Amrizal Salayan: Karya Seni Sebagai Cerminan Atau Tanda Siapa Senimannya

by -
Amrizal Salayan, Karya Seni Sebagai Cerminan Atau Tanda Siapa Senimannya
Amrizal Salayan, Karya Seni Sebagai Cerminan Atau Tanda Siapa Senimannya

Catatan Kecil : Muharyadi

SEMANGATNEWS.COM – Seni bagi seniman umat muslim diantara umat yang ada di muka bumi ini pada hakikatnya merupakan sarana jalan tengah, menuju pemahaman yang tak terpahami. Karya seni merupakan cerminan atau sebagai tanda siapa senimannya, sebagaimana tersirat dalam salah satu ayat Al Qur’an berkaitan dengan tanda-tanda akan kebesaran-NYA atas diri manusia.

Baca Juga : Nasjah Jamin Maestro Asal “Urang Awak” Merajut Seni Rupa dan Sastra di Kanvas dan Kertas Imajinasi

Hal ini terungkap ketika saya memulai diskusi ringan dengan salah seorang seniman patung senior “orang awak” Amrizal Salayan (67 th) kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1958 saat semangatnews.com bertandang ke studio patung miliknya di jalan Ligar Utara 2, Nomor 68 – Awiligar Raya, Kelurahan Cibeunying – Kabupaten Bandung, baru-baru ini.

Amrizal Salayan dan Penulis
Amrizal Salayan dan Penulis

Menurut Amrizal Salayan, lama saya berpikir, bahkan sering menjadi bahan pertanyaan, sampaikan akhirnya ditemukan dalil dari hadis bahwa, barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Dengan demikian alam, manusia, makhluk hidup dan seluruh peristiwa adalah tanda. Tanda dari penciptanya, ujar

Amrizal Salayan yang telah lama merantau, menetap dan berkarya di Bandung memberi ilustrasi.
Menurut Amrizal Salayan, pematung yang juga pelukis ini menyebutkan dikaitkan dengan tanda sebagaimana dijelaskan tadi, mengingatkan saya akan pada ungkapan sastra di Minangkabau berupa : “.”Alam takambang jadi guru, bumi dan langit ada di dalamnya

Amrizal Salayan, Hamba I, Som Stone, Installation, Dimension Variable
Amrizal Salayan, Hamba I, Som Stone, Installation, Dimension Variable

Kalau terus kita pikirkan peristiwa alam semesta ini, maka kita akan memahami penciptanya. dan eksistensi diri yang sesungguhnya. Melihat alam tampak diri, melihat diri tampak Tuhan. Melihat Tuhan tak tampak yang lain,” tutur Amrizal.

Menyaksikan karya-karya seni rupa seperti seni patung dan seni lukis yang dikerjakan, Amrizal Salayan seniman lulusan SSRI (SMSR/SMKN 4) Padang (1978), dan Departemen Seni Rupa dan Desain ITB Bandung (1988) dan Master Seni Rupa ITB tahun 2004, kita dapat menyimak dan menelusuri lebih jauh akan kegigihannya berkarya seni rupa dua dan tiga dimensi.

Amrizal Salayan, Hamba III, Som Stone, Installation, Dimension Variable
Amrizal Salayan, Hamba III, Som Stone, Installation, Dimension Variable

Kegigihan itu bukan tak beralasan, saat ia berstatus sebagai mahasiswa jurusan seni rupa FKSS (sekaran FBS) UNP Padang tahun 1979 semester dua lantas istirahat. Amrizal Salayan kemudian nekad merantau ke Bandung untuk mencari pengalam hidup baru serta mencari tantangan menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi.

Saya pun mencoba ikut ujian saringan masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Diluar dugaan, alhamdulillah akhirnya saya lolos dan diterima di ITB Bandung tahun 1980.

Diantara lukisan Amrizal Salayan dari banyak karya dua dimensinya yang digarapnya sejak lama
Diantara lukisan Amrizal Salayan dari banyak karya dua dimensinya yang digarapnya sejak lama

“Senangnya bukan main, tapi bingungnya juga bukan kepalang,”. Pasalnya saat lulus do ITB Bandung saya tak dibekali uang untuk mendaftar ulang di kampus bergengsi itu.

Saya bingung dan pasrah seraya berusaha mencari jalan keluar. Lama saya berpikit dan merenung. Usaha dan kerja keras itu akhirnya berbuah manis yang akhirnya ada solusi agar saya bisa masuk kuliah di ITB Bandung, ujar Amrizal tersenyum tanpa menjelaskan solusi tersebut seperti apa.

Patung Sosok Proklamator RI, Soekarno karya Amrizal Salayan
Patung Sosok Proklamator RI, Soekarno karya Amrizal Salayan

Terlepas dari suka dukanya mengikuti pendidikan di ITB Bandung, saya kaget ketika Amrizal Salayan mengajak ke studionya berdampingan dengan kediaman di atas tanah seluas 1000 meter persegi itu, terlihat karya-karyanya mulai sejak masih di SSRI Negeri Padang sejak kelas I hingga kelas IV yang masih tersusun dan terawat rapi terutama lukisan-lukisan cat air yang dikerjakan dengan telaten dan penuh pesona.

