Catatan Muharyadi
YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Menelisik pikiran Rudi Mantovani, “urang awak” salah seorang seniman terkemuka anggota Jendela dan Sakato Yogyakarta, baik yang tersurat maupun tersirat, kemudian menghubungkan jalan pikirannya pada karya-karya masterpiecenya hasil penjelajahan kreativitasnya merupakan pekerjaan yang tidak gampang dilakukan tanpa memahami karya-karyanya secara utuh.
Mendeskripsikan karya-karya Rudi Mantovani kelahiran Padang, Sumatera Barat, 21 April 1973, sejak namanya muncul dalam memori publik kita seperti berhadapan dengan refresentasi hasil pemikirannya tentang kehidupan yang dilihat, diamati bahkan dialami dan dirasakannya setiap ruang dan waktu. Semuanya dapat kita sidik dari banyak karya yang dihasilkan sejak lebih tiga dekade silam.

Rudi Mantovani dikenal sebagai pematung dan pelukis. Karya-karyanya banyak didasari eksplorasi kemungkinan pencapaian-pencapaian visual. Pengalamannya terhadap material, serta kesadarannya pada proses kerjalah yang menyebabkan Rudi peka terhadap berbagai kualitas visual. Ia pun menemukan aspek menarik dalam proses kerja yang menjadi modal baginya dalam tahap visualisasi
Mengambil contoh obyek karya berupa alat atau benda-benda disekitar seperti gitar, sterika, kunci Inggris, sepeda, pacul sampai ke sisir yang biasa dipakai sehari-hari yang dikerjakan dalam beberapa dekade sebelumnya terlihat menggelitik dan menghipnotis mata. Obyek benda-benda di karyanya yang dalam penilaian kita tampak remeh-temeh atau hal umum ditemui sehari hari. Justru bagi Rudi hal-hal ringan atau remeh temeh tersebut seperti diberikan “roh” menjadi kekuatan baru tanpa mengenyampingkan nilai artistik dan estetiknya.

Mungkin saja benda-benda tersebut dianggap benda mati alias tidak bergerak terasa seakan hidup bahkan bergerak yang tampil dinamis di karyanya. Dari sini lantas terjadi interaksi antara obyek benda dengan penikmat sebagai salah satu kekuatan karyanya.
Lihat obyek “Gitar” elektrik karya tiga dimensi yang digarap Rudi terlihat ia sangat menguasai dan menghayati betul bentuk-bentuk gitar. Ikhwal penghayatannya akan gitar berawal baik sebagai orang yang pernah memainkan gitar maupun penikmat bunyi gitar. Penghayatan menjadi aktualisasi dan emosionalitasnya yang menarik dipermukaan karya.

Diluar obyek gitar, teknis pengerjaannya untuk dinikmati keindahan bentuknya sama munculnya pameo ; bahwa jika melihat wanita, lihatlah bodynya, apa seperti gitar atau tidak? Bagi Rudi, keindahan gitar ditampilkan melalui deformasi bentuk meliuk, membengkokan body, membenamkan bagian body, memanjangkan tangkai dan lain lainnya.
Dari pendeformasian bentuk gitar, muncul beberapa judul Nada yang Hilang dalam beberapa wujud karya. Beberapa organ dan kelengkapan elemen-elemen penghasil bunyi pada karya Rudi sama seperti gitar aslinya. Tetapi ikhwal dari konsekwensi pendeformasian bentuk gitar, senarnya pun ikut meliuk, membengkok atau terbenam. Padahal gitar sebelum digunakan selain bentuknya yang utuh, biasanya di stel terlebih dahulu senarnya dengan keahlian dan kemampuan khusus, sehingga senandung melodi yang indah dapat dihasilkan. Wujud gitar elektrik karya Rudi merupakan alat yang tidak untuk digunakan sebagaimana lazimnya gitar secara umum, melainkan gitar yang berangkat dari imajinasi dan fantasi konsep dan pikirannya menjadi karya seni.

Dikaitkan filosofis gitar dengan kehidupan manusia, banyak interpretasi yang muncul kemudian. Kelengkapan dan kesempurnaan elemen gitar atau stel senarnya yang pas dapat dianalogikan ibarat hidup dan kehidupan manusia yang dapat dikelola atau di stel dengan baik bahkan sempurna. Kemudian mampu mengatur di luar dirinya sendiri. Kehadiran manusia di muka bumi memberikan nilai tambah ditandai hubungan harmonis antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam sekitar dan manusia dengan sang khalik maha pencipta alam semesta.
Hal lain dari beberapa karya tiga dimesi lainnya mengangkat obyek buah-buahan seperti Apel, mentimun. Kadang tampil tidak lazim meski diolah serealistik disebabkan distorsi bentuk yang dibesarkan dari ukuran normal, isinya juga berwarna kuning seperti papaya padahal kulit luarnya sama dengan mentimun asli, tetapi mentimun ini justru dijepit pada besi penjepit “ragum” seakan buah ini sangat keras?

