Galodo Arosuka, Dari Pencarian Korban hingga Pekerjaan Panjang Memulihkan Kehidupan

by
Galodo Arosuka, Dari Pencarian Korban hingga Pekerjaan Panjang Memulihkan Kehidupan
Galodo Arosuka, Dari Pencarian Korban hingga Pekerjaan Panjang Memulihkan Kehidupan

SOLOK, SEMANGATNEWS.COM — Hanya dalam hitungan jam, wajah Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berubah. Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut pada Senin, 21 September 2026, memicu longsoran di kawasan hulu Sungai Batang Laso. Material longsoran kemudian terbawa arus dan menerjang kawasan Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok serta permukiman masyarakat.

Lumpur, batu, kayu dan material longsoran menutup sejumlah kawasan. Aktivitas warga terganggu, sejumlah bangunan rusak, akses terdampak dan masyarakat terpaksa meninggalkan rumah. Nagari Batang Barus dan Nagari Koto Gaek Guguak menjadi dua wilayah yang terdampak langsung akibat bencana tersebut.

Sejak malam kejadian, penanganan dilakukan secara bertahap. Pencarian dan evakuasi korban menjadi prioritas, disusul penanganan warga terdampak, pelayanan kesehatan, distribusi kebutuhan dasar, pembersihan material serta pemulihan akses dan fasilitas umum.

Pemerintah Kabupaten Solok menetapkan status tanggap darurat melalui Keputusan Bupati Solok Nomor 300.2-265-2026 tertanggal 22 September 2026. Status tersebut semula berlaku selama 14 hari hingga 5 Oktober 2026, kemudian diperpanjang sampai 12 Oktober 2026.

Perpanjangan masa tanggap darurat dilakukan di tengah proses penanganan yang masih berlangsung, termasuk pembersihan kawasan terdampak, pemulihan fasilitas umum serta upaya mengantisipasi kemungkinan bencana susulan.
Galodo tersebut menelan korban jiwa. Dua orang meninggal dunia, yakni Daffi Arahman, 21 tahun, dan Agusra, 59 tahun.

Daffi Arahman ditemukan pada Selasa, 22 September 2026 sekitar pukul 14.16 WIB. Sementara Agusra ditemukan pada Jumat, 25 September 2026 sekitar pukul 11.30 WIB setelah tim gabungan melakukan pencarian di sejumlah lokasi. Proses pencarian Agusra dilakukan setelah tim menerima informasi dan petunjuk mengenai kemungkinan lokasi korban.

Tim gabungan kemudian melakukan penyisiran hingga akhirnya korban ditemukan.

Selain korban meninggal dunia, sejumlah warga mengalami luka-luka. Dua korban tercatat mengalami luka berat dan membutuhkan perawatan lebih lanjut. Muhammad Nur Zen, 56 tahun, ASN PPPK pada Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Solok, mengalami fraktur pada anggota gerak bawah disertai perdarahan. Korban kemudian dirujuk ke Semen Padang Hospital untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Korban lainnya, Affan Alqadri, 26 tahun, mengalami cedera kepala, fraktur comminuted pada bagian occipital serta subarachnoid hemorrhage atau perdarahan subaraknoid. Korban menjalani perawatan di ruang ICU sebelum dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Sejumlah korban dengan luka ringan juga mendapatkan penanganan medis, baik melalui rawat jalan maupun perawatan di RSUD Arosuka. Kondisi korban menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian penanganan bencana. Pada 25 September 2026, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau RSUD Arosuka dan melihat langsung kondisi korban yang menjalani perawatan. Dalam kunjungan tersebut, pelayanan terhadap korban hingga pulih serta pemantauan kelompok rentan di lokasi pengungsian menjadi bagian dari perhatian pemerintah.

Di luar persoalan korban, bencana juga memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka. Data penanganan mencatat sekitar 513 warga terdampak dan mengungsi. Mereka tersebar di sejumlah lokasi, yakni 10 orang di Rumah Pabrik Tahu, 15 orang di Petshop dan 488 orang lainnya berada di lokasi pengungsian mandiri.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan dasar menjadi bagian penting dalam penanganan. Selain tempat tinggal sementara, warga membutuhkan makanan, air bersih, pelayanan kesehatan serta perlindungan selama masa tanggap darurat.

