Sekolah Tutup dan 3 Juta Siswa Jadi Korban dalam Konflik Thailand–Kamboja yang Kian Memanas

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Konflik bersenjata yang kembali meletus antara Thailand dan Kamboja sejak awal Desember 2025 telah membawa dampak besar bagi masyarakat sipil di wilayah perbatasan, termasuk sektor pendidikan yang lumpuh akibat penutupan ribuan sekolah.

Pemerintah Kamboja melaporkan bahwa pertempuran yang melibatkan artileri berat dan serangan udara militer Thailand telah memaksa penutupan lebih dari seribu sekolah di beberapa provinsi perbatasan seperti Oddar Meanchey, Banteay Meanchey, Preah Vihear, Battambang, Koh Kong, Pursat, dan Siem Reap.

Penutupan sekolah ini berdampak langsung pada lebih dari tiga juta siswa dan puluhan ribu guru yang kini tidak bisa melanjutkan kegiatan belajar mengajar secara normal karena situasi keamanan yang belum kondusif.

Konflik yang sudah berlangsung berulang kali antara kedua negara tetangga ini makin meningkat sejak Thailand dan Kamboja saling menuduh melanggar gencatan senjata yang sebelumnya disepakati, dan akhirnya kembali bentrok dalam beberapa pekan terakhir.

Serangan yang terjadi tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur fisik, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lokal, memaksa warga sipil termasuk anak-anak untuk mengungsi dari daerah konflik.

Akibat eskalasi kekerasan tersebut, puluhan ribu keluarga kehilangan tempat tinggal mereka dan harus mencari perlindungan di lokasi yang lebih aman jauh dari garis depan bentrokan militer yang mematikan.

Korban jiwa juga terus bertambah seiring konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan, di mana pihak berwenang kedua negara melaporkan adanya warga sipil yang tewas serta banyak lainnya yang mengalami luka-luka.

Selain itu, infrastruktur pendidikan yang rusak dan penutupan sekolah dalam jumlah besar diperkirakan akan meninggalkan dampak jangka panjang terhadap proses belajar siswa di wilayah terdampak, dengan potensi hilangnya jam pembelajaran dan gangguan perkembangan anak.

Pihak berwenang setempat dan organisasi kemanusiaan kini tengah berupaya mencari solusi darurat untuk memfasilitasi pendidikan alternatif bagi siswa yang terkena dampak, termasuk program belajar darurat di tempat penampungan pengungsi.

Di tengah upaya mediasi regional yang sedang berlangsung, baik ASEAN maupun negara-negara tetangga terus mendorong dialog dan gencatan senjata permanen untuk menghentikan kekerasan yang berdampak pada jutaan warga sipil tak berdosa.

Para diplomat regional dan internasional juga menyerukan agar konflik diselesaikan melalui jalur diplomasi untuk menghindari perluasan perang yang bisa memperburuk krisis kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu, keluarga dan masyarakat di daerah perbatasan terus menanti jaminan keamanan sehingga anak-anak mereka dapat kembali ke sekolah dan merasakan kehidupan normal seperti sediakala.

Perkembangan terbaru menunjukkan niat baik kedua negara untuk mengurangi intensitas pertempuran, namun situasi tetap rapuh dan membutuhkan komitmen kuat dari seluruh pihak terkait agar perang ini benar-benar berakhir dan anak-anak kembali ke bangku sekolah tanpa rasa takut.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.