Suara Tiang Listrik Jadi Alarm Kampung, Cara Unik Anwar Bangunkan Pedagang Dini Hari

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Suara dentingan tiang listrik yang terdengar di kawasan Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, kerap mengundang rasa penasaran. Di balik bunyi khas yang muncul di tengah malam itu, tersimpan misi sederhana namun penuh kepedulian sosial yang dijalankan oleh seorang petugas ronda bernama Anwar.

Anwar telah bertahun-tahun berkeliling kampung setiap malam sambil memukul tiang listrik di titik-titik tertentu. Aksi ini bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai penanda waktu sekaligus alarm alami bagi para pedagang kecil agar tidak kesiangan memulai aktivitasnya.

Sebagian besar warga di lingkungan tersebut menggantungkan hidup dari usaha kecil seperti berdagang tempe, tahu, dan kebutuhan pokok lainnya. Mereka harus bangun sangat pagi untuk menyiapkan dagangan atau berangkat ke pasar sebelum matahari terbit.

Pukulan pertama pada tiang listrik biasanya dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB. Bunyi tersebut menjadi isyarat awal bagi para pedagang untuk bersiap bangun dan memulai rutinitas dini hari mereka.

Selanjutnya, Anwar kembali memukul tiang listrik sekitar pukul 03.00 WIB dengan pola berbeda. Irama bunyi itu sudah dikenal warga sebagai penanda waktu yang membuat mereka secara refleks terjaga dari tidur.

Tradisi ini ternyata bukan hal baru. Kebiasaan memukul tiang listrik sebagai penanda waktu malam sudah berlangsung puluhan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari budaya gotong royong kampung.

Menurut Anwar, kebiasaan ini dijaga karena manfaatnya dirasakan langsung oleh warga. Jika pedagang terlambat bangun, mereka bisa kehilangan kesempatan berjualan dan berujung pada kerugian ekonomi.

Selain membantu pedagang, bunyi tiang listrik juga berfungsi sebagai pengingat waktu ibadah. Banyak warga mengaku terbantu untuk bangun lebih awal dan bersiap menyambut waktu salat Subuh.

Sebelum memukul tiang listrik, Anwar biasanya melakukan patroli singkat untuk memastikan keamanan lingkungan. Setelah itu, ia memukul tiang di lokasi strategis agar suaranya dapat terdengar merata.

Bagi warga Cikoko, suara tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Alih-alih terganggu, mereka justru merasa kehilangan jika suatu malam bunyi tiang listrik tak terdengar.

Di tengah kemajuan teknologi dan keberadaan alarm digital, cara sederhana ini justru dinilai lebih efektif karena mengandung unsur kebersamaan dan kepedulian sosial yang kuat.

Kisah Anwar menunjukkan bahwa solidaritas dan perhatian terhadap sesama masih hidup di tengah kota besar, di mana bunyi tiang listrik bukan sekadar suara malam, melainkan tanda kepedulian yang membangunkan harapan banyak orang.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.