Catatan : Muharyadi
SEMANGATNEWS.COM – Masih segar dalam ingatan, pelukis dan maestro sketsa Indonesia “urang awak” Ipe Ma’roef yang menggelar pameran tunggal di Ruang Garasi, Jalan Gandaria IV Nomor 2, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan sejak 15 hingga 23 Desember 2023 silam diprakarsai pelukis wanita terkemuka, Kana Fuddy Prakoso, ternyata bukan hanya sosok seniman yang tampil sederhana, tetap eksis berkarya di usia tuanya.
Baca Juga : Pameran Bertajuk Tanggal Merah di Gelar Sejak 1 sd 4 Mei 2025 di Yogyakarta
Pameran di ruang Garasi merupakan kegiatan kesekian kalinya diikuti bagi Ipe Ma’roef. Pameran tunggal pertamanya berlangsung Pameran tunggal USIS Jakarta (1958), berikutnya di Bentara Budaya Jakarta (1995), di TIM Jakarta (2006), di Ruang Garasi, Jakarta Selatan (2023), dan sedereran pameran lainnya bersama Soemartono di Balai Budaya Jakarta pada 28 Mei sampai 2 Juni 1980, serta pameran bersama di TIM Jakarta dan Surabaya.

Ipe Ma’roef bernama lengkap Ismet Pasha Ma’aroef, lahir di Banda Olo, Padang, Sumatera Barat, 11 November 1938 merupakan sedikit seniman seni rupa Indonesia angkatan 60-an yang dalam perjalanan kariernya tetap eksis untuk berkarya dan berkarya lagi.

Selain melukis sejak tahun 1960 an, ia pun banyak membuat karya-karya sketsa memakai alat alat gambar sederhana seperti pena dan tinta, bahkan pensil sekalipun.
Ia pun ditulis sebagai salah satu seniman sketsa Indonesia paling konsisten dikenal publik tak lain adalah Ipe Ma’aroef, selain Affandi, Sudjojono, Zaini, Henk Ngantung, Sudjono Kerton.

Kini mendekati usia 87 tahun, selama ini karya-karyanya telah banyak beredar diberbagai buku dan majalah, seperti Horison, Budaya (1959 -1960), Harian Karya Dharma (1990), Mimbar, Tempo (1991), Gatra (1999 – 2022), Siasat dan banyak lagi.
Di usia tua Ipe Ma’aroef, kesederhanaan hidupnya tak berbanding lurus dengan kekuatan garis-garisnya menyiratkan kekuatan fisik dan spirit jiwanya yang tetap berbahagia.

