Jakarta, Semangatnews.com – Seorang warga di Kampung Curug, Serpong, Tangerang Selatan, hidup dalam tekanan setelah rumahnya hampir tertimbun oleh gunungan sampah dari TPA Cipeucang. Kondisi memprihatinkan itu mencuat setelah video yang memperlihatkan situasi rumahnya viral di media sosial dan menuai perhatian publik.
Warga bernama Agus itu sudah tinggal di rumah tersebut sejak ia lahir, jauh sebelum TPA Cipeucang beroperasi. Dulu lingkungannya masih asri dan sumber air di sekitar rumah dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun kondisi kini jauh berbeda setelah tumpukan sampah terus menggunung dan merambat ke wilayah pemukiman.
Jarak antara rumah Agus dan gunungan sampah yang dulunya masih beberapa meter kini hampir tak bersisa. Bahkan sebagian patok tanah miliknya sudah tertutup oleh timbunan sampah yang terus merangkak hingga ke pekarangannya.
Setiap kali keluar rumah, Agus harus menggunakan masker untuk menahan bau busuk dari tumpukan sampah. Ia mengaku sering mengalami sesak napas, terutama dalam dua tahun terakhir ketika sampah semakin mendekat dan kondisinya makin tidak terkendali.
Selain sesak napas, keluarga Agus juga sering mengalami gatal-gatal akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat. Polusi udara dan air lindi dari sampah menjadi sumber utama masalah kesehatan yang mereka alami.
Sumur yang dulu menjadi sumber air bersih kini tidak dapat digunakan lagi. Airnya telah tercemar oleh rembesan sampah sehingga tidak layak untuk mandi atau mencuci. Selama empat tahun terakhir, Agus terpaksa membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Berbagai keluhan telah disampaikan Agus kepada pemerintah daerah dan instansi terkait, namun respon yang diterima dianggap lambat dan tidak menghasilkan solusi nyata. Kondisi itu membuat Agus akhirnya menyuarakan masalahnya melalui media sosial agar mendapat perhatian lebih cepat.
Kunjungan dari sejumlah anggota DPRD Tangerang Selatan sempat dilakukan untuk meninjau kondisi rumah Agus dan area TPA Cipeucang. Pihak DPRD bahkan menawarkan relokasi sebagai jalan keluar, namun Agus menolak karena masih ingin tinggal di rumah yang telah ditempatinya sepanjang hidupnya.
Agus berharap bukan relokasi yang diberikan, melainkan penanganan serius terhadap tumpukan sampah yang merambat ke area permukiman. Ia ingin kondisi lingkungan di sekitar TPA kembali aman seperti sebelumnya.
Permasalahan ini juga memicu aksi protes warga lainnya. Mereka menuntut penutupan TPA, perbaikan saluran air, serta penanganan limbah yang lebih baik. Warga juga meminta kompensasi karena merasa terdampak cukup parah secara kesehatan dan ekonomi.
Sempat ada penghentian pembuangan sampah ke TPA Cipeucang setelah aksi protes, namun warga masih merasa khawatir karena belum ada solusi jangka panjang yang jelas. Mereka takut masalah yang sama akan terulang jika pengelolaan TPA tidak diperbaiki.
Situasi diperparah dengan banjir yang kerap terjadi ketika hujan deras, membawa limbah dan bau tidak sedap ke pemukiman. Kondisi itu membuat kehidupan warga semakin sulit dan mengancam kesehatan mereka.
Kisah yang dialami Agus menjadi gambaran nyata buruknya pengelolaan sampah di wilayah tersebut. Warga berharap pemerintah segera turun tangan dengan solusi permanen agar lingkungan kembali aman dan layak huni bagi masyarakat sekitar.(*)
