Serupa tapi Tak Sama, Kuliner Tradisional Indonesia Punya Kembaran di Korea Selatan

by -
kuliner korea indo

Jakarta, Semangatnews.com – Keberagaman kuliner Nusantara kembali menarik perhatian publik setelah muncul perbandingan unik antara makanan tradisional Indonesia dan Korea Selatan yang ternyata memiliki bentuk dan cita rasa serupa. Dalam video yang diunggah di media sosial, sejumlah warganet menunjukkan bahwa beberapa jajanan khas Indonesia ternyata punya “kembaran” di Negeri Ginseng.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah jipang, camilan manis berbahan dasar beras yang kerap dijumpai di pasar tradisional Indonesia. Jipang disebut memiliki kemiripan dengan ganjeong, makanan ringan dari Korea yang juga terbuat dari biji-bijian dan dilapisi gula karamel. Keduanya sama-sama memberikan sensasi manis dan renyah, meski cara pembuatannya berbeda.

Tak hanya itu, donat kepang—kudapan manis yang sering dijual di pinggir jalan atau toko roti lokal—juga dikaitkan dengan kkwabaegi, donat goreng khas Korea yang berbentuk kepangan dan dilapisi gula halus atau kayu manis. Dari segi tampilan, keduanya hampir identik, namun tekstur dan rasa memiliki sedikit perbedaan karena penggunaan bahan dan teknik penggorengan yang berbeda.

Kemiripan juga terlihat antara apem dari Indonesia dengan jeungpyon dari Korea. Kedua makanan ini merupakan hasil fermentasi tepung beras, menghasilkan tekstur lembut dan aroma khas. Namun, apem lebih identik dengan nuansa religius dan sering disajikan dalam acara keagamaan, sementara jeungpyon biasanya hadir dalam perayaan tradisional Korea.

Lalu ada arbanat, permen kapas tradisional Indonesia yang ternyata mirip dengan kkultarae asal Korea. Keduanya sama-sama mengandalkan proses menarik gula cair hingga menjadi serat halus seperti benang sutra. Bedanya, kkultarae sering diisi kacang atau madu di dalamnya, sedangkan arbanat lebih dikenal dengan rasa manis sederhana yang khas masa kecil.

Tak ketinggalan, mochi Sukabumi juga disebut punya kesamaan dengan tteok, kue beras kenyal khas Korea. Keduanya dibuat dari tepung beras ketan yang ditumbuk hingga halus, namun mochi umumnya memiliki isian kacang atau gula merah, sementara tteok lebih sering disajikan polos atau digunakan dalam hidangan sup perayaan.

Walau memiliki bentuk dan bahan yang mirip, makna budaya di balik tiap makanan tetap berbeda. Setiap kuliner tradisional mencerminkan nilai-nilai dan sejarah masyarakatnya, baik di Indonesia maupun di Korea Selatan. Dari bahan hingga cara penyajian, setiap detail punya filosofi tersendiri.

Fenomena kemiripan kuliner ini menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi cerminan hubungan budaya antarnegara Asia. Proses pertukaran budaya, perdagangan, dan migrasi manusia di masa lalu mungkin menjadi salah satu faktor kemunculan kesamaan tersebut.

Di media sosial, banyak warganet yang menanggapi fenomena ini dengan rasa bangga sekaligus kagum. Tak sedikit yang berkomentar bahwa kesamaan itu justru menunjukkan betapa kayanya warisan kuliner Asia dan bagaimana tradisi lama bisa terus hidup di berbagai bentuk.

Meski “serupa tapi tak sama”, kuliner Nusantara tetap memiliki keunikan tersendiri. Dari cita rasa, bahan lokal, hingga makna filosofisnya, semua menjadi bagian dari identitas bangsa yang tak tergantikan oleh pengaruh luar.

Melalui perbandingan ini, publik diharapkan semakin mencintai kuliner lokal dan melihatnya bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga simbol sejarah dan kebersamaan yang membentuk jati diri Indonesia.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.