Jakarta, Semangatnews.com – Harga emas dunia mengalami tekanan besar hingga kembali menembus ke bawah US$4.000 per troy ons. Pelemahan yang terjadi pada perdagangan Jumat (23/10/2026) memperlihatkan bahwa kenaikan ketegangan geopolitik tidak selalu mendorong harga emas naik, terutama ketika kekhawatiran inflasi dan prospek suku bunga tinggi mendominasi sentimen pasar.
Harga emas di pasar global ditutup pada level US$3.995,52 per troy ons, turun 0,71 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, posisi tersebut merupakan level terendah dalam tiga bulan, sekaligus menandai berlanjutnya tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Secara keseluruhan, harga emas terkoreksi 4,07 persen sepanjang pekan ini. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak Juni 2026. Pelemahan juga berlangsung selama dua pekan berturut-turut, menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi dalam satu sesi perdagangan.
Salah satu pemicu utama berasal dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi. Situasi tersebut mendorong harga minyak Brent mencapai posisi tertinggi dalam lebih dari lima bulan.
Kenaikan minyak menjadi perhatian karena dapat memicu peningkatan biaya energi dan transportasi. Jika harga energi bertahan tinggi, biaya produksi berbagai barang berpotensi ikut naik. Dampaknya, inflasi dapat menjadi lebih sulit dikendalikan dan memengaruhi keputusan bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Kondisi ini menempatkan emas dalam situasi yang tidak mudah. Meskipun sering dianggap sebagai aset pelindung ketika ketidakpastian meningkat, emas tidak menghasilkan bunga. Ketika investor memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi, daya tarik logam mulia tersebut dapat berkurang dibandingkan instrumen yang memberikan imbal hasil.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve atau The Fed menjadi faktor penting berikutnya. Data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat yang lebih tinggi daripada perkiraan memperkuat pandangan bahwa bank sentral belum memiliki ruang luas untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan pasar, pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 92 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026. Sementara itu, kekhawatiran mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember turut membayangi pergerakan harga emas.
Kekuatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor. Data pengajuan awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober tercatat sebanyak 194.000, lebih rendah daripada perkiraan pasar sebesar 200.000. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja masih relatif kuat dan dapat mendukung kebijakan moneter yang ketat.
Di samping tekanan dari faktor ekonomi, pergerakan pasar saham juga dapat memengaruhi perdagangan emas. Ketika investor mengalami kerugian atau membutuhkan tambahan likuiditas, sebagian dapat menjual aset yang dimiliki, termasuk logam mulia. Aksi tersebut berpotensi menambah tekanan jual meskipun emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai.
Dengan berbagai faktor tersebut, arah harga emas dalam waktu dekat akan bergantung pada perkembangan harga energi, data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan keputusan The Fed. Penurunan ke bawah US$4.000 menjadi perkembangan penting yang perlu dicermati investor, tetapi belum cukup untuk memastikan apakah harga akan terus merosot atau mulai pulih pada perdagangan berikutnya.(*)

