Oleh : Ibrahim
SEMANGATNEWS.COM – Penggunaan teknolgi informasi oleh sekelompok atau sebagian pelaku seni telah menimbulkan beragam wacana. Salah satunya adalah paradog berfikir yang berimplikasi pada pemaknaan proses berkarya pada karya seni itu sendiri berserta turunan-turunan kegiatannya.
Baca Juga : Ruang Garasi Jakarta Selatan Menggelar Pameran Perupa Jambi Selama Dua Minggu
Di satu sisi kemajuan teknologi informasi telah menyuguhkan beragam karya, teknik, genre dan media seni yang sekaligus menjelaskan bahwa proses kreatif tampak begitu inovarif sekaligus berkembang dengan sangat pesat.
Sisi lainnya dengan keragaman kreatifitas, teknologi informasi juga memberikan “ruang sempit” bagi seniman akibat setiap kecendrungan karya, genre, tema, pemilihan media dan lainnya terlihat telah di “borong” dan sulit mencari ruang gerak untuk menentukan arah maupun bentuk karya yang akan di bangun oleh seniman lainnya.
Dengan kata lain teknologi di satu sisi mampu menjadi ruang strategis yang murah untuk menjadi sarana belajar, publikasi, sekaligus “membunuh” daya imaginasi seniman akibat apapun model kreatifitas di belahan bumi tampil jelas mulai dari proses hingga menjadi sebuah produk artistik.
Di samping itu teknologi informasi juga memberikan kesempatan kepada siapa saja mulai dari seniman, para tukang, pedagang keliling, buruh, ibu rumah tangga dan lain-lain untuk menampilkan proses serta karya mereka di platform teknologi kemudian menyajikannya kehadapan publik luas “tanpa kurasi”.
Belum lagi hal yang dulunya begitu “sakral” seperti proses mencipta telah di “telanjangi” dan dapat di saksikan dengan begitu mudahnya. Dari penggunaan teknologi informasi, tidak sedikit mereka yang awalnya hanya sebagai “orang gabut” berhasil merebut atensi publik dan secara natural membangun ceritanya sendiri yang belakangan disebut sebagai “seniman” media sosial, konten kreator atau yang ekstrimnya sebagai “seniman rendahan”.
Terlepas dari penamaan tersebut dengan konsistensi yang terjaga serta kemampuan mengoptimalkan teknologi informasi, tidak sedikit “seniman rendahan” itu terus merangkak kepermukaan bahkan mendapatkan kesempatan mengisi mimbar-mimbar formal dalam rangka berbagi ilmu pada kaum terpelajar agar bisa mengikuti langkah sukses mereka.
“Seniman tinggi” tentu bisa saja mengatakan bahwa “seniman rendah” sangat jauh berbeda
dengannya dan apa yang mereka buat juga tidak bisa di samakan. Jelas ini benar dan juga bisa salah, tergantung sudut pandang yang digunakan.
Kita tentu masih ingat NFT (Non Fungible Token) yang pernah meresahkan “seniman tinggi” karena produk seni apapun dan karya siapapun yang terkonversi kedalam NFT mendapat kesempatan “bertanding” dalam platform komersial global seperti opensea salah satunya. Tidak sedikit dari mereka yang datang dari dunia antah berantah malah mendulang keuntungan dari karya mereka. Walau saat sekarang ada yang mengatakan bahwa NFT telah tamat setelah kehidupan kembali normal pasca pandemi, namun harus dicatat bahwa NFT tidak selemah itu dan dari bebarapa laporan media seperti CNBC Indonesia mengatakan bahwa NFT tetap memiliki masa depan dan masih termasuk pasar yang bullish.
Gagasan metavese salah satunya bisa terus memantik bahwa, NFT nantinya akan sangat berguna untuk mengisi realitas virtual sehingga masyarakat dunia yang di indusemen dengan kaplingan-kaplingan dunia virtual metaverse akan terus berlomba-lomba mengoleksi NFT sebanyak mungkin. AI (intelligence artificial) juga patut masuk kedalam daftar apakah akan dimusuhi atau segera digauli oleh seniman untuk menjawab perubahan yang benar-benar tidak bisa di bendung.
