TEK BAYA

oleh -
Edisi berkurung dirumah (1) Oleh Tan Ambo

1.Sampai kini saya indak tahu sia dulu nan memulai sebutan “Tek Baya” ini. Sebutan pengganti untuk isteri. Saya membacanya dipostingan duya FB ini. Pertama kali saya membaca dalam postingan sanak Alwi Karmena. Bertirit-tirit sesudah itu sanak Rizal Moenir dan beberapa teman lainnya. Lama-lama lasuh juga mendengarnya. Dek saya ada terasa humornya. Saya sata latah pula menyebut Tek Baya lo ke isteri, tentu diduya maya juga. Ber Tek Baya urang ber Tek Baya pula saya. Sementara isteri saya surang indak tahu dirinya dipaetek baya. 2. Sebetulnya Tek Baya hanya salah satu sebutan ke “Pasangan Hidup” atau “Teman Hidup”. Sambuh alah sebutan lain. Seungguk. Tergantung pula dari siapa yang menyebut atau menghimbaunya. Sebutan nan umum Tek Baya adalah “Isteri”. Di Minang sering juga menyebut isteri dengan dengan “Bini”, Urang Rumah”, “Induak Bareh”, “Padusi Awak”. Sedang di Piaman kampung saya, mereka nan ketek dari saya atau sepangkat adik saya mehimbau jo sebutan “Kak Tangah”ke Tek Baya. Di Tandikat masih daerah Piaman sebutannya “Timudo”. Dan di daerah lain ada nan menyebutnya “Kak Tuo”. Ditipak kenakan mehimbau Tek Baya jo “Mintuo”. Beitu lazimnya menyebut bini mamak. Tapi kalau ke mamak mehimbau Om, sebutan Mintuo berganti pula jo Tante. Jadi sejalan bunyinya. 3.Dikalangan komunitas induk-induk seperti diarisan, majlis taqlim dll.sebutan ke seorang pedusi membawa nama suaminya. Memang indak sada alahnya. Tek Baya termasuk nan dihimbau takah tu. Bu Ambo saya dengar. Nama saya dibawa-bawa,padahal induk-induk tu indak kenal kenal jo saya. Dalam agama indak boleh isteri menyebut nama suaminya untuk dirinya. Seroman itu saya dengar. Tapi ba a lagi.