Penanganan pengungsi dilakukan melalui koordinasi pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi, pemerintah pusat, TNI, Polri, Basarnas, BNPB, PMI dan berbagai unsur lainnya.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah bersama Wakil Gubernur Sumatera Barat meninjau kawasan terdampak pada 22 September. Selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bersama Kepala BNPB dan Sekretaris Utama BNPB datang pada 24 September.

Sehari kemudian, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau pengungsian, fasilitas kesehatan dan sejumlah infrastruktur yang terdampak bencana.

Rangkaian kunjungan tersebut berlangsung ketika proses pencarian korban, pemenuhan kebutuhan pengungsi dan pembersihan kawasan masih berjalan. Koordinasi dilakukan untuk memastikan penanganan di lapangan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Dampak galodo juga terasa di kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Solok. Sejumlah gedung perkantoran mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda.

Bangunan yang tercatat mengalami kerusakan berat antara lain Gedung Kantor Permanen Sekretariat DPRD, Gedung Kantor Dinas Pariwisata, Gedung Kantor Dinas PUPR, Gedung Kantor DPMN dan Gedung Pos Jaga Satpol PP.

Kerusakan ringan tercatat pada sejumlah bangunan, di antaranya kantor DPRD, Gedung Pertemuan DPRD, Inspektorat, BKPSDM, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Bapelitbang dan Bapenda.

Sementara itu, kerusakan sedang terjadi pada Gedung UPTD Laboratorium Dinas PUPR dan Gedung Pos Jaga Damkar.
Kerusakan tersebut tidak hanya menyangkut bangunan fisik, tetapi juga menjadi tantangan dalam menjaga pelayanan pemerintahan agar tetap berjalan selama masa tanggap darurat.

Dampak bencana juga meluas ke rumah warga dan lahan produktif. Data penanganan mencatat 19 rumah mengalami kerusakan berat, sembilan rumah rusak sedang, 33 rumah rusak ringan, 13 rumah terendam dan 10 rumah berada dalam kondisi rawan atau berisiko.

Di sektor pertanian, sekitar 42 hektare sawah dan 15 hektare lahan kering terdampak. Selain itu, lima ruas jalan mengalami kerusakan dan dua jembatan turut terdampak. Kendaraan warga juga tidak luput dari dampak bencana. Tercatat tujuh kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua terdampak.

Untuk menangani kondisi tersebut, berbagai unsur dikerahkan. Tim SAR gabungan melakukan pencarian dan evakuasi korban, sementara BPBD Kabupaten Solok menjalankan pencarian, pembersihan rumah dan kantor, pendistribusian logistik, kaji cepat, pendataan serta pengoperasian posko.

TNI mendukung pengerahan personel dan peralatan untuk mempercepat pembersihan kawasan perumahan, perkantoran dan fasilitas umum. Polri membantu pengamanan, pembersihan lokasi dan pengoperasian dapur umum.

Dinas Kesehatan memberikan pelayanan kepada korban luka dan melakukan pendataan. Dinas Sosial mendukung pengelolaan dapur umum dan administrasi korban, sedangkan Dinas Lingkungan Hidup berkoordinasi dalam pembersihan material dan pengelolaan hasil pembersihan.

Satpol PP dan Damkar turut mengerahkan personel serta sarana operasional. Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Solok menjalankan publikasi dan dokumentasi perkembangan penanganan bencana.

Pembersihan kawasan terdampak membutuhkan dukungan alat berat dalam jumlah besar. Peralatan dikerahkan dari sejumlah instansi, antara lain BPBPK, BPJN, BWSS V, Dinas PUPR, BNPB, TNI dan pihak swasta.

Alat yang digunakan meliputi excavator besar dan kecil, excavator breaker, dump truck, motor grader, wheel loader, backhoe loader, water tanker dan excavator capit.

