Prof. Farida Mayar : Perlu Perhatian Serius Merancang dan Melaksanakan Pembelajaran Seni Rupa Untuk Perkembangan Kreativitas Anak Usia Dini

by -
Prof. Farida Mayar : Perlu Perhatian Serius Merancang dan Melaksanakan Pembelajaran Seni Rupa Untuk Perkembangan Kreativitas Anak Usia Dini
Prof. Farida Mayar, M.Pd salah seorang dari sebelas guru besar UNP dengan orasi ilmiahnya “Kreativitas Anak Usia Dini Dalam Pembelajaran Seni Rupa” di Universitas Negeri Padang, Rabu 22/10/25.

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Salah satu yang sangat efektif untuk menstimulasi kreativitas anak adalah melalui kegiatan seni rupa. Karena seni rupa tidak hanya sebagai sarana estetis, tetapi juga menjadi wahana bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, gagasan serta membangun kepercayaan diri melalui kegiatan menyenangkan dan bermakna.

Baca Juga : Menelusuri Seni Lukis Islam Diantara Seni Lukis Modern

Mengingat anak usia dini berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, termasuk dalam aspek kognitif, motorik, sosial emosional, seni, dan kreativitas. Kreativitas dinilai sangat erat kaitannya dengan proses ekspresi, proses eksplorasi dan permainan, dimana anak diberi kebebasan mencoba, mengubah dan mengembangkan berbagai bentuk karya seni.

Hal ini Prof. Farida Mayar melalui orasi ilmiahnya pada upacara pengukuhan guru besar Universitas Negeri Padang yang mengangkat topik “Kreativitas Anak Usia Dini Dalam Pembelajaran Seni Rupa” melalui sidang terbuka Universitas Negeri Padang di Auditorium Universitas Negeri Padang, Rabu (22/10/25).

Menurut Farida Mayar dosen FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) dan salah seorang dari sebelas guru besar yang dikukuhkan tersebut menyebutkan ; kreativitas merupakan kemampuan anak untuk menciptakan ide-ide baru, menghubungkan berbagai konsep orisinil, dan menghasilkan solusi unik di berbagai situasi dalam konteks anak usia dini.

Namun realita di lapangan menunjukan, kegiatan seni rupa sebagaimana banyak ditemui dilembaga PAUD masih didominasi oleh kreativitas meniru, berupa mewarnai gambar cetakan, menyalin bentuk yang diberikan guru, justru membatasi daya imajinasi dan potensi kreatif anak (Sari & Hapasari, 2020). Kurangnya pelatihan pengembangan profesional dibidang senirupa memperkuat masalah ini, sehingga pendekatan pembelajaran cenderung berfokus pada hasil akhir ketimbang proses.

Dalam kontek filosofi pendidikan, kreativitas bukanlah skill tambahan, melainkan wujud tertinggi dari kebebasan berekspresi Homo Faber (manusia yang menciptakan) dan Homo ludes (manusia yang bermain). Seni rupa dalam pembelajaran anak usia dini, adalah medan sempurna dimana kedua identitas ide menyatu. Melalui bermain dengan material seni, anak menciptakan makna dan memformulasikan ide baru, proses ini esensial bagi penegembangan kognitif dan afektif.

Dalam teori Lev Vigotsky, perkembangan kognitif terjadi melalui interaksi sosial dan penggunaan alat mediasi. Bagi anak usia dini, goresan pensil, sapuan kuas, dan membentuk platisin, berfungsi sebagai alat media simbolik sebelum mereka sepenuhnya menguasai bahasa lisan atau tulis. Melalui seni rupa, anak memproyeksikan dunia internalnya, dan mengorganisasikan pemikiran abstrak menjadi bentuk konkret.

