Jakarta, Semangatnews.com – Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait rencana ambisius terhadap Kuba. Ia mengklaim negaranya mampu “mengambil alih” Kuba dalam waktu singkat.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah acara di Florida yang dihadiri kalangan politik dan bisnis. Dalam pidatonya, ia menegaskan keyakinannya bahwa dominasi Amerika Serikat akan mudah terjadi.
Trump bahkan memamerkan kekuatan militer yang dimiliki negaranya sebagai alat tekanan. Ia menyebut kemungkinan pengerahan kapal induk raksasa milik Angkatan Laut AS.
Kapal yang dimaksud adalah USS Abraham Lincoln (CVN-72), yang disebutnya sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Menurut Trump, kapal tersebut bisa dikerahkan mendekati perairan Kuba sebagai bentuk demonstrasi kekuatan militer. Ia mengklaim langkah itu akan membuat Kuba menyerah tanpa perlawanan berarti.
Dalam pernyataannya, Trump bahkan menggambarkan skenario di mana kapal tersebut berhenti sangat dekat dengan garis pantai Kuba. Ia menyebut jarak sekitar 100 yard dari pesisir sebagai simbol tekanan langsung.
Ia juga mengaitkan rencana tersebut dengan situasi geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Trump menyebut langkah terhadap Kuba akan dilakukan setelah urusan di Timur Tengah selesai.
Retorika keras ini muncul bersamaan dengan kebijakan baru pemerintah AS yang memperketat sanksi terhadap Kuba. Langkah tersebut menargetkan sektor ekonomi penting seperti energi dan keuangan.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan Trump lebih bersifat politis dan simbolik, ketimbang rencana militer konkret. Namun, pernyataan itu tetap memicu kekhawatiran terkait stabilitas kawasan.
Hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba memang telah lama diwarnai ketegangan. Kebijakan embargo dan tekanan ekonomi terus menjadi bagian dari dinamika kedua negara.
Dengan pernyataan terbaru ini, tensi geopolitik diperkirakan kembali meningkat, terutama jika retorika tersebut diikuti langkah nyata di lapangan.(*)

