usia Dini

Melukis bagi Prof. Farida Mayar kelahiran Lubuk Basung 12 Agustus 1961 di sela sela kesibukannya juga merupakan upaya untuk dapat menuangkan emosi, pikiran, dan pengalaman pribadi ke dalam bentuk visual. Bagaimana pun lukisan menjadi cerminan jiwa untuk mengkomunikasikan kepada penikmatnya sebagaimana disampaikannya kepada Semangatnews.com usai upacara pengukuhannya sebagai guru besar Universitas Negeri Padang di Auditorium Universitas Negeri Padang, Rabu (22/10/25).

Prof. Farida Mayar, duduk (kanan) dan Djasman Tando (suami). Anak, Seftiwan Pratami Djasfar (kiri), Thesa Dwi Djasfar (tengah) Olin Tri Djasfar (kanan)
Prof. Farida Mayar, duduk (kanan) dan Djasman Tando (suami). Anak, Seftiwan Pratami Djasfar (kiri), Thesa Dwi Djasfar (tengah) Olin Tri Djasfar (kanan)

Menurut Prof. Farida Mayar, proses melukis melibatkan berbagai fungsi kognitif, termasuk perencanaan, pengambilan keputusan, dalam pemecahan masalah. Ketika melukis, kita harus mempertimbangkan komposisi, warna, dan teknik yang akan digunakan, yang semuanya merangsang aktivitas otak.

Melalui berkarya dapat menjadi cara yang efektif menjaga ketajaman mental dan memperlambat penurunan kognitif yang terkait penuaan, sekaligus menjadi aktivitas kreatif dalam meningkatkan memori dan konsentrasi pribadi, tutur Farida Mayar memberi ilustrasi.

Selain pernah mengenyam pendidikan menengah di SMSR Negeri Padang (sekarang SMKN 4) tahun 1978–1982 itu, dikampus sebagai dosen Fakultas Ilmu Pendidikan ia pun mengampu sejumlah bidang studi untuk mahasiswanya seperti ; Menggambar Anak Usia dini, Cipta Seni dan Gerak, Bermain dan Kreativitas Anak Usia Dini, Motorik anak Usia Dini, Perkembangan Anak Usia Dini, Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, Landasan Paidagogik Managemen Pendidikan anak usia dini, Pengembangan Karier Pandidikan Anak Usia Dini, Pilsafat Pendidikan dan Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.

Dalam beberapa bulan terakhir, selain disibukkan dengan tugas sebagai dosen di PGPAUD (Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini) di kampus UNP Fakultas Ilmu Pendidikan, Keahlian Pendidikan Seni Rupa Anak Usia Dini, Farida Mayar mengaku senang bergabung dengan teman teman seniman seni rupa untuk melukis bersama di komplek Taman Budaya Sumatera Barat, Jalan Diponegoro 31 Padang.

Bagi Farida Mayar, kegiatan melukis bersama dengan teman teman seniman selain merupakan ajang silaturrahmi yang selama ini disibukkan tugas masing masing, juga merupakan upaya untuk dapat menuangkan emosi, pikiran, dan pengalaman pribadi ke dalam bentuk visual. Bagaimana pun lukisan menjadi cerminan jiwa untuk mengkomunikasikan kepada penikmatnya.

Proses melukis melibatkan berbagai fungsi kognitif, termasuk perencanaan, pengambilan keputusan, dalam pemecahan masalah. Ketika melukis, kita harus mempertimbangkan komposisi, warna, dan teknik yang akan digunakan, yang semuanya merangsang aktivitas otak.

Bagi kita berkarya bersama ini yang tidak lagi berusia muda ini, berkarya dapat menjadi cara yang efektif untuk menjaga ketajaman mental dan memperlambat penurunan kognitif yang terkait penuaan, sekaligus menjadi aktivitas kreatif dalam meningkatkan memori dan konsentrasi pribadi, tutur Farida Mayar.

Karena dalam banyak teori menyebutkan bahwa, melukis membantu melepaskan emosi sulit diungkapkan dengan kata-kata, memberikan ruang aman untuk menyalurkan perasaan, mengurangi stres, membuat pikiran lebih rileks, dan melatih konsentrasi serta menghadirkan momen mindfulness dan meningkatkan rasa percaya diri lewat karya yang dihasilkan dan menjadi sarana self healing yang sehat dan menyenangkan.

Melalui sapuan kuas dan warna dan tarikan garis demi garis jelas hal ini merupakan, aktivitas ini bisa jadi bentuk self healing yang murah sekaligus menyenangkan.

Karena melukis bukan hanya soal hasil karya yang indah untuk dipajang. Sekaligus juga turut membantu kita lebih tenang, fokus, dan jujur pada dirinya sendiri,” ujar Farida Mayar yang sejak 5 tahun terakhir telah tiga kali melakukan penelitian perihal seni diantaranya Pengembangan Project Based Learning dengan Mengunakan Pendekatan Flip Classroom Pada Perkuliahan Menggambar di Perguruan Tinggi (2020) sebagai ketua, Pengembangan Model Project Pelajar Pancasila Dalam Meningkatkan Perkembangan Kognitif Anak di Taman Kanak-kanak (2023) sebagai anggota dan Pengembangan Permainan Trasdisional Berbasis Model Project Dalam Penanaman Nilai Pancasila Di Taman Kanak-kanak (2024) sebagai anggota. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.