Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda membuat sejumlah bank nasional mulai menjual dolar AS di atas level Rp18.000.
Salah satu bank bahkan tercatat mematok kurs jual dolar hingga Rp18.135 untuk transaksi tertentu. Kondisi tersebut langsung menjadi perhatian pelaku usaha maupun masyarakat yang membutuhkan valuta asing dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari penguatan dolar AS hingga meningkatnya ketegangan geopolitik internasional yang mendorong investor mencari aset aman.
Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti kondisi fiskal domestik dan arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang. Situasi itu membuat permintaan dolar meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Bank Indonesia sebelumnya telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Otoritas moneter bahkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin demi meredam tekanan pasar.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk menopang stabilitas pasar keuangan nasional. Bank sentral juga terus melakukan intervensi di pasar spot maupun non-deliverable forward.
Di tengah pelemahan rupiah, sejumlah bank menyesuaikan kurs jual dolar dengan spread yang lebih lebar dibanding pasar spot. Kondisi itu terutama terlihat pada layanan bank notes dan transaksi di kantor cabang.
Pelaku usaha impor menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampak pelemahan rupiah. Biaya pembelian bahan baku dan pembayaran transaksi luar negeri diperkirakan ikut meningkat jika tekanan kurs terus berlangsung.
Sementara itu, masyarakat mulai memantau pergerakan kurs dolar secara intensif karena khawatir pelemahan rupiah akan berdampak terhadap harga barang dan inflasi domestik. Nilai tukar mata uang memang sering menjadi indikator penting kondisi ekonomi nasional.
Analis memperkirakan volatilitas rupiah masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama selama ketidakpastian global belum mereda. Kebijakan suku bunga The Federal Reserve dan perkembangan geopolitik dipandang menjadi faktor utama penggerak pasar.
Meski menghadapi tekanan besar, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga. Otoritas keuangan berharap kombinasi intervensi pasar dan penguatan kebijakan moneter dapat membantu menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.(*)