Disebutkan, imajinasi anak tidak akan berkembang tanpa keberanian dan kesempatan untuk mencipta. Seni rupa ruang tempat yang tepat untuk itu diantaranya melalui ; 1. lukis/gambar 2. patung, 3. dekorasi, 4. kerajinan tangan, 5. arsitektur, 6. grafis/cetak, 7. disain, 8. Illustrasi yang fungsi utamanya pada anak usia dini (Mayar 2022) sebagai ; 1.Media ekspresi, 2. Komunikasi, 3. Bermain, 4. Pengembangan bakat dan seni, 5. Mengembangkan kemampuan berfikir. Sementara karakteristik kreatifitas meliputi: 1. Mengunakan simbol visual, 2. Spontan dan ekspresif, 3. Eksplorasif dan bebas, 4. Cerminan dunia pribadi anak.

Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa harus seni rupa dari banyak aspek? Karena seni rupa memiliki keunikan dibandingkan bidang pembelajaran lain. Seni rupa lebih menekankan ekspresi, imajinasi, dan kebebasan anak-anak melalui menggambar, lukisan, atau kearjinan tangan, sesungguhnya sedang melatih daya pikir divergen mereka.

Semua dimensi ini dapat distimulasi melalui kegiatan seni rupa dengan contoh : (1). Saat anak diberi cat air dan kuas, mereka berlatih fluency, menghasilkan banyak bentuk dari sapuan kuas. (2). Saat anak diminta membuat rumah tidak hanya dengan kertas, tetapi juga dengan kardus bekas atau tanah liat, mereka melatih flexsibility. (3). Saat anak mencipta gambar matahari berwarna ungu, bukan kuning itulah originality dan (4). Ketika mereka menambahkan pagar rumah, pohon, dan bunga dalam rumahnya, mereka sedang mengembangkan elaborasi.

Disisi lain proses berkreasi seni rupa adalah latihan sensomotorik komplek, aktivitas seperti mencapur warna, mengunting mengikuti pola atau menempel tektur, secara silmultan melatih koordinasi mata, dan tangan keterampilan motorik halus, dan integrasi sensori. Kekuatan otot jari dan kontrol gerak ini adalah prasyarat neorologi yang tak terhindarkan keberhasilan membaca dan menulis.

Realita di lapangan dalam banyak kasus, pembelajaran seni rupa masih dipandang sebagai aktivitas “pengisi waktu luang” atau “selingan” semata. Guru sering memberikan contoh gambar, lalu meminta anak meniru persis. Anak yang keluar dari pola dianggap “tidak rapi” atau “salah”. Hal ini menghambat tumbuh kreativitas. Pada hal, karya seni anak harus dipandang sebagai “hundred languages of children” – seratus bahasa anak untuk mengeksprsesikan diri. Jika bahasa mereka dibatasi hanya satu cara, maka seratus bahasa itu hilang begitu saja.

Padahal seni rupa dan kreativitas sudah termasuk pada membaca, menulis, dan berhitung di dalamnya. Salah satu cara yang efektif untuk menstimulasi kreativitas anak usia dini adalah melalui kegiatan seni rupa. Seni rupa tidak hanya merupakan sarana estetis tetapi juga menjadi wahana bagi anak untuk mengekpresikan perasaan, gagasan, serta membangun kepercayaan diri melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Karena kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru, menghubungkan berbagai konsep secara orisinil, dan menghasilkan solusi untuk berbagai situasi (Craft 2019). Dunia anak merupakan awal perkembangan kreativitas, imajinasi, dan segala potensi yang mereka miliki (Hurlock 1989).

Dalam kontek filosofi, kreativitas bukanlah skill tambahan, melainkan wujud tertinggi dari kebebasan berekspresi Homo Faber (manusia yang menciptakan) dan Homo ludes (manusia yang bermain). Seni rupa dalam pembelajaran anak usia dini, adalah medan sempurna dimana kedua identitas ide menyatu. Melalui bermain material seni, anak menciptakan makna dan memformulasikan ide baru, bagi pengembangan kognitif dan afektif.

Bagi anak usia dini, goresan pensil, sapuan kuas, dan membentuk platisin, berfungsi sebagai alat media simbolik sebelum mereka sepenuhnya menguasai bahasa lisan atau tulis. Melalui seni rupa, anak memproyeksikan dunia internalnya, dan mengorganisasikan pemikiran abstrak menjadi bentuk konkret.

