Sule Dicap ‘Pelawak Baperan’ Gegara Tolak Roasting, Akui Kena Cancel Job

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Komedian Sule beberapa hari lalu buka suara soal insiden yang sempat memengaruhi kariernya. Ia mengaku pernah menolak tampil di segmen roasting milik rekan se‑komedian, Kiky Saputri, dan sejak saat itu reputasinya sempat terpukul dengan cap sebagai “pelawak baperan”.

Menurut Sule, penolakan itu terjadi pada tahun 2021 saat ia merasa kondisi mentalnya sedang tidak stabil dan khawatir emosinya tak terkendali jika harus tampil di latihan langsung. Ia memilih mundur daripada mengambil risiko.

Akibat keputusan tersebut, Sule mengaku sempat kehilangan sejumlah tawaran pekerjaan. “Yang cancel pekerjaan, ada,” ungkapnya. Ia juga mengatakan bahwa hujatan dari dunia maya ikut membesar hingga sampai ke lingkup industri hiburan.

Sule menyebut bahwa selama kurun waktu tersebut ia merasa seperti “terisolasi” di dunia kerja hiburan. Ia mengungkap bahwa banyak pihak di industri yang enggan bekerja dengannya karena persepsi negatif itu telah melekat.

Pada kesempatan yang sama, Sule menjelaskan bahwa ia telah meminta maaf kepada Kiky Saputri serta pihak terkait setelah insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa penolakan bukan karena sombong atau tidak profesional, melainkan karena kondisi emosional yang saat itu tidak memungkinkan.

Di hadapan media, Sule mengatakan bahwa hubungan profesionalnya dengan Kiky kini sudah baik dan tidak ada masalah yang mengganjal. Ia berharap agar kejadian di masa lalu tidak terus membayangi kariernya yang telah lama ia bangun.

Meskipun demikian, stigma “baperan” yang kemudian melekat pada Sule masih terasa hingga kini di dunia hiburan dan media sosial. Ia mengakui bahwa cap ini cukup mengganggu citra dirinya sebagai pelawak yang selama ini dikenal santai dan jenaka.

Pengamat hiburan menilai bahwa kasus Sule ini menggambarkan bagaimana industri komedi dan televisi Indonesia kadangkala menuntut pelawak untuk terus bersikap “tangguh” dan menjadi objek lelucon tanpa ruang untuk perlindungan emosional. Kasus ini juga menyoroti fenomena cancel culture di tanah air.

Bagi Sule, kini bukan hanya soal membalik reputasi tetapi juga soal menyuarakan pentingnya kesehatan mental di kalangan pelawak dan pekerja hiburan. Ia mengajak rekan seprofesi untuk tidak menyepelekan kondisi psikologis di balik panggung yang sering kali penuh tekanan.

Ke depan, Sule berharap bahwa publik dan industri hiburan bisa melihat pelawak bukan sekadar objek hiburan, tetapi juga manusia yang memiliki batas emosi. Ia berkomitmen untuk kembali aktif dan produktif, sekaligus menjaga citra profesional yang lebih matang.

Perjalanan ini menjadi pembelajaran bagi publik bahwa di balik tawa, pelawak juga memiliki batas emosional yang harus dihormati, dan profesionalisme bukan berarti harus mengorbankan kesehatan mental.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.