Serangan Houthi Bikin Pasar Minyak Dunia Tegang, Harga Bisa Makin Melonjak

by

Jakarta, Semangatnews.com – Ancaman terhadap pasokan minyak dunia kembali meningkat setelah kelompok Houthi memperluas serangan ke wilayah Arab Saudi. Konflik yang semakin melebar di Timur Tengah membuat jalur perdagangan energi strategis berada dalam tekanan dan memicu gejolak harga minyak.

Houthi dilaporkan meningkatkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sasaran militer Arab Saudi. Salah satu serangan yang diklaim kelompok tersebut menyasar Pangkalan Militer Sharurah di Provinsi Najran, wilayah selatan Saudi.

Kelompok Houthi menyebut serangan itu sebagai balasan atas operasi militer Arab Saudi di Yaman. Mereka juga memberikan peringatan bahwa serangan dapat diperluas apabila operasi terhadap kelompok tersebut terus berlangsung.

Ketegangan semakin serius karena Houthi juga memperkuat pengaruhnya di kawasan Bab el-Mandeb. Penguasaan wilayah strategis di sekitar selat tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap aktivitas kapal yang melintas antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Bagi pasar energi, kondisi tersebut menjadi persoalan besar. Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur penting perdagangan internasional sehingga gangguan terhadap lalu lintas kapal dapat berdampak pada pengiriman minyak dan berbagai komoditas dari kawasan Timur Tengah.

Arab Saudi juga tidak bisa sepenuhnya mengandalkan jalur alternatifnya. Pipa East-West yang selama ini menjadi salah satu pilihan untuk menghindari Selat Hormuz terpaksa dihentikan sementara setelah fasilitas tersebut terdampak serangan drone.

Pipa yang membentang sekitar 1.200 kilometer itu memiliki kapasitas besar dan menghubungkan ladang minyak di bagian timur Arab Saudi dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Keberadaan jalur ini sangat penting ketika pengiriman melalui Selat Hormuz menghadapi hambatan.

Kombinasi gangguan di jalur laut dan pipa darat membuat fleksibilitas ekspor minyak Saudi semakin terbatas. Reuters melaporkan produksi minyak Saudi pada Agustus telah turun ke sekitar 6 juta barel per hari, level terendah dalam sekitar tiga dekade.

Pasar pun langsung memberikan respons. Harga minyak Brent telah berada di atas US$100 per barel, sedangkan pada perdagangan terbaru harga Brent sempat naik hingga sekitar US$107,82 per barel dan minyak WTI mencapai sekitar US$103,22 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi ancaman bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi. Lonjakan harga dapat meningkatkan ongkos transportasi, biaya produksi, hingga harga barang konsumsi apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, perhatian pasar kini tertuju pada keamanan jalur minyak di Timur Tengah. Jika serangan terhadap infrastruktur energi dan pelayaran terus terjadi, risiko gangguan pasokan global serta kenaikan harga minyak masih terbuka lebar.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.