Jakarta, Semangatnews.com – Langkah perombakan kabinet yang dilakukan Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik dan pengamat politik.
Reshuffle yang dilakukan pada awal 2026 itu dinilai bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan strategi politik yang sarat makna.
Sejumlah analis menyebut bahwa langkah tersebut mencerminkan gaya kepemimpinan yang mengedepankan pendekatan merangkul berbagai kekuatan politik.
Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, bahkan menyebut pendekatan ini sebagai “mazhab stabilitas”.
Menurutnya, Prabowo cenderung mengajak semua kekuatan politik untuk bekerja sama demi menjaga keseimbangan pemerintahan.
Pendekatan tersebut terlihat dari tetap dipertahankannya sejumlah figur yang memiliki kedekatan dengan pemerintahan sebelumnya.
Langkah ini dinilai sebagai upaya menghindari konflik politik yang dapat mengganggu jalannya pemerintahan di awal masa kepemimpinannya.
Selain itu, strategi merangkul juga dianggap sebagai cara efektif untuk meredam potensi oposisi yang terlalu tajam.
Dalam konteks ini, reshuffle menjadi alat konsolidasi kekuatan agar pemerintah memiliki dukungan yang lebih luas.
Pengamat menilai bahwa stabilitas politik menjadi prioritas utama, terutama dalam menghadapi tantangan global dan domestik.
Namun di sisi lain, strategi ini juga dinilai memiliki risiko, seperti munculnya persepsi kompromi politik yang terlalu besar.
Meski demikian, pendekatan merangkul dinilai sebagai langkah realistis dalam menjaga stabilitas di tengah dinamika politik nasional.(*)

