APBN Agustus Masih Defisit 0,9 Persen, Penerimaan Pajak Jadi Penopang Fiskal RI

by

Jakarta, Semangatnews.com – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 menunjukkan defisit masih berada di level sekitar 0,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai posisi tersebut masih dalam kondisi yang dapat dikendalikan pemerintah.

Keterangan mengenai kondisi APBN tersebut disampaikan Purbaya dalam rapat kerja bersama DPD RI, Senin (14/9/2026). Ia mengatakan rasio defisit pada akhir Agustus masih berada di level yang sama dengan periode sebelumnya.

Menurut Purbaya, defisit APBN hingga akhir Agustus berada di sekitar 0,9 persen terhadap PDB. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap anggaran belum menyebabkan pelebaran defisit secara signifikan dibandingkan posisi pada Juli.

Pada Juli 2026, defisit APBN tercatat Rp235,6 triliun atau 0,91 persen dari PDB. Angka tersebut menjadi acuan perkembangan fiskal sebelum pemerintah menyampaikan posisi akhir Agustus.

Di tengah kondisi tersebut, penerimaan pajak menjadi salah satu komponen penting dalam menopang APBN. Hingga Juli 2026, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp1.224,3 triliun atau mengalami pertumbuhan 23,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penerimaan tersebut berlangsung ketika pemerintah juga meningkatkan realisasi belanja negara. Sampai Juli, belanja negara telah mencapai Rp1.969,6 triliun atau tumbuh 18,62 persen secara tahunan.

Kenaikan belanja mencerminkan aktivitas pemerintah dalam menjalankan berbagai program dan agenda pembangunan. Pada saat yang sama, peningkatan penerimaan memberikan dukungan agar ekspansi belanja tersebut tetap berada dalam kerangka pengelolaan fiskal yang terukur.

Namun, angka rinci mengenai pendapatan dan belanja negara khusus sepanjang Agustus 2026 belum disampaikan pemerintah. Karena itu, posisi defisit 0,9 persen yang disampaikan Purbaya menjadi informasi utama mengenai perkembangan APBN sampai penghujung Agustus.

Jika dibandingkan dengan akhir Juni, defisit APBN tercatat meningkat dari Rp196,5 triliun atau 0,76 persen PDB. Pada periode tersebut, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun dan belanja negara sebesar Rp1.656 triliun.

Pemerintah sebelumnya memproyeksikan defisit APBN 2026 berada di sekitar 2,85 persen terhadap PDB pada akhir tahun. Proyeksi itu lebih tinggi dibandingkan posisi defisit hingga Agustus karena kebutuhan belanja dan dinamika penerimaan masih akan berkembang pada beberapa bulan terakhir 2026.

Dengan waktu yang tersisa hingga akhir tahun, pemerintah masih memiliki ruang untuk mengatur ritme belanja sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara. Perkembangan defisit APBN dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi indikator penting untuk melihat seberapa kuat pemerintah menjaga keseimbangan fiskal di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan dan dinamika ekonomi nasional.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.