Oleh : Muharyadi
Evelyna Dianita, mungkin sedikit dari sejumlah pelukis wanita Indonesia saat ini yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari, ternyata masih tetap setia menekuni dunia seni lukis hingga melahirkan karya-karya terbaik di kanvasnya.
Baca Juga: Mengamati Sejumlah Karya Patung Syahrizal Koto yang Bermula dari “Natura Artis Magistra”
Wanita kelahiran Bukitinggi, 13 Juli 1966 ini lebih dari tiga dekade silam hingga kini tetap saja menekuni seni lukis dengan obyek-obyek menarik. Hasilnya luar biasa, bukan hanya indah, tetapi juga mampu menyuarakan persoalan wanita dilingkungannya yang syarat makna menjadi ikonik yang kini nyaris tenggelam karena arus perubahan dan perkembangan zaman.

Saat ditemui di kediamannya, komplek perumahan “Palapa Saiyo” Jln. H. Anas Malik B 8/16, Pasar Usang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, belum lama berselang, ia memperlihatkan sejumlah karya-karya terbarunya dengan tidak mengabaikan unsur fisik dan psikologis karya.
Menurut pelukis yang akrab disapa Nita ini ; ia mengangkat persoalan keseharian di Minangkabau, seperti pesta perkawinan, sosok gender, bahkan bunga yang identik dengan wanita yang dibuat seindah mungkin dengan menampilkan kolaborasi isen-isen pakaian dan busana di Minangkabau. Meski diakui secara anatomis, Nita memberanikan diri merubah style ukuran tinggi wanita secara umum sebagaimana yang sering kita saksikan saat ini/

Ada dialog dari obyek yang diangkat, serupa saiyo sakato (seiya sekata), sairiang sajalan (seorong sejalan), musyawarah mufakat mencari suatu tujuan atau kebenaran sebagaimana menjadi budaya masyarakat di Minangkabau. Sapuan kuasnya yang lembut dan obyek-obyek wanita berbaju kebaya dengan beragam bakcround ranah Minang, ada rumah gadang, bendi, perkampungan meluncur begitu saja di tangannya.
Dalam dunia kepelukisan, Nita bukanlah muka baru diantara perupa yang ada. Bakat Nita mulai muncul saat ia menempuh pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) sekarang SMK N 4 Padang. Ia dikenal sebagai sosok wanita yang tekun dan ulet belajar melukis hingga memberanikan ikut berpameran di banyak tempat dan daerah di Indonesia.

Sejumlah karya-karyanya lahir kepermukaan tidak terlepas dari hasil pengamatan serta interaksi langsung dengan lingkungan alam sekitarnya berangkat dari pengalaman dirinya. Pengamatan terhadap realitas kondisi terhadap obyek-obyek perempuan di kanvasnya dianggap penting karena berkaitan dengan ide, keinginan dari wilayah kreativitasnya. Yang lahir kemudian kondisi “Realitas” masa lalu dan kekinian menjadi sesuatu yang menarik, berisikan paparan cerita, tentang cinta, keindahan, curahan hati atau persoalan yang melingkari penciptanya sendiri.
Menyinggung budaya visual yang kuat seperti di Bali dan Yogyakarta, di Minangkabau lebih dikenal dengan tradisi sastra dan cara komunikasi yang lazim disebut petatah-petitih, peribahasa dan metafora yang umumnya mengandung pelajaran bagaimana seseorang berlaku di dunia dan alam semesta ini melalui bahasa kiasan.

Menyimak antara budaya sastra Minangkabau dengan alam Minangkabau dan tradisi yang ada, ternyata para perupa yang ada satu diantaratanya Nita tetap saja setia memvisualkan kepermukaan, perihal budaya musyawarah dan mufakat, gotong royong, tata krama dan sopan santun, bagi kaum perempuan menjadi tanda atau penanda apakah generasi muda saat ini di Minangkabau masih tetap setia memakai adat dan budayanya?
Kongkritnya Nita tetap menyuarakan semua hal hal-hal yang berkaitan dengan budaya melalui visual rupa melalui goresan-goresannya yang lembut dan mempesona dalam ranah estetis. Nita juga mengeksploitasi obyek obyek bunga tetap saja mampu merayakan mata penikmat karena keunikan tema, bentuk dan makna yang dimunculkan.

Menurut Nita, setiap karya-karya tidak serta merta hanya berorientasi pada nilai estetis semata, tetapi juga mengangkat, membawa, mengolah dan mencerminkan seperangkat nilai-nilai kebudayaan dan pandangannya sendiri terhadap nilai-nilai yang ada dan munculnya nilai-nilai baru yang mulai hidup, tumbuh dan berkembang, di masyarakat umum maupun masyarakat komunitas seni.
Tujuan penciptaan bagi Evelyna Dianita ; bahwa istimewanya kedudukan wanita Minang dalam garis keturunan ibu (matrilineal) melalui ungkapan “alu tataruang patah tigo (alu : alat penumbuk padi), samuik tapijak indak mati (semut terinjak tidak mati). Ungkapan ini merupakan bentuk dan arti kekuatan dan kelembutan wanita Minang. Karena kedudukan wanita sangat dihargai peranannya dalam suatu kaum (kelompok atau komunitas).
Bundo Kanduang merupakan wanita yang dituakan di suatu kaum yang paham peraturan, nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau. Bundo kanduang juga mempunyai peran penting dalam menentukan keputusan-keputusan atau peraturan-peraturan suatu kaum.
Nilai adat budaya Minangkabau juga mengalami pergeseran-pergeseran. Hal ini tidak hanya terjadi di luar Minangkabau saja namun juga terjadi di dalam adat itu sendiri. Adapun realitas perkembangan adat Minangkabau hari ini menjadikan ide dalam karya penciptakaan dalam bentuk karya seni lukis dua dimensional figuratif dengan menggunakan teknik impasto sebagaimana yang dilakukan Evelyna Dianita. Pada banyak karya ini figur wanita menjadi objek utama guna mengekspresikan kedudukan wanita melalui lukisannya.
Aktvitas perempuan dalam keseharian, dalam ritual, dalam pasar, di pedesaan serta perempuan dalam kaba/cerita, menjadi identitas karyanya. Kegiatan menumbuk padi dilakukan masyarakat Minangkabau merupakan kegiatan gotong royong untuk memisahkan padi dari kulitnya. Kebiasaan aktivitas menumbuk padi dengan cara tradisional di masyarakat itu kini mulai memudar tergantikan oleh teknologi canggih seperti heler. Kerjasama dalam aktivitas sehari-hari yang dilakukan perempuan Minangkabau mulai terkikis dengan hadirnya teknologi. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
