Wayang Polah, Cara Asyik Merayakan Kegelisahan Tanpa Harus Jadi Kuno, Karena Menjadi Moderen Tidak Berarti Membuang Akar

by -
Wayang Polah, Cara Asyik Merayakan Kegelisahan Tanpa Harus Jadi Kuno, Karena Menjadi Moderen Tidak Berarti Membuang Akar

Oleh : Andi Muhammad Alief

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Sering kali, ketika kita mendengar kata “tradisi”, yang terlintas di benak adalah barisan benda dalam etalase kaca museum : sunyi, berdebu, dan keramat.

Tradisi dianggap sebagai sesuatu yang sudah “selesai”, sebuah warisan absolut yang harus dijaga kemurniannya hingga titik darah penghabisan.

Penulis Andi Muhammad Alief
Penulis Andi Muhammad Alief

Jumat, 6 Maret 2026, pukul 19.30 WIB di ruang kreatif Langgeng Art Foundation (LAF), Yogyakarta, persepsi tersebut runtuh.

Pertunjukan Wayang Polah hadir bukan sebagai upacara penghormatan yang kaku terhadap masa lalu, melainkan sebagai sebuah ruang negosiasi yang berisik antara akar budaya dan kegelisahan zaman yang kian tak menentu.

Fenomena ini menangkap sebuah esensi penting, bahwa tradisi bukanlah artefak absolut yang berhenti bernapas.
Ia adalah organisme hidup yang harus terus “polah” bergerak, bertingkah, dan gelisah, agar tetap relevan dengan denyut nadi manusia modern.

Music Director Wayang Polah
Music Director Wayang Polah
Music Director Wayang Polah
Music Director Wayang Polah

Melalui pendekatan interdisipliner, Wayang Polah berhasil membedah batas-batas pakem tradisional menuju sebuah presentasi seni performa yang adaptif, nakal, sekaligus mendalam.

Mendefinisikan Ulang “Polah” dalam Estetika Modern

Secara harfiah, dalam bahasa Jawa, polah merujuk pada tingkah laku, gerak yang aktif, atau bahkan kegelisahan yang tidak bisa diam.

Dalam konteks pertunjukan ini, polah bukan sekadar judul, melainkan sebuah pernyataan politik kebudayaan.
Jika wayang kulit purwa yang kita kenal sangat mengedepankan pakem, ketenangan, dan filosofi adiluhung yang tertata, maka Wayang Polah adalah antitesisnya yang jujur.

Ia adalah bentuk eksperimen artistik yang menitikberatkan eksplorasi gerak, menonjolkan dinamika visual dan fisik yang provokatif.

Hal pertama yang mengguncang kesadaran penonton adalah materialitasnya. Lupakan kulit kerbau yang ditatah halus dengan prada emas.

Wayang-wayang yang menari di balik layar malam itu adalah “monster-monster” estetis yang dirakit dari limbah plastik, potongan logam, dan berbagai benda temuan (found objects).

Penggunaan material ini bukan tanpa alasan.
Ia adalah kritik visual terhadap isu lingkungan dan konsumerisme global yang mencekik kita hari ini.

Ketika bayangan dari limbah plastik itu diproyeksikan ke layar, ia menciptakan tekstur yang kasar, tidak beraturan, dan aneh, sebuah cerminan dari dunia kita yang kian terdistorsi oleh sampah peradaban.

Narasi yang Berhenti Mengutip Masa Lalu

Selama berabad-abad, kita terbiasa melihat wayang sebagai media untuk menceritakan epik Mahabarata atau Ramayana.

Tentu, kisah-kisah itu abadi. Namun, apakah Pandawa dan Kurawa selalu mampu mewakili kegelisahan generasi muda di tahun 2026 yang cemas akan krisis iklim, kesehatan mental, atau alienasi digital?

Wayang Polah memilih untuk tidak lagi mengambil kisah klasik secara utuh. Ia justru merespons isu-isu kontemporer yang lebih dekat dengan kulit kita.

Narasi yang dibawakan adalah tentang kegelisahan manusia modern; tentang bagaimana kita bertahan di tengah arus informasi yang meluap-luap.

Di sini, tokoh wayang tidak lagi memiliki identitas hitam-putih yang baku. Mereka adalah representasi dari ketakutan kolektif, dan keinginan untuk lepas dari kungkungan sistem.

Dengan cara ini, wayang kembali ke fungsi asalnya: sebagai cermin bagi masyarakatnya, bukan sekadar dongeng pengantar tidur yang menjauhkan kita dari realitas.

Simfoni Mesin dan Bayangan Digital

Evolusi ini semakin terasa ketika kita melihat bagaimana teknologi menyusup ke dalam ruang pertunjukan.
Estetika visual yang dihasilkan menjadi sangat berbeda. Bayangan yang jatuh di layar terasa lebih dinamis dan dalam berkat dukungan teknologi proyeksi digital serta tata cahaya modern.

