Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Mata uang Garuda dibuka menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat di tengah sentimen positif global dan meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik dunia.
Pada perdagangan pagi, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.318 per dolar AS. Penguatan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa pekan terakhir setelah sebelumnya rupiah sempat tertekan akibat gejolak eksternal dan arus keluar modal asing.
Analis pasar menilai penguatan rupiah dipicu meningkatnya optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen tersebut membuat dolar AS kehilangan daya tarik sebagai aset safe haven.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mulai merespons positif langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia dalam menjaga volatilitas rupiah. Kebijakan pengendalian permintaan dolar dinilai membantu menjaga keseimbangan pasar valuta asing domestik.
Penguatan rupiah turut didukung arus optimisme di pasar saham domestik. IHSG tercatat kembali menguat dan bertahan di atas level psikologis 7.000 poin setelah investor mulai kembali masuk ke saham-saham unggulan.
Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai ketidakpastian ekonomi global. Pergerakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan tensi geopolitik Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi arah rupiah dalam jangka pendek.
Ekonom menilai penguatan rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan fundamental yang kuat. Tekanan eksternal masih berpotensi memicu volatilitas sewaktu-waktu, terutama jika terjadi eskalasi konflik global atau lonjakan permintaan dolar AS.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya menjaga kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meminta masyarakat tidak khawatir terhadap stabilitas ekonomi dan memastikan APBN tetap dalam kondisi aman.
Penguatan rupiah juga memberi sentimen positif terhadap pasar obligasi dan sektor impor. Nilai tukar yang lebih stabil membantu mengurangi tekanan biaya terhadap pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Beberapa analis memprediksi rupiah masih memiliki peluang melanjutkan penguatan apabila sentimen damai global terus berkembang dan arus modal asing kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelaku pasar kini menanti data ekonomi global berikutnya untuk melihat arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Untuk sementara, mata uang Garuda berhasil menunjukkan ketahanan di tengah derasnya tekanan ekonomi dunia.(*)

