Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Terlahir dengan nama Noeralamsyah “Nasjah” Djamin, awalnya sebagai pelukis. Ia kemudian juga dikenal sebagai sastrawan dan pujangga angkatan 66 bersama Taufiq Ismail, Putu Wijaya, Iwan Simatupang, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, Abdul Hadi, D. Zawawi Imron, Sapardi Djoko Damono, dan Yudhistira Ardi Nugraha Moelyana Massardi.
Baca Juga : Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkum RI Kunjungi Tanah Datar
Tak banyak yang tahu ; Nasjah Jamin anak ke tujuh dari delapan bersaudara lahir di Perbaungan, Sumatra Utara, 24 September 1924 buah perkawinan Haji Djamin (ayah) dan Siti Sini (ibu) ternyata berasal dari Minang. Orang tua Nasjah Jamin perantau Minang yang lama menetap dan bekerja di Sumatera Utara sampai beranak pinak.

Beralasan, saat itu Haji Djamin bekerja sebagai mantri candu dan garam di Deli menetap di tanah Deli, sehingga anak-anaknya disebut anak Deli yang dianggap sudah terlepas dari susunan adat dan kehidupan Minangkabau.
Memiliki orang tua sebagai pegawai rendah, tidak menjadikan Nasjah Djamin berdiam diri. Ia menamatkan pendidikan di HIS (Hollandas Inlandse School). Kemudian melanjutkan sekolah Mulo tahun 1941, setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan seangkatan pula dengan mantan Mendikbud Daoed Joesoef.

Selesai dari Mulo, bakat melukis Nasjah Jamin mulai muncul karena terinspirasi pelukis jalanan bernama Buyet Ketek. Di sela sela belajar melukis Nasjah memutuskan bekerja sebagai kuli kasar di lapangan terbang Pulonia, Medan.
Di usia 21 tahun persisnya tahun 1945, Nasjah turut serta mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Medan bersama M. Saleh, M. Kameil, M. Hussein, Daoed Joseoef, Ismail Daulay, dan Tino Sidin. Kelompok ini pameran pertama di Medan, September 1945.

Setelah 1947, ia pergi ke Jakarta mengikuti long march ke Jawa Barat. Nasjah kemudian turut mendirikan Gabungan Pelukis Indonesia. Ia juga sempat bekerja sebagai ilustrator buku di Balai Pustaka selama 1949-1950, dan di sana Nasjah Djamin bertemu Chairil Anwar. Pertemuannya dengan Chairil Anwar menarik dirinya terjun ke dalam dunia tulis.
Berbekal kepandaian melukis, kemudian Nasjah Jamin bekerja di kantor Bukaka, kantor propaganda Jepang. Di tempat bekerjanya itu, Nasjah Djamin terus belajar melukis dan bergabung dengan para seniman di Jalan Garuda pimpinan Pak Said di Jakarta. Saat itu hadir pelukis Affandi dan Basuki Rosobowo. Sementara kalangan sastrawan hadir Chairil Anwar, H.B. Jassin, Rivai Apin, dan Sitor Situmorang.