Obyek mentimun menjadi bahasa utama karya, kita harus meneropong bukan hanya sisi teks tetapi juga harus dilihat dari persoalan konteks karya berisi gagasan bersumber dari pemahaman Rudi terhadap apa yang dilihat dan dipahaminya pada mentimun sebagai narasi visual karya.
Juga semangka dan buah pisang pada sejumlah karya dalam beberapa periode yang digarapnya membuat kita penasaran bahkan menggemaskan, karena persoalan ide atau gagasannya lebih bertumpu pada aspek rasionalitas dan imajinasi sebagai pokok utama (subject mutter) karya.
Diluar persoalan bahasa visual seni rupa, kita memberi penafsiran soal buah semangka secara medis sangat baik dikonsumsi bagi kesehatan tubuh manusia karena dapat menjaga metabolisme tubuh, selain itu juga dapt menyegarkan karena kandungan air yang luar biasa pada semangka. Sementara obyek pisang, selain bentuknya secara tersurat menarik mata untuk mengamatinya, kita juga digiring akan fungsi buah ini yang dapat memanjakan mulut baik sebelum dan sesudah makan, terdapat kalori bermanfaat untuk tubuh manusia.
Pada karya obyek apel merah kesukaan manusa dapat dianalogikan seperti kasus korupsi yang banyak menguap ke publik. Apel karena harganya lebih mahal ketimbang apel lokal berwarna hijau. Pemberitaan kasus mega korupsi ini menjadi buah bibir dan kian hangat bergulir di tengah-tengah masyarakat yang mengaitkan korupsi dengan buah apel merah menjadi simbol menarik di karyanya.
Karya-karya Rudi berupa benda sehari-hari maupun obyek kelompok buah-buahan yang tampil, meski terdapat eksplorasi maupun pendeformasian bentuk-bentuknya, ia sepertinya mengajak kita pada persoalan yang paling hakiki. Boleh jadi selama ini mungkin ikut terabaikan disebabkan bentuk-bentuknya yang remeh temeh atau dianggap tidak penting mengakibatkan kita tidak lagi sensitif pada persoalan yang ada di lingkungan kita. Kepekaan terhadap benda-benda sederhana atau obyek-obyek yang selama ini banyak ditemui di sekitar kita, kini kembali diperlihatkan Rudi melalui karya-karyanya dalam tampilan minimalis bahkan hemat dengan tidak mengurangi nilai artistik dan estetik karya.
Jika kita mengalihkan perhatian kekaryanya lain yang menuturkan tentang bumi, alam dan seisinya goresan Rudi Mantofani dari sejumlah lukisan dua dimensi tak kalah menarik untuk disimak bahkan diskusikan. Obsesi Rudi Melihat Bumi/akrilik/145x145cm/2005 dan Mendekati Langit/akrilik/100x145cm/2004, Batas Bumi/cat minyak/40x40cm/2003, Diantara Hijau /akrilik/100x145cm/2004 dan Di Balik Bukit /akrilik/40x40cm/2005 adalah beberapa contoh imajinasi yang cukup kuat terhadap alam dan seisinya seperti mimpi-mimpi yang tak pernah usang dan selesai untuk disiasati di sana-sini.
Ada galian tanah bagai membentuk pintu rumah hasil galian yang tampak rapi di tengah padang rerumputan menghijau merupakan ruang dan pintu masuk bagi Rudi untuk melihat bumi sebagaimana pilihan judul karya yang ditetapkannya menjadi hal tersirat di lukisan ini. Bahwa semua makhluk terutama manusia di muka bumi berkewajiban menggali dan menyelidik perihal bumi tempat selama ini didiami manusia dan makhluk hidup lainnya.
Banyak teori yang menyebutkan bumi itu bulat, tapi tidak sedikit pula yang mengatakan bumi itu datar? Masalah bumi bulat dan bumi datar sering diperdebatkan banyak kalangan ilmuwan. Pertentangan-pertentangan apakah bumi bulat atau bumi datar oleh ilmuwan sebagaimana banyak teori yang dikemukakan dalam berbagai kesempatan.
Karya-karya dua dimensinya meluncur didasari eksplorasi kemungkinan pencapaian-pencapaian visual. Pengalamannya terhadap material, serta kesadarannya pada proses kerjalah yang menyebabkan Rudi peka terhadap berbagai kualitas visual. Ia juga menemukan aspek menarik dalam proses kerja sebagai modal baginya dalam tahap visualisasi.
Keistimewaan Rudi sebagai seniman kreatif dan tuntas tak pernah mengulang-ulang dan terus berusaha untuk menemukan hal-hal baru hingga tidak monoton. Dan kebaruan itulah yang membuat karyanya senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya
