Jakarta, Semangatnews.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan terbang ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping di tengah tekanan politik besar akibat perang Iran yang belum sepenuhnya mereda. Kunjungan tersebut dinilai menjadi upaya penting Trump untuk mencari kemenangan diplomatik setelah konflik Timur Tengah memukul popularitasnya di dalam negeri.
Pertemuan Trump dan Xi disebut akan berlangsung pada 14 hingga 15 Mei 2026 di Beijing. Agenda awal yang sebelumnya fokus pada perang dagang dan hubungan ekonomi kini berubah karena situasi geopolitik global semakin panas akibat konflik Iran.
Sejumlah pengamat menilai Trump datang ke China dengan posisi yang tidak sekuat sebelumnya. Selain tekanan akibat perang Iran, kebijakan tarif tinggi terhadap China juga dinilai gagal memberikan keuntungan besar bagi Amerika Serikat seperti yang pernah dijanjikan Trump kepada publik.
Analis hubungan internasional menyebut Trump kini membutuhkan capaian diplomatik agar citranya sebagai pemimpin global tetap terjaga menjelang momentum politik di dalam negeri. China pun dinilai berada dalam posisi tawar yang lebih kuat dibanding beberapa bulan lalu.
Perang Iran menjadi isu yang sangat mempengaruhi agenda pertemuan kedua pemimpin negara tersebut. Washington berharap Beijing dapat membantu menekan Iran agar bersedia melanjutkan upaya perdamaian dan membuka kembali jalur perdagangan penting di Selat Hormuz.
Bagi China, konflik Iran juga membawa dampak besar terhadap stabilitas energi nasional mereka. Negeri Tirai Bambu diketahui sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sehingga gangguan di Selat Hormuz ikut memukul kepentingan ekonomi Beijing.
Meski begitu, China disebut tetap berhati-hati agar tidak terlihat terlalu berpihak kepada Amerika Serikat. Beijing masih menjaga hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Iran sambil mencoba memposisikan diri sebagai mediator internasional dalam konflik tersebut.
Selain isu Iran, Trump dan Xi diperkirakan tetap membahas persoalan perdagangan, ekspor teknologi, Taiwan hingga kerja sama investasi. Namun sejumlah pengamat memprediksi tidak akan ada kesepakatan besar yang benar-benar mengubah hubungan kedua negara secara drastis.
Trump disebut hanya menargetkan kesepakatan moderat seperti kerja sama sektor pertanian, ekspor daging sapi dan pembelian pesawat Boeing oleh China. Langkah itu dianggap cukup penting untuk menunjukkan keberhasilan diplomasi di tengah tekanan perang dan ekonomi global.
Sementara itu, pemerintah China diperkirakan akan memanfaatkan momentum ini untuk meminta pelonggaran sejumlah kebijakan Amerika Serikat terkait teknologi dan perdagangan. Beijing juga disebut ingin memastikan isu Taiwan tidak memicu ketegangan baru antara kedua negara.
Kunjungan Trump ke China kini menjadi perhatian dunia internasional karena dianggap dapat menentukan arah hubungan Washington-Beijing di tengah ketidakpastian geopolitik global. Hasil pertemuan tersebut juga diyakini akan mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia dalam beberapa bulan ke depan.(*)

