Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Tak biasanya pameran seni rupa menampilkan “seni lukis dan patung” yang lazim di lakukan di ruang pameran galeri seni, UPTD Taman Budaya, Dinas Kebudayaan, Sumatera Barat, Jalan Diponegoro 31 Padang, kali ini dilakukan di ruang terbuka lantai I di bengkalai gedung bangunan yang tak kunjung kunjung selesai menampilkan sejumlah patung berbahan kayu dan lukisan pada suatu ruang lain, sejak 18 hingga 22 Agustus 2025.
Belasan patung beragam bentuk simbolik menjadi saksi bisu dengan seperangkat nilai yang disuguhkan kepermukaan. Tiupan angin pantai berdamai dengan sederetan patung yang terpajang, sementara rerumputan tinggi disekitarnya yang hampir menutupi seluruh badan manusia yang lalu lalang tak mengurangi keindahan karya yang ada dan disusun berjenjang dengan ritme tinggi rendahnya karya.

Meski tak memakai pustek memadai, semua karya patung kayu tampil menggelitik dan berdiri kokoh diperkuat lagi dengan satu karya instalasi memanfaatkan satu tonggak kumuh berbalut ekspresi seniman yang tak pernah hirau akan kondisi lingkungan tempat ia berdiri di gedung kosong tak berpenghuni, entah kapan bangunan gedung Dinas Kebudayaan yang semula bakal dijadikan icon kebudayaan Sumbar akan selesai, kini kian lusuh dalam ketidakberesan tiang tiang besar yang mulai melapuk oleh ruang dan waktu.
Di lantai I tampil karya-karya dari seniman yang tak asing lagi namanya di kancah seni rupa nasional, apalagi di Sumatera Barat masing-masing memiliki gaya dan tema unik dilabeli berbagai bentuk ekspresi kreatif. Ada patung karya Jon Hardi, Ardim, Harnimal, Irawan Winata, Jefnil, Jon Wahid, Anita Dikarina, Bambang Art, Doni Bule, Apache, Tomy Junaidi, Jamaidi dan beberapa nama lain.

Untuk karya lukis berjarak hampir 100 meter dari karya patung persisinya di sebuah cafe terdapat karya Amrianis. Jon Wahid, Trikora Irianto, Mindasari, Farida Mayar, Zaref Lina, Ardim dan beberapa nama lain.
Sejumlah patung meski digarap sederhana yang tidak berlumus tungkus, tentu dimaksudkan bukan semata menampilkan objek estetik. Ia bisa menjadi penanda ruang, titik kumpul, bahkan simbol emosi dan cerita personal. Di ruang terbuka di lantai I gedung Dinas Kebudayaan yang nyaris runtuh menjadi area publik yang menarik untuk disimak dan ditelusuri. Patung luar ruang (outdoor sculpture) mampu memberikan nuansa yang kuat, tegas, dan berkarakter.

Lihat patung Jon Hardi, Jon Wahid, Ardim dan muka baru Anita Dikarina puteri kedua pematung Abstrak yang selama ini disibukan rutinitasnya sebagai ASN setelah berakhirnya pameran 93 tahun Juni lalu, mencoba menggali kemungkinan bentuk patung kayu mahoni dengan memperdaya berbagai kemugkinan bentuk hasil pahatannya.
Kerja Arby Samah saat berkarya turut mempengaruhi naluri estetik mewujudkan patung dengan seperangkat nilai nilai yang diadopsi dari aspek ruang dan bentuk. Dari sejumlah patung yang tampil terlihat menyesuaikan gaya, dan karakter penciptanya. memberikan kesan bahwa seni patung tidak hanya tentang bentuk, tetapi juga tentang energi dan emosi yang dapat dihadirkan melalui medium yang digunakan.

