Randai Kontemporer : Ketika Tradisi Dijadikan Mainan Festival Satire Kebudayaan tentang Orang-Orang yang Terlalu Cepat Menjadi Modern

by -
Randai Kontemporer : Ketika Tradisi Dijadikan Mainan Festival Satire Kebudayaan tentang Orang-Orang yang Terlalu Cepat Menjadi Modern
Rizal Tanjung

Oleh: Rizal Tanjung

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Di Minangkabau, kebudayaan dulu lahir seperti pohon besar di halaman nagari. Ia tumbuh perlahan, akarnya masuk jauh ke dalam tanah adat, batangnya kuat oleh hikmah nenek moyang, dan ranting-rantingnya menaungi generasi demi generasi.

Di bawah pohon itu lahirlah sebuah kesenian yang bernama Randai. Randai bukan sekadar hiburan. Ia bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah universitas rakyat Minangkabau.

Di sana orang belajar adat, belajar malu, belajar harga diri, belajar bagaimana manusia hidup dalam lingkaran masyarakat. Bahkan bentuk panggungnya pun bukan panggung biasa: lingkaran. Sebuah simbol yang mengajarkan bahwa hidup tidak berjalan lurus, tetapi berputar dalam keseimbangan.

Foto ilustrasi Randai-Menikmati-Perpaduan-antara-Musik-Tradisional-Cerita-Rakyat-Drama-dan-Silek-Minangkabau
Foto ilustrasi Randai-Menikmati-Perpaduan-antara-Musik-Tradisional-Cerita-Rakyat-Drama-dan-Silek-Minangkabau

Di dalam lingkaran itu para pemain bergerak sambil menyampaikan kaba—kisah-kisah adat yang diwariskan dari masa ke masa.

Randai adalah ingatan kolekti

Karena itu ia dihormati sebagaimana orang Jawa menghormati Wayang, sebagaimana masyarakat Bali menjaga Arja, dan sebagaimana masyarakat Melayu memelihara Makyong.

Keempat kesenian itu adalah warisan leluhur. Warisan yang tidak lahir dari proposal kegiatan. Warisan yang tidak diciptakan oleh panitia festival. Warisan yang tidak pernah diputuskan oleh formulir pendaftaran daring.

Foto ilustrasi Randai bukan sekadar hiburan. Ia bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah universitas rakyat Minangkabau
Foto ilustrasi Randai bukan sekadar hiburan. Ia bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah universitas rakyat Minangkabau

Namun zaman sekarang adalah zaman yang aneh. Zaman di mana orang lebih cepat membuat festival daripada memahami tradisi. Zaman di mana orang lebih senang membuat poster kegiatan daripada membaca sejarah kebudayaan. Dan di tengah kegaduhan zaman seperti itu, lahirlah sebuah pengumuman yang terdengar sangat modern:

Festival Randai Kontemporer.

Sebuah kalimat yang tampak keren di spanduk, tetapi sebenarnya mengandung sebuah pertanyaan besar : Apa sebenarnya yang dimaksud dengan randai kontemporer? Apakah randai tiba-tiba harus menjadi modern agar dianggap hidup? Apakah tradisi harus dibongkar agar tampak kreatif?

Ataukah ini hanya sebuah kegelisahan generasi yang tidak cukup sabar untuk belajar dari masa lalu? Pengumuman festival itu bahkan ditulis dengan penuh percaya diri :

— Kategori: Randai Kontemporer
— Tema cerita: bebas
— Musik: boleh tradisional atau kontemporer
— Durasi: 10–15 menit

Membaca aturan ini terasa seperti membaca brosur lomba hiburan sekolah. Padahal randai bukan hiburan instan. Randai adalah struktur kebudayaan.

Ia memiliki aturan tubuh.
Ia memiliki filosofi.
Ia memiliki hubungan dengan adat.

Randai lahir dari kehidupan nagari. Ia bukan lahir dari kebutuhan festival. Karena itu memotong randai menjadi pertunjukan 10 menit sama saja seperti memotong sejarah menjadi iklan pendek.

Yang lebih menarik lagi, festival ini diadakan dalam rangka 100 tahun Jam Gadang di Jam Gadang. Ironis sekali. Sebuah monumen yang dibangun untuk mengingat waktu, justru menjadi saksi bagaimana orang-orang zaman ini melupakan waktu sejarah kebudayaan mereka sendiri.

Di bawah bayang-bayang menara jam itu, randai yang lahir dari ratusan tahun kehidupan nagari tiba-tiba dijadikan kategori lomba eksperimental.

Sungguh sebuah ironi kebudayaan yang hampir terasa seperti satire alam semesta.

Mari kita bertanya dengan sederhana. Apakah orang Jawa membuat Wayang Kontemporer Festival dengan cerita bebas, musik bebas, durasi 10 menit?
Tidak.