Imajinasi anak tidak akan berkembang tanpa keberanian dan kesempatan untuk mencipta. Seni rupa adalah ruang tempat yang tepat untuk itu. Mengapa seni rupa? Karena seni rupa memiliki keunikan dibandingkan dengan bidang pembelajaran lain. Seni rupa menekankan pada ekspresi, imajinasi, dan kebebasan/anak-anak yang diberikan kesempatan berekspresi melalui menggambar, lukisan, atau kearjinan tangan, sesungguhnya sedang melatih daya pikir divergen mereka.

Psikologi Guilford (1967), dalam teorinya tentang kreativitas, menyebutkan empat dimensi utama kreativitas: 1. Fluency (kelancaran ide), 2. Flexibility (keluwesan berfikir), 3. Originallity (keunikan gagasan), 4. Ellaboration (pengembangan detail). Disisi lain proses berkreasi seni rupa adalah latihan sensomotorik komplek, aktivitas seperti mencapur warna, mengunting mengikuti pola atau menempel tektur, secara silmultan melatih koordinasi mata, dan tangan keterampilan motorik halus, dan integrasi sensori.

Kreativitas erat kaitanya dengan proses eksplorasi dan permainan, dimana anak diberi kebebasan mencoba, mengubah, dan mengembangkan berbagai bentuk karya seni. Realita di lapangan bahwa kegiatan seni rupa di banyak lembaga PAUD masih didominasi aktivitas aktivitas meniru pola, ini justru membatasi daya imajinasi dan kreatif anak ( Sari & Hapsari, 2020).

Tantangan lain adalah minset pendidikan dan orang tua, pendidik cenderung memiliki mindset bahwa seni rupa harus menghasilkan gambar yang “mirip” atau “Cantik” . Pendidik atau orang tua harus melatih untuk merasa nyaman dengan kekacauan yang produktif (Productive mess) dan hasil karya anak yang tidak seragam. Pelatihan guru harus berfokus pada pedagogi kreatif dan penilaian proses. Sementara, orang tua memandang seni rupa sebagai sampingan dalam pendidikan. Orang tua lebih mementingkan anaknya pandai membaca, menulis, dan berhitung.

Salah satu cara yang efektif untuk menstimulasi kreativitas anak usia dini adalah melalui kegiatan seni rupa. Seni rupa tidak hanya merupakan sarana estetis tetapi juga menjadi wahana bagi anak untuk mengekpresikan perasaan, gagasan, serta membangun kepercayaan diri melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru, menghubungkan berbagai konsep secara orisinil, dan menghasilkan solusi untuk berbagai situasi (Craft 2019).

Seni rupa merupakan proses kerja, gagasan manusia melibatkan kemampuan terampil, kreatif, kepekaan indera, kepekaan hati, berfikir dan menghasilkan sesuatu yang indah (Mayar. 2022). Menurut Kemendikbud (2021) seni rupa adalah karya seni yang diwujudkan melalui media yang dapat dilihat dan diraba terdiri dari berbagai unsur visual yang membentuk keindahan. Selanjutnya Yuliati (2019) senirupa memberi ruang kepada anak, untuk mengekspresikan perasaan, ide, dan pemikiran secara bebas melalui media.

Menurut Sanjaya (2018) senirupa merupakan proses penciptaan keindahan yang melibatkan teknik, kreatifitas, rasa, aspek visual, nilai budaya, simbolik, spritual yang terkandung di dalamnya.

Dari pendapat di atas bahwa seni rupa adalah wujud ekspresi manusia dalam bentuk visual yang mengandung nilai estetika, simbolik, komunikasi, tidak hanya hasil karya tetapi proses kreatif yang melibatkan emosi, intelektual, dan budaya.

Faktor mempengaruhi efektifitas pembelajaran seni rupa anak: (1). Kualitas pendidik. Guru memahami perkembangan anak mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan mampu membimbing dan memfasilitasi kreatifitas anak, (2). Lingkungan belajar yang kondusif, (3). Ketersediaan media dan alat dan bahan, (4) peran orang tua dan keluarga, (5) Karakteristik dan minat anak.

