Jakarta, Semangatnews.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam posisi aman di tengah berbagai kritik terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia membantah tudingan bahwa pemerintah menjalankan APBN secara ugal-ugalan.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya setelah muncul berbagai spekulasi terkait kondisi keuangan negara dan pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah memastikan fundamental ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi solid.
Menurut Purbaya, rasio utang pemerintah Indonesia saat ini masih berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut dinilai jauh lebih rendah dibanding sejumlah negara maju yang memiliki rasio utang mendekati 100 persen dari PDB.
Ia juga menegaskan pemerintah tetap menjaga defisit APBN di bawah batas aman yang telah ditetapkan undang-undang, yakni maksimal 3 persen terhadap PDB. Dengan kondisi itu, pemerintah yakin stabilitas fiskal nasional masih sangat terjaga.
Purbaya menilai kritik terhadap pengelolaan APBN tidak memahami strategi pemerintah secara menyeluruh. Seluruh program prioritas nasional, termasuk belanja sosial dan pembangunan ekonomi, disebut sudah dihitung secara matang.
Pemerintah juga memastikan berbagai program unggulan Presiden Prabowo Subianto tidak akan membebani fiskal negara secara berlebihan. Seluruh pengeluaran negara diklaim masih berada dalam jalur yang terkendali.
Hingga triwulan pertama 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat signifikan.
Di sisi lain, pemerintah mencatat belanja negara tumbuh lebih dari 31 persen secara tahunan. Meski demikian, defisit APBN masih mampu dijaga pada level 0,93 persen terhadap PDB.
Purbaya juga membantah isu yang menyebut kas negara hanya tersisa Rp120 triliun. Ia menjelaskan angka tersebut merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang totalnya mencapai sekitar Rp420 triliun.
Menurut pemerintah, sebagian dana SAL memang ditempatkan untuk mendukung likuiditas perbankan dan memperkuat aktivitas ekonomi nasional. Namun dana tersebut tetap bisa digunakan sewaktu-waktu jika diperlukan negara.
Pemerintah optimistis kondisi fiskal Indonesia tetap kuat menghadapi tekanan ekonomi global. Purbaya meminta masyarakat tidak khawatir karena APBN disebut masih mampu menjadi penyangga utama stabilitas ekonomi nasional.(*)

