DINAMIKA SENI RUPA SUMATERA BARAT

by -
Muharyadi

Sejumlah mahasiswa seni murni ISI Padangpanjang yang baru enam semester mengikuti kuliah, menemui saya untuk berdiskusi perihal rencana mereka melaksanakan pameran di galeri seni rupa Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, jalan Diponegoro Padang hampir sebulan lalu. Pameran tersebut mereka rencanakan berlangsung awal April 2017 sekitar 3 atau 4 hari.

“Kami benar-benar ingin berpameran di luar kampus”, tutur beberapa orang diantara mereka yang belum saya kenal nama bahkan identitasnya saat itu.

Bekal mengikuti kuliah selama enam semester ditambah lagi pernah berpameran di kampus, bahkan di luar daerah, maka keinginan mereka berpameran di luar kampus salah satunya seperti di Taman Budaya menjadi sesuatu yang wajar dan menarik. Ini sebagai tanda, bahwa mereka tetap eksis dan mencintai bidang studi yang digelutinya baik dalam bentuk mata kuliah maupun eksplorasi eksprimen kreativitas seni rupa yang ditekuninya.

Selama ini muncul imej, ketika masih mahasiswa paling tidak yang bersangkutan terbilang eksis berkarya baik berupa tugas-tugas di kampus maupun media eksprimen diluar kampus. Begitu menyelesaikan pendidikan, budaya berkarya, atau mencari idiom-idiom baru sebagai isian karya makin menurun bahkan kadang hilang sama sekali.

Penyebabnya kita kembalikan pada persoalan sikap dan komitmen pentingnya bersenirupa sebagai bagian kebudayaan yang terpinggirkan – terkalahkan – oleh kesibukan, atau memperoleh profesi baru sehingga mereka tidak lagi memiliki ruang dan waktu untuk berkarya sebagaimana pernah dialami sebagian kecil teman dan sahabat-sahabat saya sejak lama. Itulah fenomena berseni rupa secara kasat mata yang tidak dapat terelakkan.

Namun, kita tetap menaruh harapan besar kepada anak-anak muda yang mengenyam pendidikan tinggi seni rupa selama di kampus berbekal ilmu pengetahuan serta keterampilan psikomotorik selama ini dapat terus dikembangkan serta menjadi kontibutor  pengembangan dan pelestarian seni agar tidak hilang di tengah-tengah masyarakatnya.

Maka beralasan jika keinginan adik-adik mahasiswa yang nota bene kelahiran 1990 an ke atas ini berpameran di galeri Taman Budaya Sumatera Barat perlu kita apresiasi sebagai sebuah usaha berseni rupa secara sungguh-sungguh untuk tetap berkarya, berpameran dan berkarya lagi.

Berseni rupa secara sungguh-sungguh bukan lagi dirujuk sebagai suatu pewacanaan yang tak berbingkai ; berwujud atau malah tanpa bentuk. Mengingat kegiatan kesenirupaan di Sumatera Barat justru berjalan seperti air mengalir sesuai ruang dan waktu yang kemudian lahir istilah ; bahwa dalam sejarah seni rupa moderen hingga kini, Sumatera Barat menjadi salah satu peta seni rupa terpenting di Indonesia di luar Jawa dan Bali. Artinya ada orang berkarya seni rupa, ada pelukis atau pematung, banyak orang bahkan anak-anak belajar melukis dan mematung, ada sekolah yang mempelajari seni rupa, ada perguruan tinggi seni rupa, ada komunitas, studio bahkan galeri seni rupa, dan banyak aktivitas pameran seni rupa.

Dibalik semua itu ada pertanyaan muncul, seberapa jauh karya-karya yang ada ini – tidak terkecuali karya yang kini tengah dipajang — mampu merespon isu-isu dan dinamika yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakatnya, baik dalam ranah sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain sebagainya menjadi pewacanaan yang menarik untuk dikemas dan direfresentasikan menjadi karya bernilai estetik dan artistik?

Kemudian bagaimana pula unsur fisik dan psikologisnya. Semua itu memerlukan jawaban yang tidak sederhana, karena ia butuh perjuangan, pergulatan panjang dalam ranah kreativitas.

***

Dikaji dan dianalisis dari perspektif seni rupa — seni lukis dan seni patung — dalam ranah kebudayaan seperti pada pendidikan tinggi seni ISI Padangpanjang yang senantiasa berkomitmen pada persoalan kebudayaan di jagad ini, di dukung pilar penyangga kesadaran suprastruktur dan infrastruktur seni rupa, maka kita harus melihatnya secara utuh dan komprehensif.

Dalam persoalan kebudayaan yang selalu hangat didiskusikan dan bicarakan dimana dan kapan saja, sepertinya tidak pernah selesai untuk diperdebatkan. Bahkan akhir desember 2015 lalu kongres kesenian III di Bandung yang diharapkan melahirkan Undang-undang Kebudayaan, hingga kini belum menemukan titik terangnya.