Begitu juga jika kita hendak mendeskripsikan ratusan karya yang dibuatnya, ini bukan pekerjaam gampang untuk dilakukan. Misalnya melihat sejumlah karya-karyanya, kita terus bertanya apa sesungguhnya apa yang hendak dicari Rudi di setiap karyanya?
Setiap karya adalah hasil pemikiran terbaru tentang kehidupan yang dilihat dan dialaminya. Karena itu wajar saja bila ia senantiasa menyertakan benda-benda yang sangat dekat dengan keseharian kita. Benda-benda yang tampaknya sudah “remeh temeh” itu lantas diberikan ruh oleh Rudi sehingga menjadi satu hal yang sama sekali baru.
Sebagai ilustrasi, lukisan Dunia Jatuh ke Bumi itu berupa lukisan globe yang jatuh di dalam hamparan padang rumput hijau yang berbukit. “Objek itu lahir dari sebuah persepsi yang membuat sesuatu persoalan yang lebih menarik.”
Apakah karya itu terpengaruh seniman besar lainnya, Rudi tampaknya tak peduli. “Lukisan bisa saja sama. Tapi ide di balik masing-masing orang pasti berbeda,” kata Rudi suatu kali. Ia lantas menjelaskan bagaimana buah apel ranum itu dipersepsikan oleh dirinya di dalam karyanya. “Mungkin ada juga seniman yang mengambil bentuk yang sama. Tapi persepsi terhadap benda itu pasti beda. Disini kita bicara bukan pada benar dan salah, melainkan emosional yang dimunculkan dari karya itu,”ia memberikan contoh karya tiga dimensi Gitaaaaar, yang berupa gitar dengan gagang yang lebih panjang.
Mungkin memang sedikit kontradiktif bila dibandingkan dengan karyanya yang sangat terang, bersih dan jelas dibaca.
Secara visualisasi, karya-karya Rudi terasa sangat hemat dan minimal. Ia membawa pemirsa pada persoalan paling mendasar pada karya seni rupa: sensasi visual. Karyanya cenderung fokus pada sebuah bentuk atau objek karena sensasi visual akan muncul justru jika sebuah karya tidak terlalu “cerewet”. Namun itu bukan berarti karyanya tidak memiliki potensi teks atau makna.
Makna dalam karya Rudi sendiri tidaklah bisa dilihat sebagai sesuatu yang terbaca dan kemudian dipahami. Dimensi makna tersebut tidaklah literal, kehadirannya melibatkan hal non fisik lainnya: perasaan. Karya-karya Rudi seperti mengajak pemirsa kembali pada sesuatu yang selama ini jarang diperhatikan lagi dalam seni rupa. Beberapa karyanya bahkan seperti sedang “menguji” kepekaan pelihat, dengan menampilkan seminimal mungkin aspek visual.
Tentang hidup sebagai seniman, bagi Rudi yang terpenting adalah mengerti alasan untuk melakukan sesuatu. Dan itu berarti harus menguasai diri sendiri, belajar memahami diri-sendiri untuk mencipta karya. Refleksi ini yang membuat Rudi mampu melahirkan dan memaknai karya-karyanya.
Kolaborasi untuk karya tiga dimensi dilakukan dengan beberapa pekerja khusus, tergantung seri karya yang sedang dikerjakan, misalnya pekerja khusus gitar untuk salah satu seri alat musik dan pekerja mebel untuk seri mebel. Membuat orang bersedia menerima ide dan membuatkan sesuai apa yang dipikirkannya bagi Rudi merupakan salah satu seni tersendiri.
Objek menurut Rudi, bukan semata-mata benda yang ada di luar kita. Objek adalah hasil pemikiran. Ini membuktikan bahwa Rudi memiliki paradigma lain dalam melukis alam benda. Bukan meniru objek yang ada, tapi mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran. Imajinasi adalah kunci, alasannya fantasinya lebih ada ketimbang bentuk riil.
Perjalanan Rudi sebagai seniman, bermula saat ia lulus dari SMSR, Padang tahun 1993 sebagai embrio dasar dan melanjutkan studi di Jurusan Patung, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Kemudian ia ikut mendirikan kelompok Jendela dan berkesenian di sana.
Rudi Mantofani kerap berpameran tunggal maupun kolektif di Asia maupun di sejumlah Negara Eropa selama di Sakato Art Community dan KSR Jendela Yogyakarta, diantaranya di Chounard Galeri Hongkong (2002), Artspace, Jakarta (2003, pameran Art HK International Art Fair, Hongkong (2005), Sureal VS Surealism IVAM, Valencia, Spanyol (2010), Pleasure of chaos Inside New Indonesian Art, Galeri Milano Italia (2010), “Art Paris”, Palais, Perancis (2010), Moca Sanghai, China (2010), “Nanjing Bienalle” “Rainbow Asia”, Seoul Art Centre”, Seoul (2010), Indonesia Art Today “Art Galery”, Berlin dan lainnya (***)