Masyarakat kesenian tentu tahu betul bahwa “seniman tinggi” kerjanya tidak hanya sekedar mencari atensi masyarakat tetapi juga beririsan dengan pemahaman terhadap bagaimana dan kenapa karya seni itu dibuat serta dinamika sosial apa yang melatari sebuah karya seni itu lahir. Dari karya yang tercipta itu diupayakan terjadi sebuah koneksi antara seniman dengan masyarakat sehingga terbagunlah sebuah “paradigma” yang di awali dari kemampuan seniman mengaktualisasikan dimensi sosial, budaya, politik, ekonomi melalui karya seni tersebut untuk kembali dibaca ulang oleh masyarakat agar masyarakat memilki “sudut pandang baru” dalam memaknai kehidupannya.
Untuk mengkomunikasikan cita-cita mulia ini, “seniman tinggi” selalu berupaya menampilkan karya-karya mereka secara elegan dalam ruang ruang mapan yang ditata dengan standar tinggi.
Lalu pertanyaannya apakah struktur kerja macam ini masih bisa mendistribusikan gagasan-gagasan seniman jika ruang-ruang mapan dan “seniman tinggi” masih saja dituduh setia pada “keangkuhan konstitusi” seumpama galeri-galeri maupun institusi seni dalam memaknai proses kreatif serta distribusi karya seni itu sendiri ke tengah-tengah masyarakat. Semua tahu tuduhan macam ini yang sulit untuk dihindari mengingat seniman yang terkoneksi dengan ruang-ruang mapan sadar atau tidak telah di “doktrin” agar selalu menganggap diri mereka spesial dan harus tampil di tempat-tempat special pula.
Jika menggunakan fariabel-fariabel dalam dunia seni untuk membaca persoalan “seniman tinggi” dan “seniman rendah” bukanlah sebuah oposisi yang sulit ditemukan perbedaannya.
Namun jika di mulai dari berasumsi sungguh kondisi yang sedang berkembang bisa menjadi pemantik hilangnya kepakaran, “matinya seniman tinggi” dan “runtuhnya infrastruktur seni” di mata publik.
Kemajuan teknologi informasi telah memberikan kepada setiap orang untuk bisa memamerkan keterampilan mereka dalam rangka mendapatkan atensi. Para konten kreator utamanya telah menunjukkan bahwa atensi adalah sebagai penanda mayor bahwa apa yang disajikan dimedia sosial benar-benar mampu mengisi kekosongan yang dialami oleh masyarkat selama ini.
Hanya dengan satu klik masyarakat telah mendapakat alternative “hiburan” yang sebelumnya sangat ekskulusif. Para pelakunya “seniman rendah” juga tidak ada beban dengan karya yang mereka buat apakah dibeli atau tidak, di kurasi atau tidak, monumental atau tidak. Sebab dengan mendapatkan atensi publik, mereka telah terfasilitasi (dibayar) apalagi jika karya mereka sampai di demand public, ekstra cuan tentunya.
Kemudian turunan sempurna dari kreasi “seniman rendah” adalah karya mereka menjadi perbincangan bahkan menciptakan “prilaku sosial” baru di tengah-tengah masyarakat. Sementara “seniman tinggi” masih digiring untuk berfikir transaksional tradisional yang mana mereka menghadirkan produk artistik kemudian di beli/koleksi. Dengan kata lain pola publikasi, distribusi, kosumsi masih “harus” dipahmi macam ini dan value proposition hanya di lihat dari hasil transaksional langsung.
Bahkan sampai sekarang keluhan seminan masih saja berputar-putar pada skema ini dan masih meminta-minta untuk di perhatikan sementara pola kosumsi pada produk seni telah berubah/berkembang dan cara untuk mendapatkan value proposition tidak lagi harus memindahkan/pertukaran barang dan uang serta kepemilikan secara material tapi telah bergeser kepada nilai dan kemanfaatan non material alias atensi publik global
Catatan Redaksi : Ibrahim, Seniman dan Kurator tinggal di Bukittinggi