Apakah orang Bali membuat Arja Kontemporer dengan aturan “tema bebas sesuai sentuhan modern”?
Tidak.

Apakah masyarakat Melayu mengubah Makyong menjadi eksperimen panggung yang bentuknya sesuka hati?
Tidak.

Mengapa?
Karena mereka tahu satu hal penting : Tradisi bukan bahan eksperimen festival. Tradisi adalah arsip identitas.

Jika arsip itu diacak-acak, maka generasi berikutnya tidak lagi tahu bentuk aslinya.

Masalah terbesar dari fenomena ini bukanlah festivalnya. Masalah terbesar adalah cara berpikir yang melahirkannya.

Cara berpikir yang terlalu cepat ingin terlihat modern. Cara berpikir yang menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kuno dan harus “diperbarui”. Cara berpikir yang percaya bahwa kreativitas hanya bisa lahir dengan cara merombak warisan nenek moyang.

Padahal kreativitas tidak harus menghancurkan tradisi. Kreativitas bisa lahir dengan cara memahami tradisi lebih dalam.

Kata “kontemporer” sendiri sering dipakai seperti jimat. Begitu sebuah kegiatan diberi label kontemporer, seolah-olah ia otomatis menjadi canggih. Padahal kenyataannya sering kali sebaliknya. Kesenian kontemporer adalah wilayah eksperimen. Ia tidak memiliki bentuk baku. Ia bergerak bebas. Itu sah-sah saja.

Tetapi pertanyaannya : Mengapa harus meminjam nama randai? Jika ingin membuat teater kontemporer Minangkabau, buatlah. Jika ingin membuat tari kontemporer Minangkabau, silakan. Tetapi jangan mencuri nama randai untuk sesuatu yang sebenarnya bukan randai.

Karena itu sama saja seperti membuat arsitektur modern lalu menamainya rumah gadang.

Yang paling memprihatinkan adalah bahwa festival ini dibungkus dengan label literasi internasional. Sungguh sebuah ironi yang sangat tajam. Karena literasi seharusnya berarti memahami sesuatu secara mendalam. Tetapi di sini yang terjadi justru sebaliknya :

Tradisi yang belum dipahami sepenuhnya malah dijadikan bahan eksperimen. Seolah-olah kebudayaan Minangkabau hanyalah properti panggung untuk kegiatan festival. Kita harus jujur mengatakan sesuatu yang mungkin tidak enak didengar :

Minangkabau hari ini sedang mengalami penyakit kebudayaan yang aneh. Penyakit yang bernama latah modernitas. Kita terlalu cepat ingin terlihat modern. Kita terlalu mudah merusak sesuatu yang sebenarnya sudah sempurna. Kita terlalu bangga menjadi inovatif tanpa memahami apa yang sedang kita ubah. Akibatnya, kita sering mewariskan sesuatu yang tidak jelas bentuknya kepada generasi berikutnya.

Karena itu pemerintah daerah dan Dinas Kebudayaan Sumatera Barat harus benar-benar waspada. Kerusakan kebudayaan tidak selalu terjadi secara brutal. Ia sering terjadi secara halus.

Ia terjadi melalui festival.
Ia terjadi melalui lomba.
Ia terjadi melalui istilah-istilah yang terdengar kreatif.

Dan perlahan-lahan tradisi kehilangan bentuk aslinya.

Maka pertanyaan besar harus dijawab secara jujur oleh para penyelenggara festival ini :
Apa sebenarnya randai kontemporer itu?
Apa konsep estetikanya?
Apa landasan akademiknya?
Apa argumentasi budayanya?
Apa motivasi sebenarnya?
Apakah ini upaya pelestarian?
Ataukah hanya kegiatan festival yang ingin terlihat keren di media sosial?

Jika semua pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan jelas, maka festival ini bukan inovasi kebudayaan. Ia hanyalah kebingungan artistik yang dibungkus dengan kata festival. Dan jika kebingungan seperti ini terus dibiarkan, maka suatu hari nanti generasi muda Minangkabau akan mengenal randai bukan sebagai warisan adat. Mereka akan mengenalnya hanya sebagai kategori lomba.

Dan ketika hari itu datang, mungkin Jam Gadang masih berdiri tegak. Jarumnya masih bergerak. Wisatawan masih berfoto di bawahnya.

Tetapi randai yang sebenarnya—randai yang lahir dari lingkaran adat, dari suara nagari, dari hikmah nenek moyang—mungkin sudah hilang. Bukan karena dilarang. Bukan karena dilupakan. Tetapi karena diubah perlahan-lahan hingga tidak lagi dikenali. Dan pada saat itu kita akan sadar terlambat bahwa yang kita bunuh bukan sekadar kesenian.

Kita telah membunuh sepotong jiwa Minangkabau sendiri.

Sumatera Barat, 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.