Dibalik karya karyanya Ipe Ma’aroef terlihat menelisik hal-hal yang luput dari apa yang sudah kita kenali selama ini. Sebagai seorang sketser sekaligus pelukis ia memiliki naluri artistik, estetik, empatik dan humanistik yang diwujudkannya secara representatif.
Kita juga mencatat, seniman sketsa Indonesia paling konsisten dikenal publik tak lain adalah Ipe Ma’aroef, selain Affandi, Sudjojono, Zaini, Henk Ngantung, Sudjono Kerton dan lainnya. Karya-karyanya banyak beredar diberbagai buku dan majalah, seperti Horison, Budaya (1959 -1960), Harian Karya Dharma (1990), Mimbar, Tempo (1991), Gatra (1999 – 2022) dan Siasat.
Sebagaimana kita telusuri dari berbagai sumber : bahan bahan yang sederhana Ipe berusaha menampilkan gaya dan karakternya sebagai seorang sketser. Garisnya hidup, tarikkannya lentur, seakan seperti tarikan nafasnya yang panjang. Kekuatan garisnya menyiratkan kekuatan fisik dan spirit jiwanya yang berbahagia. Ipe tidak mempedulikan apa kata orang dan kepada siapa orang yang diajak berkomunikasi.
Maestro Ipe Maa’ruf yang kini bermukim di Jalan Swadaya 3 No. 35 RT. 05 RW 02 Kel. Pondok Ranggon, Kec. Cipayung Jakarta Timur dalam perjalanannya pernah menjadi ilustrator freelance dibeberapa majalah di Indonesia diantara, majalah Gadis, Femina, Kawanku dan Pustaka Jaya dan majalah si Kuncung.
Ipe Ma’roef yang pernah belajar dengan pelukis S. Sudjojono dan Affandi dikenal sebagai seniman sketsa berkat kemahirannya menangkap bentuk dan suasana disebabkan kebiasaannya membuat sketsa di mana pun ia berada misalnya di pasar, di jalan bahkan di atas kereta dan diberbagai kesempatan lainnya.
Atas anjuran Affandi ia belajar di ASRI Yogyakarta. Karena kesulitan biaya untuk belajar, Ipe lalu bertualang ke Bali mencoba hidup mandiri memperdalam seni lukis. Sambil bekerja sebagai disainer keramik. Ipe sempat kuliah di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung
Karya-karyanya dijadikan bahan dokumentasi sejarah dalam ranah visual rupa. Ia pun masih terus berjalan dan membuat sketsa apa saja yang membuat hatinya suka. Gunung, pohon, pasar, sosok, pohon hingga pemandangan alam dan sesuatu yang abstrakpun dibuatnya.
Garis sketsa Ipe Maaruf seolah tarikan nafas panjang sekali tarik dalam membentuk apa yang digambarkannya. Garisnya lentur hidup memiliki kekuatan yang menunjukkan karakternya. Ipe akan terus menarik garis sampai dirinya merasa cukup dan menganggap selesai. Apa yang dilakukannya tak sebatas menarik garis namun seolah juga menangkap rasa dan jiwa atas apa yang di gambarnya. Ipe memiliki kekuatan garis garis sketsanya. Ipe sebagai maestro. Karyanya diakui di mana mana. Dikoleksi di berbagai lapisan masyarakat.
Tangannya dengan lincah terus bergerak ke kanan ke kiri ke atas ke bawah, sesekali memandang apa yang sedang dibuatnya. Matanya yang tajam menangkap titik titik penting untuk ditorehkan. Sketsanya beragam kadang ia warnai dengan warna warni. Yang menunjukkan keceriaan dan keriangan jiwanya. Garis garisnya menunjukkan perjalanan, ia suka berjalan ke mana saja. Apa saja yang ditemuinya dan dianggap menyentuh hati akan di gambarnya. Garis lurus, lengkung membuat suatu ceritera atau alur peristiwa.
Memahami karyanya seperti diajak dialog dan menelusuri lorong lorong ruang dan waktu yang ada di gambarnya. Ipe sendiri kadang tidak menyadari atas apa yang dibuatnya ia biarkan semua mengalir apa adanya. Ia tidak berupaya merekayasa bentuk dalam berkarya.
Hal yang menarik lagi, bukan materi yang dikejarnya namun bagaimana ia terus mengisi lorong hidup dan waktunya dengan karya karyanya. Tak heran melihat ipe bahagia walau di usia senja dan hidup dalam kesederhanaan. Itulah jiwanya yang perkasa sebagai maestro yang terus meniti dan menjalani hidup berkeseniannya melalui garis garis di sketsanya. Kemudian Ipe tidak mempedulikan apa kata orang dan kepada siapa orang yang diajak berkomunikasi. Tatkala hatinya suka ia akan menemukan suatu resonansi jiwa.
Ipe tidak membedakan pangkat derajat golongan ia sebagai maestro mau mendatangi anak anak muda seniman jalanan dan memberikan spirit berkarya. ”hasilkan karya yang bagus kerjakan dengan sepenuh hati” katanya suatu kali.
Ipe bersahaja dan gaya hidupnya sederhana, berjalan kaki menjadi pengembaraan berkeseniannya. Ia membuat sketsa apa saja yang menyentuh hatinya. Ia bisa berimajinasi tidak hanya menggambarkan apa yang dilihatnya tetapi juga apa yg dirasakannya. Ipe tetap konsisten dari tahun ke tahun. Karyanya tersebar dimana-mana disemua lapisan.
Ipe mengungkapkan sketsa tentang hidup dan kehidupan yang membuatnya senang maka karyanyapun mengalir sempurna demikian sebaliknya. Ia mengatakan dirinya tak bisa dipaksa atau memaksakan diri berkarya. Dan Ipe akan melakukan tatkala ada getar hati atau ada dialog antara indera dengan jiwanya. Kekuatan sketsa ipe yang luar biasa perlu diberi ruang dan apresiasi yang setinggi tingginya. Apa yg telah dirintis dan ditorehkan merupakan sejarah panjang akan hidup dan pengalaman hidup sepanjang perjalanannya.
Kini di usia tuanya, Ipe Maaruf suaranya terdengar makin pelan, namun spirit jiwa dan semangatnya tetap saja terus berkobar. Tak heran kalau ia masih enerjik dan ingatannya pun masih tajam. Ia terus melakukan studi, “seni itu hidup dan terus digali didalami untuk dapat menemukan hal hal yang hakiki”, ujar Ipe suatu kali.
Sketsa-sketsa yang digelutinya, ia juga ada kalanya menyiapkan sketsa sebuah lukisan. Harapannya mungkin bisa melukis dalam jumlah besar, tapi dalam kondisi hidupnya yang sederhana memproduksi lukisan menjadi barang yang mahal secara material. Kebiasaannya membawa peralatan gambar dan memburu obyek inilah ia dikenal sebagai sketser ulung, presisi dalam menangkap dan menghayati obyek.
Dalam pameran tunggal di ruang Garasi, 2023 silam sejumlah lukisan yang diikutsertakan merupakan karya-karya lama Ipe Ma’aroef yang dikoleksi oleh anaknya sendiri “Amar” yang memang belum pernah dipamerkan.
Dalam pengakuan Amar lukisan tersebut ia koleksi dari ayahnya sebagai wujud kecintaan terhadap karya-karya ayahnya atau sebagai bentuk balas budi dan baktinya terhadap ayah.
Karya-karya ini lebih cenderung merepresentasikan sisi humanistik Ipe dengan citra dan ekspresi yang emosional dibanding ketika ia mulai memutuskan meninggalkan gambar figur manusia. Perubahan visual tampak dalam karya-karyanya saat ini, bertema alam imajinatif, bahkan mengabstraksikan alam tanpa kehilangan greget estetika di dalamnya. (***)
Catatan Redaksi :
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa dan Jurnalis tinggal di Padang