Karya-karya tersebut diberi lapisan plastik kaca dan bingkai yang menarik hingga ia tampak seperti baru siap dikerjakan. Ada puluhan karya-karya terbaiknya semasa masih bersekolah di SSRI Negeri Padang (1974-1978) dulu berobyekan beragam pemandangan alam, sosok manusia dan lainnya yang rata-rata memakai medium cat air masih tersimpan rapi.

Ia memang pekerja keras dalam seni rupa di Indonesia yang ditunjukkannya melalui proses berkarya terutama karya tiga dimensi berupa seni patung dari banyak medium yang digunakan. Kemudian sejumlah karya-karya patung monumental yang ada prototypenya berukuran tinggi puluhan meter dengan objek sejumlah tokoh-tokoh ternama, terlihat berdiri kokoh dan indah di beberapa lokasi dekat studionya.

Bahkan salah satu prototype masterpiece berupa karya monumentalnya berjudul
“Ia Ada dengan Ketiadaannya”, aluminium, 2013 yang patung aslinya terletak di halaman Gallery Lawangwangi Creative Speace Bandung terlihat menarik dengan sosok-sosok manusia berjejer berpangku tangan yang dalam jejeran manusia berdiri yang satu persatu hingga terakhir terlihat kosong di dalam tubuh manusia itu.

Yang melatarbelakangi karya ini karena hal yang paling urgen diperjuangkan manusia selama menjalani kehidupan dunia dengan segala aktivitasnya adalah menyongsong kematian. Saya merenungkan betapa seluruh perjalanan kehidupan dengan segala perjuangan, kegigihan, penderitaan, kebahagian semua akan berujung pada kematian. Eksistensi manusia itu ada, karena ia diadakan (ciptaan-NYA),” ujar Amrizal Salayan.

Pada akhir kesempatan bincang-bincang dengan Amrizal Salayan di kediaman dan studionya itu, ia berobsesi menjadikan studio seninya ini sebagai sebuah gallery refresentatif, kalau dapat dijadikan museum. Mengingat karya-karya yang dihasilkan selama lebih empat dekade itu semua lengkap dengan dokumen-dokumen yang tersusun rapi.

Di lokasi kediaman Amrizal Salayan ini, juga sering diadakan diskusi bagi teman-teman seniman, mahasiswa bahkan juga arena latihan silat tradisi Minangkabau yang pesertanya merupakan anak-anak muda perantau yang ada di Bandung bahkan penduduk sekitar,” ujar Amrizal Salayan.

Dari catatan sejarah diperoleh gambaran bahwa pada zaman itu patung dihadirkan sebagai alat ritual, benda keramat bahkan ada yang disucikan. Tetapi perubahan zaman, ruang dan waktu. kini patung — karya tiga dimensi — itu telah mengalami perubahan, baik fungsi, material dan perwujudan bentuk.

Artinya patung tidak lagi sekedar simbol komunal melainkan bergeser sebagai medium aspirasi pribadi si pematung atau setidaknya karya pajangan yang bernilai estetika tinggi.

Lihat karya-karya patung nasional yang sebagian diantaranya digarap pematung asal Sumbar ternyata mampu mempesona dan menghipnotis mata publik seni rupa di tanah air, dimulai era Huriah Adam dkk, Arby Samah hingga ke tokoh muda seperti Kasman KS (alm), Amrizal Salayan (kini dosen ITB Bandung), Syahrizal Koto, Yusman, Basrizal Albara, Yulhendri, Arlan Kamil, Akmal Jaya, Neil Fuadi, Dwita Anjasmara, Rudi Mantofani, Yunizar (kedua nama terakhir juga pelukis) yang mayoritas bermukim dan bertempat tinggal di Yogyakarta dan Bandung serta beberapa nama lain di Sumbar.

Boleh jadi pematung asal Sumbar maupun di luar Sumbar dalam mewujudkan karya-karya terbaiknya tetap saja mengalir kreativitasnya seperti ; konvensional, moderen atau kontemporer multi ide dan eksplorasi. Ia berjalan seperti air mengalir, masuk ke sana kemari dalam ranah kreativitas dengan berbagai kolaborasi medium yang digunakan.

Walau demikian, pertumbuhan dan perkembangannya seni patung di Indonesia cenderung berjalan sendiri-sendiri. Misalnya bagaimana sekelompok pematung konvensional sengaja mempertahankan ideologi pasar sebagai alternatif memenuhi kebutuhan investor dan kolektor. Banyak patung-patung menghiasi berbagai tempat dan lokasi di gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah mewah, pusat perkantoran dan perbelanjaan, bahkan juga dianggap karya investasi yang menjanjikan.

Memasuki abad 21, kita dihadapkan berbagai masalah sosial, budaya, politik, ekonomi, dan berbagai segi kehidupan berkaitan moralitas. Munculah beberapa kelompok pematung muda menawarkan berbagai wacana performance art, instalasi art dan kolaborasi seni.

Berbagai wacana politik, sosial, ekonomi, moralitas dalam fenomena diangkat dalam multi media dan multi-idea. Mereka tidak lagi membatasi disiplin seni atau cabang seni yang terkotak-kotak oleh modernisme untuk menjaga standar estetik. Mereka berangkat dari keragaman tafsir dari realitas yang dirasakan bersama, sehingga karya-karya yang lahir bernuansa kehidupan sosial yang mengarah pada universalilasi gagasan melepaskan diri individu yang terhimpit oleh ruang dan waktu. (***)

Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.