Lukisan Kaligrafi Karya Harisman Berdakwah “Tentang Orang Yang Tuli”

by -
Lukisan Kaligrafi Karya Harisman Berdakwah “Tentang Orang Yang Tuli”
Pelukis Harisman

Catatan Kecil : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Harisman mungkin sedikit diantara pelukis kaligrafi Islam yang ada di Sumatera Barat yang tetap eksis berkolaborasi untuk berkarya, berpameran dan berkarya lagi sebagai penjelajahan kreativitasnya guna mencapai kaidah-kaidah artistik di setiap karya yang lahir di tangannya sebagai seorang seniman muslim.

Baca Juga : Pameran KaNa Fuddy Prakoso di Yogyakarta, Kardus Jadi Ruang Komunikasi di Karyanya

Betapa tidak, pelukis kelahiran Kerinci, 1 Januari 1963 yang juga dosen ISI (Institut Seni Indonesia) Padang Panjang itu dalam beberapa kali kegiatan pameran baik di Sumatera Barat maupun di sejumlah tempat di Indonesia namanya sering tercatat sebagai peserta pameran. Ia sangat mencintai dan menekuni dunia seni lukis kaligrafi Islam dalam kesehariannya, di luar kegiatan rutinnya mengajar di kampus.

Harisman, Tentang Orang Yang Tuli, Aklilik, 80 x 80 cm, 2024
Harisman, Tentang Orang Yang Tuli, Aklilik, 80 x 80 cm, 2024

Satu diantara sejumlah karyanya yang berjudul “Tentang Orang Yang Tuli, Aklilik, 80 x 80 cm, 2024 dalam kegiatan pameran Visual Arts In Diversity yang digelar di Batam Kepulauan Riau 19 sd 21 November 2024 silam menarik untuk disimak dan ditelusuri karena secara tersirat mengandung makna yang mendalam perihal makhluk hidup di muka bumi ini.

Harisman melalui karyanya dengan warna warna dan garis penuh ritme itu mengutip Surat ke 8, An`Anfal : 22 bahwa ; Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.

Diantara Lukisan Kaligrafi Islam Karya Harisman
Diantara Lukisan Kaligrafi Islam Karya Harisman

Dalam kandungan ayat ini secara tidak langsung dapat kita tangkap ada sindiran untuk orang-orang yang mendengar tuntunan agama tetapi enggan mengamalkannya, yaitu dengan mengingatkan bahwa sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk, termasuk manusia, dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli, sehingga tidak dapat mendengar tuntunan dan memahami kebenaran, dan bisu sehingga tidak dapat berbicara, yaitu orang-orang yang tidak mengerti. Mereka memang tidak mau mendengar, mengatakan, dan memikirkan yang benar.

Di surat Al-Anfal Ayat 22 Allah berfirman ”sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah” yakni orang-orang yang peringatan dan ayat ayat Allah tidak berguna bagi mereka dan mereka “ialah orang orang yang tuli” dari mendengar kebenaran, ”dan bisu” dari menyuarakan kebenaran, ”yang tidak mengerti apa apa” yang bermanfaat bagi mereka dan terpengaruh dari apa yang merugikan mereka.

Mereka itu lebih buruk di sisi Allah daripada binatang yang buruk, karena Allah telah memberi mereka pendengaran, penglihatan, dan hati agar digunakan dalam ketaatan kepadaNya, tetapi mereka menggunakannya untuk bermaksiat kepadaNya. Dengan itu mereka banyak kehilangan kebaikan.

Dan mereka berada di ujung jalan yang membawa mereka untuk menjadi makhluk mulia, tetapi mereka menolak jalan itu dan mereka malah memilih menjadi manusia yang buruk. Pendengaran yang dinafikan oleh Allah dari mereka adalah pendengaran yang berpengaruh kepada hati. adapun pendengaran yang merupakan hujjah maka ia telah tegak atas mereka dengan ayat-ayatNya yang mereka dengar.

Beralasan di luar nilai artistik dan estetik karya diolah Harisman ini dalam kerja lukis melukis yang ditekuninya, ia punya dasar pertimbangan menyuarakan pesan kepada umat muslim di muka bumi ini melalui Surat ke 8, An`Anfal : 22, yakni memberikan sesuatu pesan guna memberikan motivasi kepada penikmat sekaligus meneruskan adat kebiasaan untuk menciptakan dan meneruskan makna kehidupan masyarakat dalam bentuk imajinatif yang memuat persoalan ”estetis”, ”artistik” hingga ke persoalan ”etis” dengan kaligrafi Arab melalui ayat Al Qur”an dengan kaidah kaidah artistik. Sekaligus merupakan bentuk pesan melalui lukisan kaligrafi dan menjadi media ”dakwah” Islamiyah yang menyentuh kalbu manusia sesuai fitrahnya agar menjalani kehidupan menurut petunjuk ilahi.

Karya Harisman tidak semata hanya memindahkan kaligrafi arab ka kanvas samata dan langsung jadi, tapi juga disertai pemahaman seni lukis sacara fisik maupun non fisik diperkuat pemahaman dan penguasaan isi Al Qur’an dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya, sebagaimana isi pesan lukisan karya Harisman ini.
Sebagaimana deskripsi karya ini dapat kita simak bahwa : Ayat Suci Al-Qur`an sebagai inspirasi menuangkan ide gagasan, mentransfer nilai dan makna melalui bentuk-bentuk estetis ke ruang penghayat sebagaimana makna dari karyanya.

Harisman yang telah malang melintang berkarya lebih tiga dekade silam dan berpameran secara kolektif di sejumlah tempat di tanah air bahkan ke negeri Jiran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari nafas perkembangan seni lukis kaligtafi Islam yang ada di Sumatera Barat bersama sejumlah pelukis lain seperti Amir Syarif, AM. Y. Dt. Garang, Irhash A. Shamad, Ade Setiawan dan sejumlah nama lainnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.