Pulau Pinang dan Jejak Orang Minang di Negeri Orang-Orang Cina

oleh -
IMG-20191208-WA0112

Pulau Pinang dan Jejak Orang Minang di Negeri Orang-Orang Cina

Oleh : Hasril Chaniago

Pulau Pinang, satu dari 13 negeri di Kerajaan Persekutuan Nalaysia, dikenal sebagai satu-satunya negara bagian di Malaysia dengan penduduk mayoritas etnis Cina. Ibu kota negeri ini yang bernama George Town atau Bandaraya Pulau Pinang berpenduduk lk. 250 ribu jiwa.

Pulau Pinang awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Kedah, diserahkan oleh Sultan Kedah kepada kepada Inggris 1786 sebagai balas budi kepada pasukan Inggris yang telah menyelamatkan Negeri Kedah dari serangan Siam dan Burma.

Selama di bawah kuasa Inggris (1786-1957) Pulau Pinang atau sering disebut Penang saja, telah berperan sebagai pelabuhan dagang utama di Asia Tenggara bersama Malaka dan Temasek (Singapura).

 

Meskipun dalam sejarah sering ditulis Francis Light, orang Inggris, sebagai pendiri Bandarraya Pulau Pinang, tetapi sesunggunya peneroka (perintis) pertama pemukiman di Pulau Pinang yang sebenarnya adalah Datuk Janaton yang berasal dari Minangkabau. Datuk Janaton bersama tiga tokoh lainnya asal Minangkabau, yaitu Nahkoda Intan, Nahkoda Kecil, dan Nahkoda Setia, merintis pemukiman di Batu Uban lebih 50 tahun sebelum kedatangan Francis Light.

Keturunan ketujuh dari Datuk Janaton kelak terkenal sebagai tokoh-tokoh utama Malaysia menjelang dan sesudah kemerdekaan Malaysia dari Inggris 1957. Di antara mereka adalah Yusof Ishak (Yang Dipertua/wakil Sultan Johor di Singapura dan menjadi Presiden pertama Singapura setelah negara itu berdiri sendiri). Dua adik Yusof, juga menjadi tokoh penting. Abdul Aziz Ishak menjadi Menteri di Malaysia, dan Abdul Rahim Ishak menjadi Menteri Luar Negeri Singapura tahun 1960-an sampai 1970an).

Selain Datuk Janaton dan keturunannya, nama Syekh Tahir Jalaluddin juga lekat di Pulau Pinang. Syekh Tahir dilahirkan di IV Angkat, Agam, 1869, adalah cucu dari Tuanku Cangkiang. Setelah belajar agama di berbagai tempat di Minangkabau, dalam usia muda ia berangkat ke Mekah dan berguru kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Masjidil Haram yang juga berasal dari Minangkabau. Pulang dari Mekah, Syekh Tahir menetap di Malaysia sebagai ulama terkemuka.hingga menjabat Mufti Besar Kerajaan Perak. Beliau adalah seorang ahli Ilmu Falak (Astronomi) yang tinggi ilmunya. Syekh Tahir meninggal 1959, dan namanya kini diabadikan sebagai nama Pusat Falak (Astronomical Center) Malaysia di Pulau Minang.