Gandang Tambua Tasa Musik Tradisi Jadi Kesenian Unik dan Menarik di Minangkabau

by
Gandang Tambua Tasa Musik Tradisi Jadi Kesenian Unik dan Menarik di Minangkabau
Sketsa Festival Gandang Tasa Kab. Padang Pariaman merupakan acara tahunan, tinta cina-2010 karya Body Dharma

Catatan : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Suatu kali saya bertanya ke sejumlah peserta didik di depan kelas ; “Kesenian tradisi apa saat ini yang masih hidup bertahan dan tetap eksis di tengah tengah masyarakat di Minangkabau jika kalian pernah membaca, menonton, melihat dari dekat atau setidaknya cerita dari orang tua tua terdahulu?”. Mereka terdiam dan banyak yang menggaruk garuk kepala, karena ketidaktahuannya. Tapi beberapa orang diantaranya ada yang menjawab ; “Saluang, rabab, dendang, sarunai dan lainnya”. Semua jawaban, benar, cuma masih ada sejumlah kesenian lain yang cukup populer di tengah tengah masyarakatnya, jawab saya.

Saya bertanya lagi kepada mereka ; “Apa kalian pernah mendengar kesenian Tambua Tasa?” Mereka menjawab serempak, tidak. Padahal mengenal kesenian secara utuh di Minangkabau baik tradisi, moderen maupun kontemporer yang ada, kalian harus banyak membaca, mencari literatur, berdiskusi dengan orang orang yang memahami kesenian, baik guru, pelaku seni, pengamat dan pemerhati seni yang ada di daerah kalian agar suatu saat kalian paham ; “betapa kaya dan beragamnya kesenian yang ada di daerah kita sebagai bagian budaya yang ada dan harus dipertahankan, dilestarikan hingga tidak luntur di makan ruang dan waktu”, papar saya.

Sketsa Gandang Tasa Bayua Maninjau, Kab. Agam dan Silek  Galombang, tinta di atas kertas, 2016 karya Body Dharma
Sketsa Gandang Tasa Bayua Maninjau, Kab. Agam dan Silek Galombang, tinta di atas kertas, 2016 karya Body Dharma

Tapi itu pulalah keterbatasan ilmu yang mereka miliki yang tak dapat kita sesali, walau tidak semua peserta didik di Sumbar tidak mengetahui kesenian tambua Tassa Mungkin saja mereka tak memperoleh ilmu secara utuh berkaitan dengan kesenian tradisional baik dalam pendidikan formal maupun non formal yang dapat dijadikan catatan penting untuk dicarikan solusi terbaik kedapan agar mereka memahami kesenian tradisional yang ada di daerahnya. Atau mungkin saja tidak tercantum dalam kurikulum berbasis budaya lokal yang setiap saat cepat berubah karena ganti kebijakan, ganti kurikulum hingga lahir istilah ganti menteri ganti kebijakan. Padahal seperti seni merupakan bagian penting identitas budaya bangsa yang harus dijaga keberlangsungannya.

Gandang Tambua Tasa Musik Tradisi

Menyoal tambua tasa dalam banyak literatur yang kita telusuri dijelaskan bahwa ; “Tambua Tasa” dapat dibagi dalam dua bagian yakni alat musik perkusi yang terdiri dari dua alat musik yaitu Gandang Tambua dan Gandang Tasa yang merupakan salah satu jenis kesenian tradisi khasnya Padang Pariaman, Pariaman Sumatera Barat yakni ; berupa alat musik perkusi yang terdiri dari dua alat musik yaitu Gandang Tambua dan Gandang Tasa. Alat musik ini dimainkan dalam group ditabuh secara terus-menurus dalam formasi terdiri dari sampai 7 (tujuh) orang penabuh yang terbagi menjadi 6 (enam) pemain Gandang Tambua dan 1 (satu) orang pemain Tasa. Gandang Tambua berbentuk seperti tabung dengan bahan yang terbuat dari kayu dengan dua permukaan kulit. Gandang Tambua biasanya dimainkan dengan cara disandang di salah satu bahu pemain dalam posisi berdiri dengan menggunakan dua pemukul tambua, semacam pemukul yang terbuat dari bahan kayu. Sedangkan tasa lebih mirip setengah bola yang hanya memiliki satu sisi kulit.

Visualisai Dalam Foto Sekelompok anak muda memainkan Gandang Tasa
Visualisai Dalam Foto Sekelompok anak muda memainkan Gandang Tasa

Musik gandang tambua tasa di Minangkabau merupakan salah satu dari sejumlah jenis musik tradisional di Minangkabau yang kini terbatas dipertontonkan, kecuali dalam acara acara tertentu. Musik gandang tassa turut memperkaya ragam budaya yang kaya nilai-nilai di dalamnya di tanah air.

Dalam catatan sejarah, tambua tasa merupakan alat musik tradisional gabungan dua alat musik tradisional seperti gandang tambua dan gandang tassa awalnya berasal dari daerah pariaman yang dibawa bangsa India salah seorang pedagang Gujarat yang berlabuh di Tiku Pariaman abad 14 Masehi. Kemudian alat musik ini tumbuh dan berkembang disetiap nagari dan desa di Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman, selanjutnya seiring berjalannya waktu kesenian ini juga menyebar hampir keseluruh wilayah Sumatera Barat

Kesenian ini menjadi warisan dari kreativitas seniman Minangkabau terdahulu sehingga memberikan wujud musik yang berbeda dengan musik tradisi lain mulai dari bentuk, ukuran, bahan yang digunakan, dan cara memainkannya.

