Dr. Yusman Dawolo Ajak Mahasiswa STAI NIAS Bangun Growth Mindset, Tantangan Bukan Hambatan, Melainkan Jalan Menuju Kesuksesan

by
Dr. Yusman Dawolo Ajak Mahasiswa STAI NIAS Bangun Growth Mindset, Tantangan Bukan Hambatan, Melainkan Jalan Menuju Kesuksesan
Dr. Yusman Dawolo Ajak Mahasiswa STAI NIAS Bangun Growth Mindset, Tantangan Bukan Hambatan, Melainkan Jalan Menuju Kesuksesan

GUNUNGSITOLI, SEMANGATNEWS.COM – Kesuksesan tidak ditentukan semata-mata oleh kecerdasan, bakat, atau kemampuan yang dimiliki seseorang sejak lahir. Lebih dari itu, cara seseorang memandang tantangan, menghadapi kegagalan, dan merespons kritik menjadi faktor penting yang menentukan sejauh mana potensi dirinya dapat berkembang.

Pesan tersebut disampaikan Dr. (H.C.) Yusman Dawolo, M.Kom.I., atau yang akrab disapa Bang YD, dalam kuliah umum di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) NIAS, Gunungsitoli, Senin (2/11/2026).

Yusman Dawolo mengangkat materi Fixed Mindset dan Growth Mindset, sebuah konsep psikologi yang dikembangkan oleh Carol S. Dweck, Ph.D., profesor psikologi dari Stanford University, Amerika Serikat.

Menurut Bang YD, mahasiswa perlu memahami bahwa kemampuan manusia bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tetap. Kecerdasan, keterampilan, dan kapasitas diri dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, latihan, pengalaman, serta keberanian menghadapi tantangan.

“Jangan pernah merasa bahwa kita tidak mampu hanya karena hari ini belum bisa. Ketidakmampuan hari ini bukanlah vonis untuk masa depan. Selama kita mau belajar, berusaha, dan memperbaiki diri, selalu ada ruang untuk berkembang,” ujar Bang YD.

Fixed Mindset dan Growth Mindset: Dua Cara Pandang yang Menentukan Masa Depan

Yusman Dawolo menjelaskan bahwa Fixed Mindset merupakan pola pikir yang memandang kecerdasan dan kemampuan sebagai sesuatu yang relatif tetap. Seseorang dengan pola pikir ini cenderung ingin terlihat pintar, takut melakukan kesalahan, dan menghindari tantangan yang berpotensi memperlihatkan kelemahannya.

Sebaliknya, Growth Mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui pembelajaran, usaha, strategi yang tepat, dan evaluasi berkelanjutan.

Yusman Dawolo memaparkan lima perbedaan utama kedua pola pikir tersebut.

Pertama, dalam menghadapi tantangan. Orang dengan Fixed Mindset cenderung menghindari tantangan, sedangkan orang dengan Growth Mindset justru berani menerima tantangan sebagai kesempatan untuk belajar.

Kedua, dalam menghadapi hambatan. Mereka yang memiliki Fixed Mindset mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sementara itu, mereka yang memiliki Growth Mindset tetap bertahan dan mencari jalan keluar ketika mengalami kegagalan atau kemunduran.

Ketiga, dalam memandang usaha. Bagi Fixed Mindset, usaha sering dianggap sebagai tanda kurangnya kemampuan. Sebaliknya, Growth Mindset memandang usaha sebagai jalan menuju penguasaan keterampilan dan peningkatan kemampuan.

Keempat, dalam menerima kritik. Orang dengan Fixed Mindset cenderung mengabaikan kritik yang membangun. Sementara itu, mereka yang memiliki Growth Mindset menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.

Kelima, dalam menyikapi keberhasilan orang lain. Fixed Mindset dapat membuat seseorang merasa terancam oleh kesuksesan orang lain. Sebaliknya, Growth Mindset mendorong seseorang belajar dan mengambil inspirasi dari keberhasilan orang lain.

“Jangan merasa terancam ketika melihat orang lain berhasil. Pelajari bagaimana mereka berhasil. Kesuksesan orang lain bukan ancaman bagi masa depan kita, tetapi bisa menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan,” tegas Bang YD.

Mahasiswa Harus Berani Gagal, Belajar, dan Bangkit Kembali

Dalam konteks pendidikan tinggi, Bang YD menilai bahwa mahasiswa tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik, gelar, atau kelulusan. Mahasiswa perlu membangun karakter pembelajar yang tangguh, mandiri, dan memiliki keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Menurutnya, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses pembelajaran.

Mahasiswa yang memperoleh nilai rendah, mengalami kesulitan memahami materi, gagal dalam organisasi, atau belum berhasil membangun usaha tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan. Sebaliknya, setiap pengalaman tersebut harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi, meningkatkan keterampilan, dan memperkuat mentalitas.

“Kalau hari ini gagal, jangan berhenti. Evaluasi apa yang salah, pelajari apa yang kurang, lalu perbaiki. Yang berbahaya bukan kegagalan, tetapi ketika kita berhenti belajar dan menyerah pada keadaan,” ungkapnya.

Bang YD juga mengingatkan bahwa mahasiswa harus memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Sebab, kemampuan baru tidak akan berkembang secara optimal apabila seseorang hanya memilih aktivitas yang mudah dan selalu menghindari risiko.

Growth Mindset sebagai Modal Menjadi Pengusaha

Lebih jauh, Bang YD menghubungkan konsep Growth Mindset dengan pentingnya membangun jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

Menurutnya, menjadi pengusaha membutuhkan keberanian menghadapi ketidakpastian, kemampuan memahami kebutuhan pelanggan, keterampilan menjual, serta kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman.

Seorang calon pengusaha tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk memulai. Ia dapat belajar dari usaha kecil, memahami pasar, mencoba menawarkan produk, menerima kritik pelanggan, dan memperbaiki kualitas produknya secara bertahap.

“Jangan menunggu pintar baru berani memulai usaha. Mulailah belajar, mulailah mencoba, dan terus tingkatkan kemampuan. Pengusaha yang berhasil bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi mereka mampu belajar dari kegagalan dan bangkit dengan strategi yang lebih baik,” kata Bang YD.

Yusman Dawolo menegaskan bahwa mahasiswa perlu mengubah cara pandang dari sekadar mencari pekerjaan menjadi membangun kemampuan menciptakan peluang, membuka usaha, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan demikian, Growth Mindset tidak hanya menjadi konsep psikologi yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga menjadi landasan untuk membangun kemandirian, daya saing, dan keberanian menghadapi masa depan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.