YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Tampil urakan, berambut panjang dan kumis tebal seniman patung nasional Ali Umar (48 th) yang lebih tiga dekade silam bermukim dan berkarya di Yogyakarta tetap saja memikirkan seniman lain dan publik di luar dirinya sendiri.
Pada kesempatan pameran patung internasional 95 tahun Arby Samah 19 sd 23 Juni 2025 di Taman Budaya, Sumbar di sela sela waktu bersama teman teman dari Tanah Air maupun negara lain, Ali Umar senantiasa mengemukakan pikirannya perihal pentingnya mewujudkan museum seni rupa di daerah kelahirannya Pariaman, mengingat di daerah ini sejak lama memiliki banyak seniman seni rupa terkemuka di tanah air.

Mengapa harus di Pariaman? Tentulah ada pertimbangan khusus, bukan karena ego saya pribadi lahir di Pariaman, melainkan di Pariaman dan sekitarnya pernah lahir dua tokoh besar seni rupa Indonesia yakni Zaini dan Nashar dan banyak generasi sesudahnya hingga generasi muda saat ini.
“Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita sampaikan,” ujar Ali Umar kepada semangatnews.com di kediamannya, Jogonalan Kidul Rt. 03. Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, Yogyakarta, Selasa Malam (02/07/25).

Semangat, ide dan pikiran pikiran Ali Umar selama kegiatan pameran berlangsung, rupanya mendapat respon positif dan apresiasi Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Dr. H. Jefrinal Arifin, SH, M.Si beserta jajarannya dengan menghubungi OPD Pariwisata dan Kebudayaan Pariaman dan hasilnya, Pariaman menyatakan kesiapannya untuk mewujudkan museum seni rupa dengan memanfaatkan gedung/bangunan rumah tabuik Subarang milik pemerintah berlokasi bersebelahan dengan kantor wali kota Pariaman.
Mengapa saya selalu resah dan gelisah perlunya museum dibangun di Sumatera Barat? Jawabannya ; hal ini dimaksudkan adalah menyangkut idealisme seniman itu sendiri perihal kelestarian karya karya yang bernilai seni tinggi. Mengingat museum merupakan rumah tempat penyimpanan karya karya terbaik hasil penjelajahan kreativitas para seniman masa lalu, kini dan masa depan, kata Ali Umar ISI Yogyakarta yang telah mengikuti sejumlah pameran tunggal di Indonesia dan pameran kolektif di tanah air dan sejumlah negara.

Selain itu, suatu museum seni rupa berisikan karya karya terbaik bernilai peradaban tinggi yang kaya nilai nilai dengan karya karya yang dihasilkan seniman sesuai ruang dan waktu juga merupakan pertaruhan suatu image sosial di tengah tengah masyarakat kita yang kaya dengan adat istidat dan nilai nilai di dalamnya, ujar Ali Umar memberi ilustrasi.
Yang tak kalah pentingnya, di museum ini nantinya tanpa menganggu karya tetap yang telah di atur kurator yang telah ditunjuk untuk itu, dapat juga dimanfaatkan untuk ruang pameran secara berkala regional, nasional bahkan internasional sesuai kalender yang ditetapkan pihak museum bersama pemerintah.
Sisi lain dari suatu museum daerah tentulah terdapat ruang tawar bisnis di dalamnya, misal untuk memasuki museum dengan karya karya terbaik di dalamnya dapat di pungut bayaran sesuai regulasi yang disepakati pemerintah daerah.
Kita optimis semua saling diuntungkan, baik seniman, masyarakat dan pemerintah, ujar Ali Umar yang pernah menghadiahkan patung kayu berbentuk penjara kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di hari ulang tahun badan anti rasuah itu beberapa waktu lalu.
Karya Ali Umar dan Muatan Beragam Persoalan Di dalamnya
Mengamati Karya-karya patung Ali Umar sejak lebih tiga dekade silam dari berbagai kesempatan pameran baik lokal maupun di sejumlah negara, diakui sering mengagetkan publik dan pengamat seni du tanah air.
Betapa tidak, karya-karyanya banyak bertutur perihal dinamika dan beragam persoalan yang sering diamati dan disaksikan kecara kasat mata dihadapannya yang dulu pernah disebutnya sebagai “Seni Preeet”. Sebagian diantaranya berbentuk patung klasik bahkan tampil klasik.
Dalam catatan kita tentang karya Ali Umar selama ini, sebagian diantaranya bermuatan seperangkat nilai nilai guna menghalau bermacam persoalan-persoalan yang muncul di muka bumi ini diakibatkan kekuatan politik, sosial, ekonomi global, hingga masalah ideologi yang menjadi isu-isu bahkan yang menyedigkan ada berita bohong di dalamnya yang senantiasa terorganisir, sistemik sehingga tak berhenti mengacau publik termasuk seniman yang dikemas dalam bahasa visual di ranah estetis. (muharyadi)
