Jakarta, Semangatnews.com – Suasana di kawasan Pasar Jombang, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, berubah menjadi mencekam usai aksi pemalakan yang dilakukan seorang preman terhadap pedagang ayam potong, membuat kerugian materi senilai jutaan rupiah.
Kejadian berlangsung pada Senin pagi ketika pelaku, yang diketahui bernama DH alias Aldo, memasuki lapak pedagang dan mengancam sambil membawa pisau daging. Korban yang sedang melayani pembeli tak sempat menghindar ketika dagangannya dirusak dan uang tunai diambil paksa.
Menurut keterangan aparat kepolisian, kerugian yang dialami korban terdiri dari uang tunai dan dagangan ayam yang rusak, dengan total sekitar Rp 1.220.000.
Pelaku sebelumnya pernah terlibat kasus pemalakan konter ponsel di wilayah yang sama sembilan bulan lalu dan sempat ditangkap. Begitu bebas, ia kembali melakukan aksi keji di pasar tersebut.
Polisi dari Polda Metro Jaya bergerak cepat dan berhasil menangkap pelaku di wilayah Babakan Madang, Bogor, setelah menerima laporan warga dan melakukan pengejaran. Sejumlah barang bukti termasuk pisau daging dan sebuah ponsel berhasil disita.
Kepanikan melanda pedagang dan pengunjung pasar saat kejadian berlangsung. Sementara korban mengaku masih trauma dan khawatir menjadi sasaran kembali jika tindakan kekerasan seperti ini tidak segera ditangani secara serius.
Warga sekitar pun menyayangkan kondisi keamanan yang dianggap tak lagi terkendali di area pasar yang selama ini dikenal sebagai sentra dagang lokal. Mereka mendesak pihak berwenang memperketat patroli dan pengawasan di malam hari.
Dalam sambutannya, aparat kepolisian berjanji untuk meningkatkan kehadiran di lapangan serta menindak tegas tindakan premanisme yang mengganggu ketertiban umum. Dorongan untuk menghadirkan lingkungan pasar yang aman kembali menjadi fokus.
Namun kenyataan bahwa pelaku sempat bebas setelah kasus sebelumnya menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas rehabilitasi dan pengawasan terhadap pelaku kriminal berulang. Pengamat menyebut bahwa pendekatan preventif dan penataan ruang publik perlu diperkuat.
Akhirnya, rapat koordinasi antara pengelola pasar, dinas terkait, dan kepolisian akan digelar dalam waktu dekat untuk menyusun langkah jangka pendek menanggulangi ancaman kriminalitas di area pasar serta menyiapkan sistem pelaporan cepat bagi pedagang korban.
Peristiwa ini menjadi alarm bagi semua kota penyangga Ibu Kota bahwa kerentanan pedagang kecil terhadap aksi kekerasan dan pemalakan masih nyata. Pemulihan kepercayaan dan keamanan komunitas niaga lokal akan menentukan kondisi ekonomi mikro masyarakat ke depan.(*)