Beralih ke ruangan cafe dengan sejumlah lukisan, saya menemukan sejumlah lukisan beraneka warna. Setiap lukisan memiliki alur cerita sendiri, mengundang pengunjung untuk merenungkan berbagai interpretasi yang diciptakan seniman. Sejumlah lukisan yang mencuri perhatian diantaranya karya Amrianis dengan style realisnya menyuguhkan tiang tiang lapuk gedung Dinas Kebudayaan berwarna redup, karya Ardim dengan kubis reaktif mencoba pula menggambarkan wajah manusia dengan perpaduan garis-garis tebal dan halus, kesan harmoni di tengah-tengah kekacauan warna. Seniman di balik lukisan ini tampaknya ingin menyampaikan pesan tentang keseimbangan dalam kehidupan.
Di sudut lain di cafe ini terdapat sejumlah lukisan diantaranya karya Trilkora Irianto, Zumanix dengan style ekspresionistik yang begitu kuat menghipnotis mata, Jamaidi, Farida Mayar, Zaref Lina yang mencoba menembus ruang dan menggambarkan berbagai dinamika alam dan seisinya, kemudian tampil unik tanpa lehilangan dinamisnya. Ada yang lahir dengan serius kemudian ada pula yang tampak gagap dalam penggalian hal hal hakiki tentang tema lukisan yang diusung. Tapi semua tetap hadir dalam semangat tinggi untuk berkarya dan mengikuti pameran di area menembus ruang kreatif ini.
Bermula dari Diskusi Ringan
Pameran “Seniman Merespon Ruang” selama 5 hari di area Taman Budaya, Dinas Kebudayaan, Sumatera Barat Wujud Kolaborasi Seni, Alam, dan Inovasi di Ruang Terbuka itu hadir kepermukaan bukan tanpa alasan. Setelah usai pameran internasional 93 tahun Arby Samah dengan menampilkan karya seniman 5 negara seperti Nepal, Jepang, Belgia, Filipina dan Malaysia dan peserta tuan rumah Indonesia (Sumatera Barat dan Yogyakarta) sejak 18 sd 23 Juni lalu. Munculnya ide menggelar pameran ini di berbagai kesempatan.
Meski tak masuk dalam agenda Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Sumbar, pameran Seniman Menembus Ruang ini muncul dengan semangat dan nilai nilai 80 tahun kemerdekaan RI, sebagaimana dikemukakan sejumlah peserta pameran seperti Jon Wahid. Amrianis, Ardim, Trikora Irianto dan beberapa peserta lain.
Berakhirnya pameran internasional 93 th Arby Samah, tidak lantas teman teman seniman yang sebelumnya larut dalam suasana pameran bergengsi tersebut untuk berdiam diri. Muncul gagasan berpameran di luar galari yang selama ini menjadi icon pameran di UPTD Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Sumbar.
Teman teman seniman berlandaskan semangat tinggi pun menumpahkan segala kreativitasnya melahirkan karya karya dalam waktu yang relatif singkat, meski sebagian ada diantara karya yang telah diikutsertakan pada pameran sebelumnya.
Sebagai ungkapan kreativitas seniman, karya karya tampil memiliki daya tarik tersendiri bagi para pencintanya.
Karya karya yang tampil memiliki kekuatan untuk menggugah perasaan publik di tengah tengah kondisi sosial yang mulai meredup. Bagaimana pun karya mereka menjadi fondasi penting dalam membangun keberagaman dan keharmonisan hubungan antar sesama manusia.
Apalagi karya yang hadir dan tampak di pelupuk mata bukanlah semata sebagai ornamen, tetapi memiliki bahasa yang melampaui batasan kata-kata hingga masyarakat yang menyaksikannya memiliki pencerahan, dengan meresapi nilai-nilai keindahan, dan merasakan kehadiran seperti apa karya seni memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan menyatukan seniman dan pelaku seni bernilai sejarah.
Kegiatan pameran seniman menembus ruang ini sebelumnya diisi dengan pertunjukkan puisi bersama Armeynd Sufhasril, Andria Chatri Tamsin dan Irawan Winata serta pertunjukkan musik Ekaprasanta Grup dan dukungan person Erwin Awal tanpa menggali kocek institusi UPTD Taman Budaya dan Dinas Kebudayaan Sumbar sejak kegiatan ini berlangsung hingga tulisan ditulis. Menarik memang. (***).
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
