Catatan : Andi Muhammad Alief
JAKARA, SEMANGATNEWS.COM – Senin, 17 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB sebelum detik-detik Proklamasi Tari kolosal “Maek RI Mangkasara” tampil memukau dengan kehadiran 150 penari dari kota Makassar di Istana Negara pada perayaan HUT ke-81 RI.
Mengangkat repertoar gerak dari Pakarena, Pamanca, dan Paraga yang merupakan akar tradisi kebudayaan Makassar pementasan ini menjadi muara dari kolaborasi panjang antara kurator, penata tari, penata musik, penata rias dan busana, dan sanggar-sanggar binaan dinas kebudayaan kota Makassar dibawah arahan langsung dari kepala dinas kebudayaan kota Makassar oleh bpk. Andi Pattiware. Tari kolosal ini setidaknya menjadi bukti nyata bahwa kekayaan tradisi lokal hingga saat ini tak pernah padam.
Tulisan ini mencoba mengulas bagaimana sinergi tersebut terbangun dan mengapa narasi budaya daerah tetap menjadi pilar utama pembentukan identitas kebangsaan kita hari ini.
Adapun hasil wawancara dengan salah satu kurator tari Sulawesi Selatan Dr. Sukrin Suhardi usia 35 tahun : Karya tari kolosal Maeki Ri Mangkasara’ ini kami memperkenalkan kekayaan budaya Makassar lewat tarian pamanca’ paraga dan pakarena, mengapa? Karena ketiganya mempunyai karakter yang berbeda-beda dan ini ketika secara artistik digabung intinya akan menghasilkan sebuah karya yang akan kembali lagi bahwa bagaimana Masyarakat se-Indonesia bisa melihat tentang banyaknya kekayaan budaya di kota Makassar.
Seperti kita ketahui : Pakarena itu sendiri merupakan tarian yang menggambarkan nilai keanggunan, ketangguhan dan kedisiplinan wanita Makassar, sedangkan ‘Pamanca’ merupakan bela diri yang memiliki makna ketangkasan, bagaimana seorang laki-laki Makassar sigap dan tangkas. Kemudian Paraga dilakukan oleh laki-laki dari Makassar yang memiliki nilai kerja sama dan solidaritas.
Dalam tarian ini tidak mencoba untuk mengubah atau keluar dari setiap pakem ketiga unsur tersebut sehingga dalam tarian ini hanya mencari idiom-idiom dari ketiga unsur pakarena, pamanca dan paraga. Dalam hal ini penampilan tari kolosal “Maeki ri Mangkasara'” dikemas ulang dalam konteks seni pertunjukan/entertainment sehingga tarian ini mencoba masuk kedalam euforia HUT ke-81 Republik Indonesia. Garapan dalam tarian ini terdapat level dan ruang penari yang sangat banyak (150 Orang) dengan jumlah tersebut tarian ini dikemas sehingga menjadi satu kesatuan antara pakarena, pamanca’ dan paraga
Sinergi antara pemerintah Kota Makassar dan Provinsi Sul-Sel, pemerintah provinsi Sul-Sel memfasilitasi akomodasi dengan menginap di taman mini indonesia indah selama 9 hari sedangkan pemerintah kota Makassar khususnya dinas kebudayaan dan dinas pariwisata kota makassar memfasilitasi kepenarian/ pemusik mulai dari menyiapkan kostum aksesoris dll. kemudian memfasilitasi adek-adek perwakilan selama latihan di kota Makassar.
Materi yang dibawa ke istana negara pertemuan antara tari pakarena, pamanca dan paraga yang merupakan akar tradisi budaya Makassar, kali ini yang diangkat adalah budaya Makassar terutama tari pakarena tetapi tari pakarena yang telah digarap menyesuaikan perkembangan zaman yang diatur sedemikian rupa menyesuaikan dengan keinginan penata tari dan kurator. Sedangkan tari pamanca’ diolah dan dikembangkan serta dikoreoi oleh: Dr. Sukrin Suhardi dan Andi Muhammad Fathir, S.Sn sehingga menjadi sebuah seni pertunjukan dan paraga yang dibina langsung oleh Anwar dan Sukri sehingga menjadi kolaborasi yang spektakuler di lapangan istana kepresidenan republik indonesia. Penata rias dan busana; Fadliany Nur Alim, S.Sos, Sukri dan Anwar.
Adapun penata musik yang digarap langsung oleh Andi Muhammad Alief, S.Pd. yang saat setelah pertunjukan ini ia kembali menempuh pendidikan S2 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Musik dalam iringan tari kolosal ini diteliti terlebih dahulu sebelum diterapkan sehingga sajian musik iringan tari tidak lepas dari antara yang estetika dan etika. Kurator pusat; Dr. Dr. Eko Supriyanto dan untuk pendamping ada Andi Musliadi, Muhammad Ali, dari kota Makassar ada Anwar dan Taufik Ismail dan dari dinas kebudayaan ada Ajeng Triani Syam, Jeane Kumaat, Andy Triawan, Ainul Damayanti, M. Yusri, Andri Saslim dan A. Alfatiyah Alya.
Pada akhirnya, pencapaian luar biasa ini menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan daerah yang adaptif dan dikelola secara profesional mampu menjadi pilar kokoh dalam memperkuat identitas kebangsaan Indonesia di panggung tertinggi negara. Pementasan ini menjadi upaya dalam penyajian seni pertunjukan di acara kenegaraan khususnya HUT Ke-81 Republik Indonesia di Istana Negara pada hari senin 17 Agustus 2026 (*)
Catatan Redaksi
Andi Muhammad Alief ; Komposer, Praktisi dan Peneliti dan Mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Program Penciptaan Seni Musik
Tim Kesenian Kota Makassar, 2026

