PSBB Adalah dari Kita untuk Kita
Oleh Zulnadi
Hari ini tanggal 5 Mei 2020 adalah hari terakhir penerapan PSBB di Sumatera Barat. Soal apakah di perpanjang atau tidak, itu tergantung pada kesepakatan gubernur, bupati dan walikota selaku penguasa di daerah ini. Konon, Penguasa daerah akan rapat hari ini bersama forkompimda guna mengevaluasi penerapan PSBB.
PSBB Sumbar dimulai sejak tanggal 22 April 2020, tapi, apakah sudah berjalan sesuai yang diharapkan dalam rangka memutus mata rantai wabah covid 19.
Sejaumana efektifitasnya, bagaimana respon dan sikap masyarakat?
Pertanyaan ini sengaja diapungkan dalam rangka menyigi dan mengevaluasi sejauhmana PSBB telah diaplikasikan dalam kehidupan sehar-hari masyarakat.
Memang dengan rentang waktu 15 hari penerapan PSBB lalu mengharapkan terjadi perubahan prilaku/kebiasaan/budaya dalam masyarakat. Itu adalah suatu hal yang mustahil.
Tapi, setidaknya dengan dicanangkan PSBB, kita telah membuat suatu pondasi awal dalam hal bilamana kita menghadapi virus pandemi pada masa mendatang.
Setidaknya, anak kita, generasi penerus bangsa ini nantinya sudah tahu cara dan kiat berhadapan dengan virus apapun. Sebab, virus itu bisa lenyap dengan cara memutus mata rantai penularan dari orang ke orang, dari kelompok ke kelompok, dari suatu daerah ke daerah tertentu, dari negara ke negara lain.
Itu gunanya pembatasan dan bukan pelarangan. Silakan beraktifitas dengan tetap mengikuti ketentuan yang ada dalam psbb.
PSBB adalah bungkus, yang penting isinya. Bila isinya sudah menjadi pakaian sehari hari, baik secara individu maupun kelompok dalam masyarakat, maka PSBB secara simbol tidak perlu lagi, karena sudah pindah dan membudaya dalam masyarakat.
Hakekatnya PSBB bukan untuk siapa-siapa, tapi adalah “dari kita-oleh kita-untuk kita”, yang peduli dengan hidup sehat.
Pemerintah dalam hal ini sifatnya menghimbau, mengajak, meskipun diiringi dengan adanya sanksi. Sebab, jika tidak ada sanksi sama saja dengan pembiaran berkembangnya virus tersebut kemana-mana.
Kunci sehat adalah disiplin, kunci disiplin mematuhi semua anjuran dan larangan.
Virus tidak berjalan dengan caranya sendiri, tapi dijalankan dari orang ke orang. Ia bisa berhenti disuatu tempat dengan masa tahan tertentu pula.
Virus tidak bisa dilihat dengan indra penglihatan, tubuhnya teramat kecil, tapi serangannya dahsyat. Walapun sebenarnya kasus kematian pasien dominan oleh penyakit bawaan, virus hanya pemicu.
Menurut ahli Viruscologi sistem penularannya sangat cepat dan berlipat ganda.
Untuk satu orang yang positif covid bila dorplet, bisa penyebaran pada 4 orang yang berdekatan dengannya.
Dari 4 orang bisa menjadi 16 dan seterusnya dengan kelipatan 4, sebut Defriman.
Dalam minggu ini, saya sungguh banyak mendapat pencerahan dan pembelajaran dari Dekan FKM Unand, Defriman Djafri. Dua kali video conferensi, (Sabtu dan Senin) selalu saya ikuti seksama dan mengajukan sejumlah pertanyaan kepadanya. Saya sepertinya sudah ahli pula cara menangkal virus ini.
Menurut Defriman, PSBB adalah suatu langkah awal untuk merubah prilaku masyarakat yang selama ini lengah dan abai dengan masalah kesehatan secara umum.
PSBB jangan dilihat efektif atau tidak, diikuti masyarakat atau tidak. Tetapi ini pondasi baru dalam kehidupan masyarakat dalam ia menata pola hidup sehat.
Bencana virus covid 19 adalah moment bagi masyarakat mengintrospeksi diri, bahwa betapa penting dan mahalnya sebuah kesehatan yang selama ini mereka abaikan, kata Defriman. Pencegahan adalah lebih baik daripada mengobat, katanya.
PSBB adalah pembuka pintu menuju hidup sehat, lalu soal bagaimana menata pola hidup sehat, inilah yang harus dipikirkan bersama dengan memahami dan menterjemahkan kearifan lokal (local wisdom).**