Nasjah kemudian merantau ke Jawa belajar melukis bersama Daoed Joesoef dan Sam Suharto di sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM) dikoordinatori Affandi dan S. Sudjojono. Di SIM, Nasjah belajar melukis bersama Nashar, Trubus Soedarsono tahun 1947, di bawah patronase Affandi, sebuah sanggar dipimpin Affandi.
Beberapa lukisan potret karya Nasjah Jamin dalam usia mudanya yang bisa lacak berisikan : Potret Diri, 47×58 cm, 1948 Hang Tuah, 66×74 cm, 1949, Wanita Duduk, 78×100 cm, 1967 hingga Potret Diri dengan Pullover, 53×48 cm, terlihat setiap garis dan refresentasi warna warna-warna redup bahkan nyaris gelap di kanvasnya, seakan menangkap “jiwa” di setiap goresan sebagaimana ilmu yang diperolehnya dari S. Sudjojono saat mendalami seni lukis.
Dari maestro Affandi yang mengajarkan keberanian berekspresi lewat teknik impasto yang khas. Hingga dua legenda Indonesia iti membentuk dasar estetika Nasjah, dikenal dengan gaya realis-ekspresif yang penuh kedalaman emosi.
Satu lagi lukisan berjudul “Lestari Baju Merah” (potret Wanita) tahun 1958 yang dikoleksi Presiden Soekarno (1960) merupakan salah satu lukisan potret terbaik yang pernah dihasilkan Nasjah Jamin diantara banyak lukisan potret yang pernah ia kerjakan.
Tak puas hanya belajar di dalam negeri, tahun 1960, Nasjah terbang ke Tokyo untuk mendalami art dan setting pentas, film, dan televisi. Selama lima tahun di Jepang, ia tak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga menyerap budaya dan disiplin kerja yang turut memengaruhi karyanya. Pengalaman ini menjadi batu loncatan yang membawanya ke panggung seni yang lebih global sekaligus mematangkan identitas artistiknya.
Saat berlangsungnya pameran Retrospektif Nasjah Jamin di Galeri Nasional tahun 2017 disertai peluncuran buku perjalanan sang maestro yang cukup tebal dan ditulis bersama oleh ; Daoed Joesoef, Ajip Rosidi, Landung Simatupang, Maman S. Mahayana, Korrie Layun Rampan, Yeni Mainita, Oei Hong Djien dan Suwarno Wosetrotomo banyak hal menarik dapat kita telusuri di dalamnya.
Kurator dan dosen ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo dalam buku tersebut, menyebut bahwa : ciri utama karya lukis Nasjah adalah sunyi dan secara sederhana, tema lukisan Nasjah dapat dibagi menjadi dua tema utama. Kedua tema tersebut adalah tema potret dan tema lanskap (landscape). Lukisan potret Nasjah sebagian besar merekam subjek tunggal, ada pula potret keramaian.
Menurut Suwarno, lukisan Nasjah bertema lanskap memiliki perbedaan dengan lukisan pelukis lain tema sama yang sezaman. Perbedaan tersebut terletak pada metode dan pendekatan. Pelukis lain cenderung hanya memotret sepotong pemandangan untuk dipindahkan ke kanvas atau kertas. Nasjah hampir selalu memasukkan sosok perempuan dalam citra gerak dalam suasana bekerja. Para perempuan digambarkan sedang memanen padi, menambang pasir atau batu, berarakan ke pasar. Mereka bertumpuk gendongan.
Karena itu dari sedikitnya 300 karya lukis selama ia berproses kreatif selama ini, diantaranya mayoritas pemandangan alam menarik untuk disimak dan ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam dalam perjalanan karier sebagai pelukis dan sastrawan.
Bagi Nasjah, seni lukis dan sastra bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya saling mengisi. Lukisan-lukisannya, kerap mengeksplorasi narasi visual yang mirip dengan alur cerita pendek. Sebaliknya, tulisan-tulisannya sarat deskripsi detail yang seolah menggambarkan kanvas imajinasi. Contoh, cerpen Langit Kembang (1957) memuat deskripsi lanskap pedesaan, pembaca diajak melihat lukisan alam yang terpampang di depan mata.
Kecendrungan lukisan Nasjah Jamin terlihat realis-ekspresif menjadi cerminan karya sastranya. Ia tak ragu menampilkan sisi gelap kehidupan—kemiskinan, kesepian, atau ketidakadilan—tetapi selalu diselipkan harapan lewat simbol-simbol halus. Seperti dalam lukisan Perempuan dan Bunga (1972), di mana sosok wanita tua dengan keriput mendalam memegang sekuntum mawar, Nasjah menyampaikan pesan tentang keindahan yang bertahan di tengah kepahitan.
Dalam catatan kita, Nasjah Jamin hingga pensiun dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980), tetap setia pada dua passion-nya : melukis dan menulis. Karyanya tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga cermin pergulatan manusia Indonesia di era transisi. Ia meninggalkan warisan tak ternilai yang hingga kini masih menjadi bahan kajian peneliti.
Nasjah Djamin mulai menulis novel pertamanya tahun 1950 Hilanglah Si Anak Hilang. Karya itu telah diterjemahkan Farida Soemargono Labrousse ke dalam bahasa Prancis berjudul Le Depart de L”Enfant Proddigue (1979).
Kegiatan menulis selain di majalah Budaya, juga di majalah Minggu Pagi dan surat kabar Kedaulatan Rakyat. Salah satu novelnya Gairah untuk Hidup dan untuk Mati yang merupakan cerita bersambung majalah Minggu Pagi nomor 1—24 tahun 1967 berhasil memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia tahun 1970.
Sejumlah karya sastra Nasjah Jamin berupa Novel seperti ; Hilanglah Si Anak Hilang (1963), Helai-Helai Sakura Gugur (1965), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968), Malam Kuala Lumpur (1968), Yang Ketemu Jalan (1979), Dan Senja pun Turun (1981), Ombak Parangtritis (1983), Tresna Atas Tresna (1983), Bukit Harapan (1984), Tiga Puntung Rokok (1985), Ombak dan Pasir (1988).
Kemudian disusul Novelet : “Di Sebuah Pondokan” (dalam majalah Sarinah, 1987), Biografi Chairil Anwar yang berjudul Hari-Hari Akhir Si Penyair (1982), Biografi Affandi dalam bukunya Affandi Pelukis (1977) dan Kumpulan Cerita Pendek Nasjah diantaranya Sekelumit Nyanyian Sunda (1962), Sebuah Perkawinan (1974), Di Bawah Kaki Pak Dirman (1986). Untuk Puisi ; “Berat” (dalam majalah Seniman, 1947), “Bunga” dan “Pengungsi” (dalam majalah Seniman, 1948) dan “Yati Kecil” (Majalah Budaya, 1954).
Sejumlah anugerah yang diterima Nasjah berasal dari Yayasan Buku Utama atas karya Ombak Parangtritis (1983) yang dinyatakan sebagai buku fiksi remaja terbaik tahun 1983. Dari Dewan Kesenian Jakarta hadiah sastra atas novelnya Bukit Harapan (1984).
Meski Nasjah Jamin kini telah tiada meninggal dunia 23 September 1997 atau sehari sebelum usianya mencapai 73 tahun, namun semangat suami Umi Naftiah dan ayah 4 anak ini tetap hidup lewat karya karyanya.
Nasjah pun membuktikan ; seni tidak mengenal batas disiplin. Baginya, kanvas dan kertas merupakan media untuk menyuarakan kebenaran, merayakan kemanusiaan, dan mengabadikan jiwa zaman di eranya. (***)
