Seniman Seni Rupa “Urang Awak” di Yogyakarta dan Bandung Mengungkap Ude-ide Tradisional Menonjolkan Volume Plastis dan Deformasi Obyek

oleh -
Sederetan Karya Syahrizal Koto

Catatan : Muharyadi (Bagian Kedua)

Keberadaan seniman patung sama halnya seniman seni rupa lainnya, jelas mengabdi pada kehidupan manusia dimana ia berada, bermukim dan kemudian berkarya.

Seniman seni rupa – termasuk seni patung –merefresentasikan karya-karyanya ke publik dapat menentukan gerak, langkah bahkan perkembangannya di tengah-tengah masyarakat. Lazimnya para seniman seperti sudah menjadi pameo lama bahwa kerap kali menjadikan alam sebagai guru seniman atau dalam bahasa asing disebut “Natura Artis Magistra”.

Menurut teori seni patung merupakan perwujudan yang paling kongkrit yang dapat diterima oleh indera manusia karena keutuhannya, mengingat tidak ada sudut yang tidak luput dari pengamatan. Sekecil apapun tidak ada yang tersembunyi seperti juga teori yang pernah dikemukakan Herbert Read, bahwa ; “seni adalah kesatuan utuh yang serasi dari semua elemen estetis seperti garis, ruang, warna yang berbaur dalam suatu kesatuan (unity) bentuk”.

Baca Juga:  Bacaan Do'a untuk Pahlawan G30S PKI dan Kata Mutiara Peringatan Gerakan 30 September

Hal ini pulalah melatarbelakangi pematung “urang awak” yang namanya berada pada deretan papan atas seni patung Indonesia, Syahrizal (61 th) yang bermukim dan berkarya di Yogyakarta.

Menurut sang maestro pematung nasional Edhi Sunarso sekaligus guru tempat menimba ilmu bagi Syahrizal di Yogyakarta, biasanya dalam berkarya seharusnya tidak lagi menghiraukan tentang aliran/kecendrungan penggayaan.

Baca Juga:  Makna dan Tujuan Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober
Sederetan Karya Syahrizal Koto

Yang penting ia harus berkarya dengan jujur sesuai kesenangan hatinya. Karena itu wajar kalau karya-karya Syahrizal dinilai bertolak dari kepuasannya seperti terdapat dalam beberapa periode karya-karyanya terlihat berbeda dengan periode sebelumnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.