Jakarta, Semangatnews.com – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah, menghadapi tantangan berat setelah luas kawasan terdampak diperkirakan mencapai 490 hektare. Cuaca kering, angin kencang, dan kabut menjadi kendala utama dalam operasi yang dilakukan melalui jalur darat maupun udara.
BPBD Karanganyar menyampaikan bahwa kebakaran yang melanda kawasan hutan di sekitar Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, terus berkembang sejak pertama kali diketahui pada 15 Oktober 2026. Api membakar vegetasi hutan pinus dan ilalang, kemudian merambat ke bagian lereng lain seiring perubahan kondisi angin.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan perkiraan luas lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 490 hektare pada Selasa (20/10/2026). Luas tersebut menggambarkan besarnya wilayah yang harus ditangani, sementara petugas tidak selalu dapat menjangkau titik api secara langsung karena kondisi geografis kawasan pegunungan.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah membangun sekat bakar untuk membatasi pergerakan kobaran api. Petugas membuat jalur pemisah pada titik yang dinilai strategis agar api tidak mudah menjalar ke vegetasi di sekitarnya. Upaya ini juga diarahkan untuk mencegah kebakaran mencapai kawasan wisata dan jalur pendakian.
Di sisi lain, pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing belum dapat berjalan sesuai rencana. Angin kencang dan kabut menghambat operasional helikopter, sehingga sejumlah penerbangan harus dibatasi demi keselamatan awak dan efektivitas penanganan. Kondisi tersebut membuat pemadaman manual tetap menjadi bagian penting dari operasi gabungan.
Pemerintah Kabupaten Karanganyar kemudian meminta dukungan BNPB untuk mempertimbangkan modifikasi cuaca. Permintaan tersebut dimaksudkan untuk membantu menciptakan kondisi yang lebih mendukung penanganan kebakaran. Namun, pelaksanaannya perlu menunggu penilaian BMKG mengenai keberadaan awan dan kemungkinan teknis untuk melakukan operasi.
Selain memadamkan api, petugas harus melindungi sejumlah fasilitas yang berpotensi terdampak. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pipa air milik warga di kawasan hutan. Kerusakan pada jaringan tersebut dapat mengganggu penyaluran air dari mata air menuju permukiman, sehingga pengamanan dilakukan bersamaan dengan upaya penyekatan api.
Untuk memperkuat pengawasan, posko tambahan disiapkan di kawasan Candi Cetho dan mulai beroperasi pada Rabu (21/10/2026). Posko tersebut bertugas memeriksa kondisi jalur pipa, mengamankan titik-titik yang rentan, serta membantu mengantisipasi perambatan api menuju objek wisata dan area sekitarnya.
Pengawasan juga dilakukan melalui sejumlah pos kecil yang ditempatkan di kawasan strategis, termasuk Ngargoyoso dan Cemoro Kandang. Dari titik-titik tersebut, petugas memantau pergerakan api dan menyiapkan langkah pengendalian sesuai kondisi lapangan. Koordinasi antara petugas, relawan, dan instansi terkait menjadi bagian penting dalam menghindari penanganan yang tumpang tindih.
Dalam situasi seperti ini, keselamatan personel tidak dapat dikesampingkan demi mengejar target pemadaman. Api yang membesar secara tiba-tiba dapat menjebak petugas di medan terjal, terutama ketika angin berubah arah. Karena itu, tim gabungan harus mempertimbangkan kondisi cuaca, akses evakuasi, dan perlengkapan keselamatan sebelum memasuki area terdampak.
Penanganan kebakaran Gunung Lawu kini membutuhkan kombinasi antara pemadaman, penyekatan, pemantauan, dan perlindungan fasilitas masyarakat. Hasil operasi selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan cuaca serta kemampuan petugas mengendalikan titik api. Masyarakat di sekitar lereng diimbau mengikuti informasi resmi dan menjauhi kawasan yang ditutup selama keadaan darurat masih berlangsung.(*)

