JAKARTA, SEMANGATMEWS.COM – Ruang Garasi di Jalan Gandaria IV/2 Keramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dalam eksistensinya kembali menggelar pameran. Kali ini pameran menampilkan seni grafis “Welas Asih” karya Kelompok 7 yang berlangsung sejak 22 Februari sd 8 Maret 2025 mendatang.
Pameran yang rencananya akan diresmikan Viky Sianipar, Selasa sore 22/02/25 pukul 17.00 wib itu menampilkan karya tujuh seniman meliputi ; Ardian 30, Gemar Aridewom, Mayek Prayitno, Puji Bagiom, Ruth Adelyne, Sari Koeswoyo, Taufik Rachman yang karya karyanya menarik untuk disimak dan ditelusuri lebih jauh selama pameran berlangsung.
Pimpinan Ruang Garasi Kana Fuddy Prakoso yang juga pelukis wanita terkemuka Indonesia saat ini kepada Semangatnews.com, Selasa sore (18/2/25) menyebutkan pameran yang mengusung tema “Kasih Sayang Welas Asih” saat ini baru dalam persiapan display.
“Insya Allah hingga pembukaan pameran hingga kegiatan berakhir nantinya semuanya akan berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan,” ujar Kana memberi penjelasan.
Ketujuh perupa yang berpameran ini bukanlah nama nama asing dalam kancah seni rupa Indonesia. Mereka kerap berpameran di berbagai tempat dan lokasi, satu diantara peserta yang berpameran yakni Sari Yok Koeswoyo, seniman, Musisi, Aktor yang juga menjadi politisi dan anak ketiga dari legendaris Koes Plus, Yok Koeswoyo.
Salah seorang peserta pameran Mayek Prayitno yang juga penulis, menyebutkan ; manusia dalam kodratnya membawa sifat – sifat yang kompleks, inherenitas seperti dorongan hasrat, perasaan mencintai dan agresi merupakan salah satu watak yang sudah melekat didalam kerak alam bawah sadar.
Ia adalah fondasi insting, yakni naluri untuk bertahan hidup. Itu semua selain rasionalitas, peradaban dimungkinkan berkembang. Akan tetapi naluri – naluri destruktif manusia selalu menyertai. Sepanjang sejarah, dua entitas cinta dan benci (kekerasan) selalu mewarnai drama kehidupan.
Mengambil contoh ; kisah mitologi Yunani kuno Oedipus Rex yang diadopsi Sigmund Freud sebagai Oedipus komplexs dan Electra komplexs yang dipaparkan dalam psikoanalisa merupakan representasi dari sifat paradoks dan ambigu manusia, ia mencintai tapi sekaligus juga berpotensi bertindak kasar (benci).
Yang digagas psikoanalisa tak lain merupakan upaya untuk mengurai dan memetakan jiwa manusia yang kompleks tersebut agar pertentangan bathin, cinta dan benci dapat ditilik akarnya, karena kompleksitas dorongan cinta memicu banyak peperangan atau kekerasan, baik di masa lalu ataupun di masa sekarang.
Kisah – kisah tragis itu memberi gambaran pada segenap kesadaran manusia saat ini. Bagaimana perasaan cinta itu begitu kompleks diikuti banyak printilan, dampak dan akibat terutama tanggung jawab. Bahwa mencintai bukan hal sederhana dengan dimensi dan tingkat kerumitannya yang seharusnya dilengkapi sifat dan sikap welas asih atau empati.
Dengan rasa empatik atau perasaan welas asih ini, bathin mampu merasakan penderitaan atau sesuatu yang bergejolak didalam diri yang lain. Dorongan merasakan atas sesuatu dari yang liyan ini merujuk pada gejala perkembangan jiwa manusia yang unggul atau superyang melibatkan kreativitas, kemandirian, dan empati atau welas asih.
Karena itu, pameran ini merupakan salah satu respon altruistik terhadap kondisi kemanusiaan saat ini untuk kembali mengutamakan dan menumbuhkan rasa welas asih yang direpresentasikan melalui karya seni grafis olek kelompok 7 yang digelar melalui pameran ini, ujar Mayek Prayitno. (mh)
