Terjebak di Puncak Dunia: Pendaki Alami Teror Badai Salju di Everest

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Kengerian tiba ketika hujan salju deras menyambar lereng timur Gunung Everest pada Jumat malam, menjebak ratusan pendaki dalam suhu membeku dan badai yang tak tertahankan, memaksa tim penyelamat Tibet bergerak cepat membuka akses ke ketinggian di atas 4.900 meter.

Sekitar 350 orang telah berhasil dievakuasi ke Qudang, kota kecil yang menjadi titik aman sementara setelah medan curam dan salju tebal menghalangi jalur evakuasi normal, sementara sekitar 200 pendaki masih terjebak menunggu giliran diselamatkan.

Seorang pendaki bernama Chen Geshuang, yang semula menargetkan mencapai Cho Oyu Base Camp, mengaku terkejut karena cuaca memburuk mendadak; malamnya, salju setinggi hampir satu meter tiba-tiba menutup tenda dan memutus jejak perjalanan.

“Saljunya begitu berat hingga tenda hampir roboh,” kata Chen, menuturkan bahwa mereka harus menghabiskan waktu puluhan jam membersihkan salju dan menjaga suhu tubuh agar tak terkena hipotermia.

Angin kencang disertai guntur memperparah kondisi, dan rintik salju bercampur embun beku menembus lapisan pakaian pelindung, membuat suasana makin brutal di tengah gunung yang sudah jauh dari peradaban.

Jalur evakuasi dipenuhi salju dan longsoran kecil, sehingga tim penyelamat memanggul peralatan berat dan bekerja sama dengan warga desa setempat untuk membuka rute yang dulu pernah dilalui pendaki.

Pemandu dari kelompok pendakian tersebut menyebut bahwa fenomena ini sangat tak biasa untuk periode Oktober, dan bahwa mereka belum pernah menghadapi badai jenis ini selama bertahun-tahun bekerja di Himalaya.

Operasi penyelamatan berjalan selama berjam-jam, kadang melibatkan pendakian ekstra dan penggalian salju demi membuka jalur yang terkubur, sambil memastikan setiap pendaki yang tersisa dapat bertahan hingga dijangkau tim penyelamat.

Media lokal di Tibet menghentikan sementara penjualan izin pendakian dan akses ke rute Everest dari sisi China agar kondisi bisa dikendalikan dan operasi penyelamatan berjalan aman.

Kondisi ekstrem di Himalaya seperti ini memperlihatkan betapa tipisnya batas antara petualangan dan bencana, dan menggarisbawahi perlunya teknologi prediksi cuaca serta kesiapsiagaan yang jauh lebih matang bagi pendaki dan otoritas setempat.

Tim ilmiah dan organisasi pendakian kini tengah menyisir lokasi yang diduga menjadi tempat jatuhnya fragmen salju besar dan serpihan peralatan, sekaligus melakukan evaluasi jalur pendakian demi mencegah insiden serupa di masa mendatang.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.