Rumah Pengasingan Bung Karno dan Benteng Marborough Bengkulu Paling Banyak dikunjungi Wisatawan

oleh -28 views

Rumah Pengasingan Bung Karno dan Benteng Marborough Bengkulu Paling Banyak dikunjungi Wisatawan

Semangatnews.com, Bengkulu – Rumah pengasingan Bung Karno di kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu dan Benteng Marbourogh di Jalan kampung China di Bengkulu merupakan dua obyek wisata sejarah yang paling banyak dinjungi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara dibanding obyek-obyek wisata bersejarah lainnya yang ada di Bengkulu.

Rumah pengasingan Bung Karno yang pernah ditempati proklamator RI tahun 1938 – 1942 itu tersimpan benda-benda peninggalan Bung Karno yang memiliki nilai sejarah termasuk saat Beliau menyusun strategi-strategi perjuangan selama di pengasingan.
Di ruang tamu rumah proklamator kitu, terdapat seperangkat meja dan kursi dari kayu dan sebuah sepeda yang pernah dipakai keluarga Bung Karno. Lalu ada juga sebuah lemari yang yang berisi pakaian seragam tonil (semacam drama) Monte Carlo yang diasuh oleh Bung Karno semasa di Bengkulu.

Salah seorang petugas petugas piket harian, Indriyanto, menyebutkan, setiap hari rumah pengasingan Bung Karno sedikitnya dikunjungi 200 sampai 300 orang pengunjung yang berdatangan dari berbagai penjuru tanah dan wisatawan manca negara, Apalagi musim libur dan hari-hari besar lainnya jumlah pengunjung bisa membludak.

Dalam catatan yang ada di rumah pengasingan Bung Karno, ditulis bahwa Bung Karno menjejakkan kaki di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Di rumah ini tersimpan benda-benda peninggalan Bung Karno yang memiliki nilai sejarah termasuk saat Beliau menyusun strategi-strategi perjuangan selama di pengasingan. Pembagian ruangan dan penataan koleksi benda bersejarah di rumah ini apik dilengkapi dengan berbagai teks keterangan pendukung.

Rumah pengasingan Bung Karno ini milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat. Tahun 1940-an, rumah dengan dua kamar tidur itu berada agak di pinggir kota. Bengkulu dipilih sebagai lokasi pengasingan Bung Karno karena aksesnya yang sulit dan terpencil. Namun, kini seiring perkembangan kota, rumah pengasingan itu persis berada di jantung Kota Bengkulu. Di rumah ini pula terdapat barang-barang peninggalan Soekarno, seperti ranjang besi tempat tidur yang perna diapakai Soekarno dan keluarganya, koleksi buku yang mayoritas berbahasa belanda.

Sementara obyek wisata bersejarah lainnya seperti Benteng Marlborouh juga tak kalah menariknya dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1714-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris.

Benteng ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia.

Benteng ini pernah dibakar oleh rakyat Bengkulu; sehingga penghuninya terpaksa mengungsi ke Madras. Mereka kemudian kembali tahun 1724 setelah diadakan perjanjian. Tahun 1793, serangan kembali dilancarkan. Pada insiden ini seorang opsir Inggris, Robert Hamilton, tewas. Dan kemudian pada tahun 1807, residen Thomas Parr juga tewas. Keduanya diperingati dengan pendirian monumen-monumen di kota Bengkulu oleh pemerintah Inggris.

Marlborough berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia Belanda tahun 1825 – 1942, Jepang tahun 1942-1945, dan pada perang kemerdekaan Indonesia. Sejak Jepang kalah hingga tahun 1948, benteng itu manjadi markas Polri. Namun, pada tahun 1949-1950, benteng Marlborough diduduki kembali oleh Belanda. Setelah Belanda pergi tahun 1950, benteng Marlborough menjadi markas TNI-AD. Hingga tahun 1977, benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.

Dalam catatan buku tamu petugas jaga Benteng Marlborough setiap harinya dikunjungi sedikitnya 200 sampai 300 orang wisatawan lokal dan mancanegara yang sengaja berdatangan ke lokasi benteng ini untuk melihat dan menyaksikan berbagai benda-benda bersejarah yang ada di sekitarnya, seperti meriam, berbagai jenis senjata peinggalan Inggeris dan lainnya. (FR)