Kita tidak pesimistis, sejumlah wacana mengenai kebudayaan dalam ranah pendidikan, setidaknya ada tiga kata kunci yang menjadi perhatian, yakni : nilai, fungsi, dan integrasi. Lembaga pendidikan berkomitmen pada pengembangan dan pemanfaatan nilai-nilai kebudayaan untuk kemajuan bangsa. Bukan pada persoalan produk dan aspek pasar, tetapi lebih mementingkan nilai-nilai guna menghindari diri dari eksplorasi kebudayaan sebagai barang dagangan belaka. Nilai yang dianggap baik terus dikembangkan, yang dinilai buruk harus ditekan jika tidak bisa dihilangkan sama sekali.

Secara normatif, pengembangan produk-produk budaya berorientasi pada promosi nilai-nilai kebaikan, baik perorangan, kelompok, komunitas maupun Negara dan bangsa ini, terkait fungsi, kebijakan lembaga pendidikan dan kebudayaan melakukan perlindungan, pengembangan, dan diplomasi kebudayaan. Dalam integrasi, kebudayaan sebagai sumber nilai sejajar dengan pendidikan sebagai sumber pengetahuan. Persoalan nilai-nilai dan fungsi keduanya saling melengkapi dalam proses pembentukan manusia Indonesia yang berpengetahuan sekaligus berkebudayaan.

Dengan melakukan ketiga fungsi ini bukan saja setiap produk kebudayaan masyarakat akan lestari dari generasi ke generasi, melainkan juga menjadi sarana mempertahankan jati diri bangsa di tengah pergaulan dunia yang semakin global. Sementara masyarakat diharapkan ikut berperan aktif dalam proses pembudayaan akan nilai-nilai yang dimulai sejak usia dini hingga perguruan tinggi. Bila kedua belah pihak saling menguatkan, termasuk keluarga sebagai komponen masyarakat, bukan mustahil cita-cita membentuk insan Indonesia berpengetahuan dan berbudaya dapat terwujud.

***

Tumbuh dan berkembang seni rupa bisa di simak dari jumlah lulusan lembaga pendidikann tinggi seni yang ada, disangga lembaga penyelenggara kesenian seperti Taman Budaya, sanggar-sanggar seni rupa, studio dan galeri serta didukung embrio lembaga pendidikan menengah seni rupa seperti SSRI/SMSR Negeri Padang (kini SMKN4) dan lulusan SMA/SMK lain yang berpotensi didalamnya. Sumatra Barat termasuk memiliki jumlah terbesar pesenirupanya diluar Jawa dan Bali, bahkan mungkin di Indonesia.

Potensi dan prestasi mereka telah membuahkan hasil selama puluhan tahun terakhir di forum regional, nasional bahkan internasional. Belum lagi berbagai komunitas, sanggar-sanggar dan studio seni rupa yang dikelola oleh pesenirupa “urang awak” seperti di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Sumatera Barat, Denpasar, Bengkulu, Jambi, Palembang dan lainnya yang turut menjadikan Sumatera Barat benar-benar eksis berseni rupa dengan segala fenomenanya sejak dulu hingga kini. Lihat komunitas Sakato Art Community, Jendela, Genta di Yogyakarta yang telah menduinia kemudian “Kampuang Sakato”, Pentagona, Belanak, Rumah Ada Seni di Sumatera Barat dan lain sebagainya turut memperkaya khasanah seni rupa di tanah air.

Karena itulah beralasan jika pameran masasiswa seni murni ISI Padangpanjang yang kini tengah digelar di ruang publik galeri Taman Budaya Sumatera Barat – 3 sampai 7 April ini — adalah salah satu bentuk jawaban bahwa karya-karya seni rupa senantiasa lahir dari wajah-wajah baru di Sumatera Barat. Diantaranya terdapat nama-nama potensial seperti : Alwisra, Brandon Victor, Dicky Anggara, Emilia Saputri, Fitri Yatimah, Genta Arlindo Arief, Hadi Salim, Iis Lamiah, Kasman Lubis, Lusi Herlina, Murdiono, Noki Syafroni, Norma Fauza, Poni Sella, Ramadan Fitra, Rezi Ilfi Rahmi, Riri Wahyuni, Rizki Arief Mayiza, Robi Lesmana, Santi Purnama Sari, Satiti Rahayu N, Ustika Adrian dan Windi Hana Satria.

Semangat dan kerja keras mereka patut kita acungkan jempol, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karya-karya seni lukis dan patung yang mereka sajikan paling tidak dapat disidik dari eksplorasi kemungkinan pencapaian-pencapaian visual. Yang mungkin perlu dibenahi terletak pada persoalan pengalaman terhadap material, serta kesadaran proses pengerjaan dan kepekaan akan berbagai kualitas visual. Hingga aspek menarik dalam proses kerja menjadi modal karya dalam tahap visualisasi dengan sendirinya dapat ditemukan. “Batu Loncat” sebagai tema sentral yang diusung mereka dalam pameran ini dapat ditafsir sebagai hal ikhwal bahwa seni rupa sebagai kebudayaan yang ada di Sumatera Barat tetap tumbuh dan berkembang mulai dari anak-anak muda hingga seniman yang telah punya nama besar, mereka paling tidak jadi embrio ke ruang itu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.