Cahaya tidak lagi hanya berasal dari satu titik statis (blencong), melainkan bergerak, berkedip, dan berubah warna sesuai dengan emosi pertunjukan, memberikan kedalaman ruang yang baru dan tak terduga. Transformasi paling abstrak terjadi pada peran Sang Dalang.

Di panggung LAF, dalang tidak lagi duduk bersila sebagai penutur tunggal yang memegang kendali mutlak atas narasi.

Ia bermutasi menjadi seorang penggerak atau performator yang berinteraksi secara intim dengan elemen visual dan bunyi. Begitu pula dengan aspek auditorisnya.

Jangan harap Anda akan mendengar denting gamelan slendro-pelog dalam formasi lengkap yang meditatif.

Sebagai gantinya, telinga penonton disuguhi musik yang atmosferik dan futuristik. Penggunaan synthesizer yang dipadukan dengan bunyi-bunyi organik dari benda temuan menciptakan lanskap suara yang ganjil namun memikat.

Hubungan antara bunyi dan gerak dalam karya ini bersifat responsif dan improvisatif. Musik bukan lagi sekadar latar belakang (background music), melainkan subjek aktif yang ikut menentukan ke mana arah gerak wayang akan melompat.

Ini adalah sebuah dialog langsung yang cair, di mana musik dan gerak saling “mengganggu” dan saling mengisi.

Antara Tradisi dan Transendensi

Menonton Wayang Polah di Langgeng Art Foundation bukanlah pengalaman intelektual yang berat dimana penonton harus menghafal silsilah keturunan Barata. Sebaliknya, penonton diajak untuk merasakan sensasi audio-visual yang mentah dan jujur. Fokus utamanya adalah pengalaman sensorik.

Kita diajak untuk “merasakan” bayangan, “mendengar” kegelisahan, dan “melihat” bunyi. Ada semacam kejujuran dalam kekasaran bayangan limbah plastik tersebut. Ada keindahan dalam distorsi suara synthesizer. Pertunjukan ini membuktikan bahwa kita tidak perlu menjadi “kuno” untuk menjadi “tradisional”.

Kita tidak perlu memaksakan diri memakai atribut masa lalu jika jiwa kita sudah berada di masa depan. Justru dengan menggunakan alat-alat hari ini, kita bisa menghidupkan kembali ruh tradisi yang sering kali tercekik oleh formalitas.

Peristiwa yang terjadi adalah sebuah tamparan lembut bagi mereka yang menganggap transformasi seni adalah pengkhianatan terhadap leluhur.

Justru sebaliknya, cara terbaik untuk menghormati tradisi adalah dengan memberinya ruang untuk bertransformasi, membiarkannya bernapas dalam paru-paru zaman yang berbeda. Wayang harus dibiarkan “polah” agar ia tidak mati menjadi sekadar komoditas pariwisata yang hampa.

Menumbuhkan Benih Dialog Baru

Keberadaan Langgeng Art Foundation sebagai lokus pementasan ini pun memberikan kontribusi krusial dalam membangun atmosfer yang inklusif.
Di ruang ini, sekat antara panggung dan penonton seolah luruh; tidak ada lagi jarak hierarkis yang biasanya ditemukan dalam pertunjukan tradisional formal.

Para pengunjung, yang didominasi oleh generasi muda, seniman lintas disiplin, hingga aktivis lingkungan, terlibat dalam sebuah dialog komunal yang cair setelah pertunjukan berakhir. Mereka tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk saling bertukar kegelisahan mengenai masa depan ekosistem seni dan lingkungan hidup.

Interaksi organik ini membuktikan bahwa Wayang Polah berhasil menciptakan sebuah ekosistem kecil di mana tradisi tidak lagi dipuja secara sepihak, melainkan didiskusikan secara kritis dan terbuka sebagai milik bersama yang dinamis.

Merayakan Kegelisahan

Pada akhirnya, Wayang Polah adalah sebuah perayaan atas kegelisahan generasi muda.

Ia menunjukkan bahwa seni tradisi memiliki elastisitas yang luar biasa untuk menampung isu-isu paling modern sekalipun tanpa harus kehilangan unsur spiritualitasnya.

Spiritualitas dalam Wayang Polah tidak ditemukan dalam mantra-mantra lama yang mungkin sudah tidak kita pahami artinya, melainkan dalam kejujuran ekspresi dan upaya manusia untuk tetap berdaulat di tengah gempuran zaman.

Pertunjukan di LAF malam itu adalah bukti sahih bahwa tradisi adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Selama manusia masih memiliki kegelisahan, selama itu pula wayang akan terus bergerak, bertingkah, dan berpolah.

Bagaimana pun, menjadi modern tidak berarti membuang akar, dan menjadi berakar tidak berarti harus berhenti bergerak. Wayang Polah adalah jembatan yang kita butuhkan untuk tetap waras di masa depan yang riuh ini. (*)

Catatan Redaksi :
Andi Muhammad Alief, Praktisi dan Peneliti Seni Musik saat ini menempuh studi Pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta program Penciptaan Seni Musik. Memiliki ketertarikan pada eksperimen musik, kajian seni pertunjukan dan tekun menelusuri rekam jejak kebudayaan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.