Bentuk kedua alat musik ini sangat berbeda baik dari ukuran maupun suara yang dihasilkan. Gandang tambua berbentuk seperti tabung terbuat dari kayu ringan yaitu kayu tarantang yang dilobangi kemudian kedua sisi atas dan bawah ditutupi dengan kulit sapi atau kambing yang sudah dibersihan, selanjutnya tambua tersebut dijemur hingga permukaan kulit tadi menjadi keras sehingga ketika dipukul bisa mengeluarkan suara yang indah, kurang lebihnya tambua ini mirip dengan beduk masjid namun tambua ini berukuran kecil dengan tinggi hanya sekitar 75 cm saja dan diikatkan tali karet atau yang lainnya untuk menyandang gandang tambua. Tambua ini dipukul oleh dua kayu pemukul yang terbuat dari rotan berukuran kecil, suara yang dihasilkan oleh tambua bergantung pada tingkat kekeringan dari kulit dan ketebalan kayu tabungnya sehingga mengahsilkan bunyi yang lebih nyaring.

Lain halnya dengan bentuk gandang tasa dimana ukurannya lebih pendek dari tambua, gandang tasa berbentuk seperti kuali atau setengah lingkaran yang terbuat dari kayu, permukaannya ditutupi oleh bahan yang terbuat dari fiber dan gandang tassa juga dikaitkan dengan tali sama seperti tambua. Tassa juga dimainkan dengan dua alat pukul dari bambu dengan panjang sekitar 30 cm. bunyi yang dihasilkan dari gandang tassa ini lebih melengking dari tambua. Gandang tassa menjadi komando atau pengatur bunyi bagi gandang tambua.

Kesenian tambua tasa dimainkan dengan cara berkelompok biasanya ada lima hingga tujuh orang pemain, satu orang sebagai komando yaitu pemukul gandang tassa, empat atau enam orang sebagai pemukul gandang tambua. Bahkan kesenian ini juga bisa dimainkan oleh banyak orang namun tetap jumlah pemukul gandang tasa lebih sedikit dibanding pemukul gandang tambua. Gandang tambua dimainkan dengan cara disandang disatu bahu pemain dengan posisi berdiri kemudian pemain akan memukulkan kedua rotan ke sisi atas dan bawah mengiri gandang tasa. Berbeda dengan tambua, gandang tassa dimainkan dengan cara disandangkan keleher, posisi gandang tassa berada di bagian depan di bawah perut atau menyesuaikan dengan kenyamanan pemukulnya. Ketika memainkan kesenian tersebut pemain gandang tasa memberikan aba-aba berupa ketukan-ketukan irama, setelah itu pemukul gandang tambua barulah serentak memulai untuk memukul tambuanya masing-masing sambil mengiri gandang tassa. Dalam memainkan kesenian ini diperlukannya kekompakan setiap anggota agar menghasilkan bunyian yang indah dan meriah.

Kesenian ini bisa dimainkan oleh siapa saja baik yang muda maupun yang tua dengan riang gembira bahkan ada yang menampilkan gerakan menari penuh semangat. Penampilan ini akan sangat disenangi oleh para penikmat kesenian ini. Biasanya yang memainkan gandang tambua tasa adalah laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan jika perempuan yang mamainkannya. Hal ini karena tambua tasa sangat menyenangkan jika langsung dimainkan. Kesenian tambua tasa juga sering diiringi beberapa alat musik tradisional lainnya seperti talempong, pupuik bansi, aguang, dan lainnya.

Berkembang di Pariaman dan Padang Pariaman

Suku Minangkabau merupakan salah satu etnis yang ada di wilayah Indonesia, memiliki beranekaragam jenis kesenian tradisional. Salah satu jenis kesenian tradisional tersebut adalah seni pertunjukan musik Tambua Tasa, Alat musik ini hidup dan berkembang di daerah Pariaman. Hampir disetiap nagari di Kabupaten Padang Pariaman atau Kota Pariaman mengenal kesenian Tambua Tasa dan menjadi tradisi yang masih difungsikan dalam berbagai kegiatan upacara baik adat dan upacara keagamaan oleh masyarakat Pariaman.

Pertunjukan kesenian Tambua Tasa bertujuan untuk mengundang perhatian para pengunjung agar tercipta suasana keramain dalam berbagai upacara adat dan keagamaan seperti : (1) Upacara pengangkatan penghulu (2) Upacara penyambutan tamu agung (3) Upacara khatam Alqur’an (4) Upacara adat nagari dan (5) Upacara perkawinan

Kesenian ini berasal dari bangsa India yang dibawa oleh seorang pedagang Gujarat (India) ke Tiku Pariaman yang dulu merupakan pelabuhan terbesar di Pantai Barat Minangkabau pada abad ke 14 Masehi. Alat musik tersebut mulai berkembang di berbagai daerah di Minangkabau seperti di Maninjau dan Lubuk Basung. Faktor percampuran kebudayaan, baik akibat perkawinan maupun perdagangan antara masyarakat pribumi Minangkabau di Pariaman dengan kaum pendatang dari Asia Selatan (sekitar India, Banglades, dan Irak serta Pakistan). Artinya semenjak kedatangan orang-orang Asia Selatan tersebut terbentuk kesenian Gandang Tambua merupakan sebuah kesenian dari hasil kolaborasi atau asimilasi antara produk budaya lokal Pariaman dengan suku pendatang dari Asia Selatan. (***)

Catatan Redaksi :
Muharyadi, Pendidik, Seniman dan jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.