Oleh Dr. Suryadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Dari mana datangnya wibawa? Yang jelas bukan dari sawah turun ke kali, seperti lintah.
Kiranya tak berlebihan kalau dikatakan bahwa wibawa adalah rahmat Tuhan yang masuk ke dalam tubuh kasar manusia. Ia menyatu dengan diri seseorang tanpa dibuat-buat.
Wibawa, dengan demikian, tidak bisa hinggap pada jiwa setiap orang. Ia hadir dalam diri seseorang karena konsistensi orang itu dalam bertindak, karena memiliki kelurusan antara kata-kata dan perbuatan.
Dengan kata lain, wibawa adalah titipan Tuhan kepada insan manusia. Ia tidak dapat dibeli dengan uang bergepok dan sekeranjang emas batangan. Ia juga tidak dapat dihadirkan secara paksa ke dalam diri.
Jadi, wibawa tidak dapat diejan-ejan. Dalam budaya Minangkabau wibawa disebut ‘tuah’. Dan ada pepatah lama Minangkabau yang mungkin tidak ada salahnya untuk selalu diingat oleh para pejabat publik:
‘Tuah jan diajan-ajan, beko cirik nan kalua’ (Wibawa jangan diajan-ajan, nanti yang keluar malah tahi).
Sering kita mendengar celotehan di pasar ramai atau di palanta lepau kopi : Presiden kita itu memang berwibawa. Karena wibawanya, negara jadi aman dan bangsa asing jadi segan. Orang banyak respek kepadanya.
Terdengar pula komentar dari sudut lain : kok Presiden kita yang ini kelihatan kurang berwibawa, ya? Sepertinya dia diperolok-olokkan saja oleh rakyat dan dipandang enteng saja oleh bangsa asing.
Tentu sudah sering pula terdengar oleh kita, atau mungkin kita melihat dengan mata kepala sendiri, seseorang yang kehilangan wibawa.
Kalau seseorang sudah kehilangan wibawa, itu dapat diibaratkan seperti cangkong siput : isinya sudah tidak ada lagi, tinggal kerabangnya saja.
Wibawa hilang karena perbuatan yang merendahkan atau menghinakan diri sendiri.
Orang yang kehilangan wibawa telah melakukan suatu tindakan yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan statusnya yang dihormati dalam masyarakat, apapun tingkatnya – mungkin presiden, raja, gubernur, walikota, sampai kepala rumah tangga.
Orang yang kehilangan wibawa sesungguhnya telah melakukan tindakan blunder terhadap diri sendiri. Dia lupa pada pepatah lama yang penuh iktibar: ’Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya’.
Salah satu perbuatan buruk yang potensial mengikis dan bahkan dapat melenyapkan wibawa seorang pejabat publik adalah korupsi.
Sudah banyak politikus dan birokrat yang kehilangan wibawa karena melakukan tindakan ini. Juga kalau seorang pejabat suka berdusta, ngibul, dan berbohong. “Kata-katanya tak dapat dipegang”, kata rakyat. Itu tanda wibawanya sudah hilang.
Dan jelas, wibawa yang sudah mengirap dari dalam diri itu tidak akan dapat diganti dengan jumlah uang rakyat yang sudah diembat pejabat itu, atau dengan gunung dusta yang sudah diperbuatnya.
Banyak pejabat lapar duit rakyat yang sudah tertangkap, tapi mungkin banyak yang masih belum terendus KPK. Wibawa dalam tubuh mereka sudah terbang ke langit.
Walaupun demikian, masyarakat kita makin pintar dan tahu orang-orang yang bermental korup dan mereka yang suka berbohong.
Mungkin ada pejabat korup di sebuah instansi yang kelihatan berwibawa. Tapi para bawahannya tahu bahwa dia cangok uang.
Maka, pejabat seperti itu akan dicibirkan oleh para bawahannya dari belakang. Dia merasa dirinya masih berwibawa, tapi sebenarnya dia sudah kehilangan wibawanya.
Wibawa, dengan demikian, memang penuh rahasia. Dalam masyarakat kita ada kepercayaan bahwa wibawa dapat didatangkan ke dalam tubuh kasar seseorang melalui cara tertentu.
Kalau kita berbicara tentang hal ini, tentu kita ingat pada dukun atau tukang jual batu cincin akiak.
Dalam majalah ‘Misteri’ yang laris manis itu sering dimuat iklan tentang dukun yang menyediakan azimat yang dapat mendatangkan wibawa kepada pemakainya atau mengembalikan wibawa seseorang yang sudah terlanjur hilang.
Pernah pula saya melihat seorang penjual batu cincin yang menawarkan cincin akiak gedang dengan batu mantiko warna kemilau kepada calon pembeli sambil mengatakan bahwa jenis batu itu akan mendatangkan wibawa kepada pemakainya.
Mereka yang kariernya agak mandeg di kantor, bisa cepat percaya dengan rayuan dukun dan tukang batu cincin itu.
Walau kini sudah abad 21, masyarakat kita banyak yang masih percaya dengan hal-hal mistis.
Tapi mereka yang saraf belakangnya sudah kena angin pencerahan, tentu akan menjauhi para dukun dan tukang jual batu cincin yang menawarkan ‘paket wibawa’ itu.
Wibawa datang ke dalam diri seseorang bukan melalui batu cincin dan azimat, tapi melalui tindakan yang sesuai
dengan ucapan, satunya kata dengan perbuatan, melalui usaha menjaga harga diri.
Wibawa yang coba dihadirkan ke dalam diri semata-mata melalui show off limpahan uang dan harta kekayaan, apalagi jika diperoleh melalui tindakan korupsi, bukanlah wibawa yang sebenarnya. Itu hanyalah wibawa yang diejan-ejan.
Mereka yang mengejan-ejan wibawa akan muncul dalam ribuan bentuk wajah centang-perenang di media sosial, di’sayat-sayat’ oleh netizens, seperti wajah mantan Presiden itu.

