Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan antara Moskow dan Kyiv kembali memuncak setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa Rusia tidak segan memperluas wilayah jika Ukraina menolak rencana perdamaian Amerika Serikat. Uzur diplomasi ini menjadi ulangan tarik-menarik antara kekuatan militer dan diplomasi.
Dalam rapat Dewan Keamanan Rusia, Putin mengatakan bahwa rencana damai AS bisa menjadi dasar penyelesaian permanen. Namun, ia juga memperingatkan bahwa jika Ukraina tidak membuka pintu negosiasi, pasukan Rusia siap terus maju di medan perang.
Putin mengklaim bahwa kemajuan militer Rusia di wilayah-wilayah kunci sudah nyata dan akan terus berlanjut. Ia menyebut Kupiansk sebagai contoh kota yang hampir sepenuhnya dikuasai Rusia, meski klaim ini dibantah pihak Ukraina.
Menurut dia, penolakan rencana perdamaian AS oleh Ukraina dan sekutu Eropa mencerminkan kegagalan mereka memahami realitas di lapangan. Putin menuduh mereka terjebak ilusi bahwa konflik ini bisa dihentikan tanpa mempertimbangkan kepentingan Rusia.
Salah satu poin paling kontroversial dalam draf perdamaian adalah penyerahan sebagian wilayah Ukraina timur kepada Rusia. Permintaan ini menjadi batu sandungan utama bagi Kyiv yang sangat menjaga integritas wilayahnya.
Selain itu, draf perdamaian mengusulkan agar Ukraina mengurangi jumlah tentaranya secara signifikan. Usulan ini menjadi bagian dari strategi perdamaian yang sangat berat karena mengimplikasikan pembatasan kapasitas militer Kyiv.
Putin juga menegaskan bahwa Rusia siap membahas perdamaian, asalkan negosiasi dilakukan dengan itikad baik dari Ukraina. Namun, dia menegaskan bahwa Rusia tidak akan segan melanjutkan tindakan militer jika dialog tidak terjadi.
Di sisi lain, Presiden Zelensky secara publik menolak draf perdamaian tersebut. Ia merasa bahwa ketentuan-ketentuan dalam rencana itu memaksakan pilihan yang merugikan Ukraina dan merampas kedaulatan negaranya.
Zelensky menegaskan tidak akan mengkhianati rakyat Ukraina dengan menyerahkan wilayah atau melemahkan pertahanan negaranya. Ia menyebut akan mengusulkan alternatif yang lebih adil dan berdaulat.
Kremlin menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi bahwa Ukraina bersedia membahas rencana damai AS secara penuh. Kesepakatan formal belum terbentuk, meskipun draf sudah diterima.
Dengan tensi yang semakin meningkat dan ancaman retorika dari Rusia, masa depan gencatan senjata tampak semakin suram. Jika negosiasi gagal dan tekanan militer berlangsung, potensi eskalasi konflik tetap menjadi bayang-bayang gelap bagi stabilitas kawasan.(*)