Strategi pembelajaran seni rupa untuk anak usia dini.

Strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak, yaitu aktif, imajinati, ingin tahu, serta memiliki kemampuan belajar melalui pengalaman langsung. Pendekatan yang digunakan harus berpusat pada anak, menyenangkan, dan memberikan ruang bagi bereksplorasi serta ekspresi kreatif, strategi pembelajaran seni rupa untuk anak usia dini idealnya menintegrasikan pendekatan bermain, proyek, dan pengalaman langsung. Kegiatan seni tidak boleh diarahkan secara kaku, melainkan difasilitasi agar anak dapat menemukan cara bereksplorasi yang sesuai dengan dirinya. Maka strategi yang efektif diterapkan dalam pembelajaran seni rupa anak usia dini adalah sebagai berikut :

(1). Strategi Learning By Doing (belajar melalui pengalaman langsung). Anak belajar seni rupa dengan cara melakukan, bukan sekedar mendengar, melihat. Kegiatan ini seperti menggambar, mencetak, melukis, meronce, kolase, melipat, menganyam. Anak mengunakan tangan dan fikiran secara silmultan. Pembelajaran langsung memungkinkan anak mengeksplorasi beragam media dan teknik secara aktif (Lestari et., 2024).

(2). Strategi Sentra ( sentra seni), Pendekatan pembelajaran berbasis sentra, seperti sentra seni, memberi kesempatan untuk beraktifitas serta mandiri maupun berkelompok. Dalam sentra seni, anak diberikan alat dan bahan, tema yang dapat mereka eksplorasi sesuai minat masing-masing anak. Model pembelajaran sentra memungkinkan guru mengamati proses berfikir anak lebih dekat dan mendalam.

(3). Strategi Project-Based Learning (pembelajaran berbasis projek). Melalui strategi ini, anak-anak diberi kesempatan membuat karya seni dalam waktu tertentu dengan tujuan yang jelas, seperti membuat pameran kelas, strategi mengembangkan kreatifitas, kemampuan bekerja sama, dan tanggung jawab anak terhadap proses belajar, proyek seni rupa sederhana, seperti membuat poster kelompok atau karya kolaboraif, membangun keterampilan sosial dan ekspresi kreatif anak (Sari &Pamungkas, 2022).

(4) Strategi Integratif (menggabungkan seni dengan tema lain). Pembelajaran seni rupa dapat dintegrasikan dengan bidang perkembangan lainya seperti bahasa, kegiatan menggambar tokoh-tokoh pahlawan, cerita Islami, atau mewarnai huruf latin dan huruf hijaiyah. Ini membuat kegiatan seni lebih bermakna, Integritas nilai-nilai keagamaan dan sosial dalam pembelajaran seni membuat pengalaman anak lebih utuh dan kontektual.

(5) Strategi Apresiasi dan Refleksi. Setelah berkarya, anak diajak untuk melihat hasil karya sendiri dan teman-temannya. Kegiatan ini menumbuhkan sikap menghargai, percaya diri dan kesadaran akan proses yang telah dijalani. Kegiatan apresiasi membantu anak mengenal perasaan dan ide yang telah dituangkan dalam karyanya.

Imajinasi anak tidak akan berkembang tanpa keberanian dan kesempatan untuk mencipta. Seni rupa adalah ruang tempat yang tepat untuk itu. Apalagi seni rupa memiliki keunikan dibandingkan pembelajaran lain. Seni rupa menekankan pada ekspresi, imajinasi, dan kebebasan/ anak-anak yang diberikan kesempatan berekspresi melalui menggambar, lukisan, atau kearjinan tangan, sesungguhnya sedang melatih daya pikir divergen mereka.

Oleh karena itu ujar Farida Mayar, perlu adanya perhatian serius dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran senir rupa secara sistematis mendukung perkembangan kreativitas anak usia dini, ini mencakup pengembangan kurikulum yang relvan, peningkatan kapasistas guru, serta penciptaan lingkungan belajar yang kondusif bagi tumbuhnya ide-ide baru dan ekspresi bebas pada anak. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.