Berdasarkan data penanganan, BWSS V mengerahkan 12 excavator besar dan dua excavator breaker. Sementara BPBPK mengerahkan dua excavator besar, satu excavator kecil, delapan dump truck dan satu excavator breaker.

Alat berat tersebut digunakan untuk mengangkat material lumpur, batu, kayu dan longsoran yang menutup sejumlah kawasan. Pembersihan juga dilakukan untuk membuka kembali akses, membersihkan rumah dan fasilitas umum serta menangani kawasan sungai yang terdampak.

Masjid Kayu Aro, salah satu fasilitas umum yang terdampak, telah dibersihkan dan disiapkan kembali untuk digunakan masyarakat.

Setelah pembersihan kawasan permukiman dan fasilitas umum, kondisi sungai menjadi salah satu perhatian karena berkaitan dengan potensi ancaman bencana susulan. Tim gabungan diarahkan untuk melakukan pembersihan dan penanganan pada sejumlah bagian sungai yang terdampak material.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 5 Oktober 2026 memberikan rekomendasi untuk mengurangi risiko bencana di kawasan tersebut. Rekomendasi tersebut antara lain pembangunan sistem peringatan dini terpadu dan sabo dam.

Badan Geologi juga merekomendasikan evaluasi menyeluruh terhadap Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok untuk mengetahui tingkat keamanan kawasan tersebut terhadap potensi jalur aliran utama maupun zona pengendapan material.

Apabila hasil kajian menunjukkan tingkat risiko yang tinggi, relokasi secara bertahap ke lokasi yang lebih aman dapat menjadi salah satu pilihan mitigasi jangka menengah dan panjang.

Dukungan terhadap penanganan juga datang dari pemerintah pusat. BNPB melalui UPT BNPB di Kota Padang memberikan bantuan awal berupa 100 kilogram beras, 50 paket sembako, lima dus minyak goreng, 10 dus sarden, sekitar 100 lembar selimut dan 20 dus air mineral.

Sekretaris Utama BNPB bersama dua direktur BNPB dan Tim Reaksi Cepat turut memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah dalam asesmen lapangan, pemetaan kebutuhan operasi darurat, dukungan posko serta konsolidasi data.

Koordinasi penanganan berlanjut hingga awal Oktober. Menteri Dalam Negeri meninjau posko dan lokasi terdampak pada 30 September, kemudian Wakil Menteri Dalam Negeri datang melihat langsung kondisi lapangan pada 1 Oktober.

Rangkaian penanganan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang ditinggalkan galodo Arosuka tidak selesai ketika korban telah ditemukan atau lumpur mulai dibersihkan. Masih ada rumah yang harus dipulihkan, jalan dan jembatan yang perlu diperbaiki, lahan pertanian yang terdampak, fasilitas pemerintahan yang rusak serta masyarakat yang membutuhkan kepastian mengenai pemulihan kehidupan mereka.

Perpanjangan masa tanggap darurat hingga 12 Oktober menjadi bagian dari proses tersebut. Setelah masa tanggap darurat berakhir, penanganan akan memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dengan mempertimbangkan hasil kajian kondisi wilayah dan potensi risiko bencana berikutnya.

Bagi masyarakat terdampak, pemulihan tidak hanya berarti membersihkan material bencana dari rumah dan lingkungan. Pemulihan juga berarti memastikan warga dapat kembali menjalani kehidupan, memperoleh tempat tinggal yang aman, mengakses fasilitas publik dan memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap ancaman bencana.

Satu malam telah mengubah Arosuka. Namun, untuk memulihkan kawasan dan kehidupan masyarakat yang terdampak, dibutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Karena itu, setelah tahap pencarian dan tanggap darurat dilalui, pekerjaan berikutnya adalah memastikan proses pemulihan berjalan secara terukur, memperbaiki infrastruktur yang rusak, memulihkan kehidupan masyarakat serta memperkuat mitigasi agar risiko bencana serupa dapat ditekan pada masa mendatang. (Adinda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.